Hukum Memakan Hewan Menjijikkan Menurut Ulama 4 Mazhab

0
20

BincangSyariah.Com – Memakan hewan yang menjijikkan menjadi salah satu pembahasan dalam fikih. Hewan yang haram dimakan itu ada karena unsur zatnya. Salah satu binatang yang haram karena zatnya yang masih diperselisihkan oleh para ulama fikih adalah binatang yang memiliki kuku dan jinak, seperti kuda, bagal, dan himar. Menurut jumhur ulama fikih, himar dan bagal adalah haram. Sedangkan kuda adalah halal menurut mazhab asy-Syafi‘i, Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad, dan kelompok ulama lain. Mazhab Hanafi dan kelompok ulama lain berpendapat bahwa kuda adalah haram (Imam Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, 1415 H., II: 517- 518).

Adapun mazhab Maliki terbagi menjadi dua, yaitu: pendapat yang paling masyhur mengatakan bahwa kuda, himar, dan bagal adalah haram, dan pendapat lain mengatakan bahwa memakan daging himar dan bagal adalah makruh dan daging kuda adalah halal (Syekh ‘Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba‘ah, 2011, II: 5-6).

Hukum Memakan Daging Hewan yang Diperintah Dibunuh di Bumi Haram

Beberapa binatang yang diperintah dibunuh di tanah Haram adalah: gagak, rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing yang galak. Menurut mazhab asy-Syafi‘i, Rasulullah saw. memerintah untuk membunuh kelima binatang tersebut dan melarang membunuh beberapa binatang lain yang dihalalkan. Dalam hal ini, alasan kelima binatang tersebut harus dibunuh di bumi Haram (sebagaimana perintah Rasulullah saw.) karena haram dimakan.

Sementara mazhab Maliki, mazhab Hanafi, dan sebagian besar sahabat mereka berpendapat bahwa alasan kelima binatang itu harus dibunuh di tanah Haram karena menyerang manusia, bukan karena haram dimakan (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 519).

Hukum Memakan Hewan Menjijikkan

Beberapa jenis hewan menjijikkan adalah serangga, katak, ketam, kura-kura, kalajengking, ular, tikus, semut, dan lebah. Menurut mazhab asy-Syafi‘i, hewan menjijikkan adalah haram, dan menurut ulama lain adalah boleh (halal). Selain itu, sebagian ulama hanya memakruhkan memakan hewan menjijikkan (hlm. 519- 520 dan Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuhu, 1985, III: 508).

Perbedaan para ulama fikih tentang binatang yang menjijikkan ini disebabkan oleh perbedaan memahami ayat: “dan mengharamkan segala yang buruk (al-khaba’its) bagi mereka (al-A‘raf (07): 157).”

Menurut sebagian ulama, kata al-khaba’its itu merujuk kepada binatang yang haram dimakan yang sudah ditentukan dalam nas agama. Oleh karena itu, binatang yang menjijikkan adalah halal selama binatang tersebut tidak disebutkan dalam nas sebagai bagian dari binatang yang haram dimakan. Sementara ulama lain berpendapat bahwa makna kata al-khaba’its itu adalah binatang yang menjijikkan. Sehingga semua binatang yang menjijikkan adalah haram dimakan (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 520).

Hukum Memakan Serangga Menurut Mazhab Maliki

Kalangan mazhab Maliki berpendapat bahwa serangga halal dimakan asalkan disembelih terlebih dahulu, seperti katak, kumbang, kecoa, sejenis belalang, semut, ulat, dan tungau. Begitu pula dengan ular, di mana umat Islam boleh memakan ular yang sudah tidak memiliki bisa lagi, seperti membuang bagian kepalanya (al-Fiqh al-Islamiyy, hlm. 507-508).

Di sisi lain, para ulama mazhab Maliki sepakat bahwa haram memakan binatang yang memudaratkan. Oleh karena itu, menurut mazhab Maliki, memakan serangga yang memudaratkan adalah haram. Namun, apabila serangga tersebut tidak memudaratkan, dan tidak merasa jijik untuk memakannya, maka ia halal dimakan. Dalam hal ini, apabila seekor ular dibuang kepalanya atau kalajengking dibuang ekornya (sehingga bisanya tidak ada lagi), maka ia boleh (halal) dimakan selama tidak jijik dan tidak pula memberikan kemudaratan. Begitu pula dengan serangga yang lain (Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba‘ah, hlm. 7).

Sementara sebagian mazhab Maliki berpendapat bahwa serangga adalah haram dimakan, karena termasuk binatang yang buruk dan menjijikkan (al-khaba’its). Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, memakan serangga adalah halal. Namun demikian, serangga itu boleh dimakan apabila disembelih terlebih dahulu. Adapun cara menyembelih serangga tersebut adalah menggunakan sesuatu yang bisa membunuhnya, seperti api, air panas, gigi, dan lain sebagainya (hlm. 7).

Hukum Memakan Binatang Laut yang Tidak Berupa Ikan

Syekh ‘Abdurrahman al-Jaziri menyebutkan bahwa semua binatang laut adalah halal. Meskipun tidak berupa ikan, semua binatang laut tetap halal. Ini seperti berupa babi (babi laut), manusia (putri duyung), dan ular (belut), dan berbagai macam jenis ikan lainnya. Binatang laut yang tidak boleh kita mengonsumsinya hanyalah buaya.

Sedangkan kalangan mazhab Maliki berpendapat bahwa semua binatang laut adalah halal tanpa terkecuali (hlm. 8-9). Oleh karena itu, pendapat yang muktamad dalam mazhab Maliki mengatakan bahwa babi laut dan anjing laut boleh (halal) kita mengonsumsinya (al-Fiqh al-Islamiyy, hlm. 507-508). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here