Memakai Kuku Palsu, Apakah Harus Dilepas Saat Wudhu?

0
37

BincangSyariah.Com – Di antara tujuan seseorang memakai kuku palsu adalah untuk memperindah tampilan kuku jari tangannya. Biasanya, ini dilakukan oleh kalangan remaja perempuan. Ketika seseorang memakai kuku palsu, apakah dia harus melepasnya ketika hendak melakukan wudhu? (Baca: Hukum Memakai Kuku Palsu, Benarkah Haram?)

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa kuku termasuk bagian anggota yang wajib dibasuh ketika wudhu. Jika ada bagian kuku yang tidak terkena air ketika wudhu, baik karena terhalang oleh minyak, lem, cat, dan lainnya, atau terhalang oleh kuku palsu, maka hukum wudhunya tidak sah.

Dalil Harus Melepas Kuku Palsu Saat Wudhu

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib berikut;

ويجب غسل شعر على اليدين ظاهرا وباطنا وان كثف لندرته وغسل ظفر وان طال

Dan wajib membasuh rambut yang tumbuh di kedua tangan, baik bagian luar dan dalam, meskipun rambut tersebut tebal karena hal itu jarang terjadi. Juga wajib membasuh kuku meskipun panjang.

Oleh karena itu, terkait hukum melepas kuku palsu ketika wudhu, maka perlu dilihat. Jika kuku palsu tersebut bisa menghalangi sampainya air pada kuku asli, maka kuku palsu tersebut wajib dilepas.

Hal ini karena jika kuku aslinya tidak terkena air ketika wudhu, maka wudhunya tidak sah. Karena yang wajib dibasuh adalah kuku aslinya, dan tidak cukup hanya diwakili oleh kuku palsunya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِينٌ أَوْ حِنَّاءٌ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ فَمَنَعَ وُصُولَ الْمَاءِ إلَى شَيْءٍ مِنْ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ أَكَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ

Jika pada anggota tubuh seseorang terdapat minyak, tepung, henna, atau lainnya dan mencegahnya sampainya air pada anggota tubuh tersebut, maka bersucinya tidak sah, baik hal itu banyak atau sedikit. Jika yang tersisa pada tangan dan lainnya hanya bekas dan warna henna, bukan bendanya, atau bekas minya yang cair, dan air menyerap pada kulit dan mengalir di atasnya, maka bersucinya dinilai sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here