Keutamaan Memakai Surban atau Peci di Hari Jumat

1
1071

BincangSyariah.Com – Ketika kita melaksanakan shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, kita dianjurkan untuk menutup kepala. Bagi masyarakat muslim Nusantara, umumnya mereka menggunakan peci atau songkok saat shalat, kadang peci berwarna hitam, putih dan warna lainnya. Sementara kebiasanaan masyarakat Arab dalam menutup kepala adalah dengan surban, dari zaman Nabi Saw hingga sekarang.

Meski memakai surban atau peci ini disunnahkan dalam setiap melaksanakan shalat, namun menggunakannya saat melaksanakan shalat Jumat memiliki keutamaan khusus dan lebih dibanding shalat-shalat lainnya. Ini tentunya karena disebabkan hari Jumat merupakan sayyidul ayyam, dan shalat Jumat merupukan afdhalu shalatil jamaah atau shalat berjemaah yang paling utama dibanding shalat-shalat berjemaah yang lain.

Dalam kitab Lubabul Hadis, Imam Suyuthi menyebutkan tiga keutamaan menggunakan surban atau peci saat melaksanakan shalat Jumat.

Pertama, mendapatkan rahmat Allah dan doa istighfar dari para malaikat. Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Thabrani dari Abu Al-Darda’, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَصْحَابِ الْعَمَائِمِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.

Sesungguhnya Allah Ta’ala dan malaikat memberi shalawat (rahmat dan istighfar) atas orang-orang yang menggunakan surban di hari Jumat.

Kedua, secara khusus para malaikat memintakan ampunan kepada orang yang menggunakan surban di hari Jumat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda;

صَلَّتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى الْمُتَعَمِّمِيْنَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Para malaikat memintakan ampunan untuk orang-orang yang menggunakan surban di hari Jumat.

Ketiga, dua rakaat shalat Jumat dengan  menggunakan surban lebih baik dibanding tujuh puluh rakaat shalat Jumat tanpa menggunakan surban. Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Dailami dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

Baca Juga :  Ini Cara Mempraktikkan Pasrah pada Allah Sesungguhnya

رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلاَ عِمَامَةٍ

Dua rakaat dengan menggunakan surban lebih utama dibanding tujuh puluh rakaat dengan tanpa menggunakan surban.

Dengan demikian, agar kita mendapatkan keutamaan menggunakan surban atau peci, maka kita harus berusaha menggunakan surban atau peci saat melaksanakan shalat Jumat secara berjemaah di masjid. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. Tujuh Puluh Rakaat

    Ada beberapa Hadis yang berkaitan dengan keutamaan memakai surban pada waktu shalat itu. Salah satunya ialah Hadis:

    رَكْعَتَانِ بِعِمامَةٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِلا عمامة

    Dua rakaat dengan memakai surban lebih bagus daripada tujuh puluh rakaat tanpa memakai surban.

    Menurut Imam al-Suyuthi dalam kitabnya al-Jami’ al-Shaghir, Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Dailami dalam kitab Musnad al-Firdaus.[1] Imam al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir, sebuah kitab syarah (penjelasan) atas kitab al-Jami ai-Shaghir, mengatakan bahwa Hadis ini semula diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim al-Ishfahani, dan dari­ padanya Imam al-Dailami meriwayatkan Hadis itu. Karenanya, begitu lanjut al-Minawi, seandainya Imam al-Suyuti menisbatkan Hadis itu kepada Imam Abu Nu’aim tentu hal itu lebih baik.[2]

    Untuk mengetahui sanadnya lebih kongkrit, Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani pernah mencari Hadis itu lewat kitab al-Bughyah fi Tartib Ahadits al-Hilyah, yaitu kitab fihris (indeks) untuk Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Hilyah al-Auliya. Kitab al-Bughyah ini ditulis oleh Syeikh Muhammad bin al-Shadiq al-Ghimari, dan ternyata Syeikh al-Albani tidak menemukan Hadis itu.[3]

    Kami juga mencoba mencarinya melalui kitab fihris yang lain, yaitu kitab fihris Hadis-hadis Hilyah al-Auliya yang ditulis oleh Abu Hajir al­-Sa’id bin Bas’yuni Zaghlul, dan ternyata kami juga tidak menemukan hadis itu. Wallahu A’lam, boleh jadi Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim dalam kitab beliau yang lain.

    Hadis Palsu

    Imam al-Suyuthi menuturkan bahwa Hadis tadi itu kualitasnya dhaif (lemah),[5] tanpa menyebutkan alasan kedhaifannya. Sementara Imam al-Minawi menyebutkan bahwa kelemahan Hadis ini karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Thariq bin Abd al-Rahman yang oleh al-Dzahabi dimasukkan ke dalam rawi-rawi yang dhaif. Imam al-Nasai juga menilai Thariq bin Abd al-Rahman sebagai rawi yang tidak kuat. Bahkan al-Sakhawi menegaskan, Hadis ini La yatsbut (tidak shahih).[6]suatu istilah yang juga berarti Hadis palsu.

    Syeikh al-Albani juga menegaskan bahwa Hadis ini maudhu (palsu).[7] al-Albani menukil pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal, ketika beliau ditanya orang tentang seorang rawi yang bernama Muhammad bin Nu’aim, yang meriwayatkan Hadis dari Suhail dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw, bahwa shalat memakai surban itu lebih utama tujuh puluh kali dibandingkan shalat tanpa memakai surban, beliau menjawab, “Dia itu pendusta dan Hadis itu batil”.[8]

    Pernyataan Imam al-Suyuti bahwa Hadis tersebut dhaif, tidaklah bertentangan dengan pernyataan ulama lain yang menyatakan bahwa Hadis itu palsu, sebab dalam disiplin ilmu Hadis, Hadis palsu itu adalah bagian dari Hadis dhaif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here