Memakan Pete dan Jengkol dalam Islam, Benarkah Makruh?

0
30

BincangSyariah.Com – Di antara jenis makanan yang banyak disukai oleh orang Indonesia adalah pete dan jengkol. Selain enak, kedua jenis makanan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Namun demikian, kedua jenis makanan juga memiliki bau yang menyengat dan tidak sedap sehingga ada sebagian orang yang menghukumi makruh mengkonsumsi kedua jenis makanan ini. Namun benarkah makruh memakan pete dan jengkol dalam Islam?

Menurut para ulama, mengkonsumsi makanan yang memiliki bau yang menyengat dan tidak sedap, seperti bawang putih, bawang merah, pete, jengkol dan sebagainya, hukumnya makruh bila memakan jenis makanan ini ketika hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat.

Hal ini karena memakan jenis makanan yang memiliki bau yang menyengat dan tidak sedap akan rentan terjadi iza’ atau menyakiti dan mengganggu jamaah lain yang hendak beribadah. Selain rentan mengganggu kenyamanan jamaah lain yang hendak beribadah,  juga bisa mengganggu para malaikat yang berada di dalam masjid.

Sementara bagi orang yang tidak hendak pergi ke masjid, atau waktu pergi ke masjid untuk shalat berjemaah di masjid masih lama, makan mengkonsumsi jenis makanan yang memiliki bau yang menyengat dan tidak sedap seperti bawang putih, pete dan jengkol dan lainnya hukumnya tidak makruh.

Hal ini karena menurut Imam Ahmad, kemakruhan memakan jenis makanan yang memiliki bau yang menyengat dan tidak sedap bukan karena makanan itu sendiri, melainkan karena hendak pergi ke masjid. Sehingga bagi orang yang tidak hendak pergi ke masjid atau waktu pergi ke masjid masih lama, maka boleh dan tidak makruh memakan pete, jengkol dan lainnya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

Siapa yang makan bawang merah dan bawang putih serta daun bawang, hendaknya jangan mendekati masjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu sebagaimana anak Adam merasa terganggu.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah disebutkan bahwa Imam Ahmad berkata dalam menjelaskan hadis ini sebagai berikut;

وَصَرَّحَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَنَّ الْكَرَاهَةَ لأِجْل الصَّلاَةِ فِي وَقْتِ الصَّلاَةِ

Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa kemakruhan (bawang merah dan bawang putih serta daun bawang) karena hendak melaksanakan shalat di waktu shalat.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here