Memakai Batik Sebagai Identitas Budaya Ada Dasarnya di Sunnah

0
1394

BincangSyariah.Com – Menguatnya semangat beragama yang tinggi dari masyarakat muslim Indonesia bisa dilihat dari mengubah seluruh gaya hidup yang “lebih Islami”. Gerakan hijrah menjadi penanda momentum fenomena ini. Boleh dibilang, banyak mayarakat mulai kurang yakin atas kehidupannya jika belum ada label yang terlihat “lebih Islami”. Mulai dari perumahan syariah, bank syariah, hotel syariah, hingga pakaian syar’i.

Fenomena ini direspon dengan baik oleh industrialis. Mereka, para pengusaha, dengan cerdas melihat fenomena keagamaan sebagai lahan baru untuk mengeruk keuntungan. Para pengusaha pakaian misalnya, mulai ramai-ramai mem-framing mana pakaian yang muslim dan mana yang tidak. Sehingga mulai ada garis demarkasi antara pakaian yang Islami dengan yang dianggap tidak Islami. Parahnya, anggapan ini kemudian bisa menyerang kepada pakaian-pakaian yang telah menjadi adat dan budaya masyarakat Indonesia.

Agama, Islam sebenarnya tidak memiliki batasan untuk mengidentifikasi pakaian sebagai identitas keagamaan. Andai saja Islam memiliki identitas pakaian yang mencirikan Islam tentu nabi Muhammad yang diutus sebagai rasul memerintahkan umat Islam untuk memakai pakaian yang berbeda dengan masyarakat Arab Jahiliyah pada saat itu. Akan tetapi, tidak demikian yang terjadi, nabi Muhammad justru tetap mengenakan pakaian yang sama seperti masyarakat Arab pada umumnya.

Pakaian dalam Islam dengan demikian tidak memiliki stempel identitas keagamaan. Bahwa kemudian Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia mulai bangun tidur hingga tidur kembali itu benar. Islam mengatur pakaian yang layak untuk dijadikan pakaian itu benar, tapi Islam tidak mengklaim atau mengkategorikan selembar kain menjadi pakaian muslim dan non muslim.

Dalam Al-Quran misalnya, tidak ada satupun ayat yang mengajak seseorang untuk berpakaian dengan jenis pakaian tertentu. Al-Quran tidak menganjurkan untuk memakai surban, gamis, ataupun jubah. Menurut Al-quran, sebaik-baiknya pakaian bagi umat Islam ialah takwa. Ini terekam dengan baik dalam surat Al-A’raf [7]: 26 yang terjemahannya berbunyi: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. al-A’raaf: 26).

Baca Juga :  Haul KH Ali Mustafa Yaqub, Darus Sunnah Gelar Bahtsul Masail

Selanjutnya di dalam hadis, nabi Muhammad juga tidak pernah menjadikan identitas pakaian yang dikenakannya. Ia hanya mengajarkan tentang nilai-nilai dalam berpakaian. Seorang muslim, dalam hadis Bukhari (5784) misalnya, dianjurkan menggunakan pakaian di atas mata kaki agar terhindar dari kesombongan. Bukan karena bentuknya yang berada di atas mata kaki. Bahkan menurut penulis, anjuran nabi Muhammad untuk memakai jubah dan pakaian berwarna putih harus dimaknai dalam konteks lokalitas nabi saat itu.

Nabi mengenakan jubah semestinya difahami sebagai rasa cinta nabi terhadap budaya Arab. Jubah yang menjadi identitas kebudayaan –bukan keagamaan- kemudian digunakan nabi Muhammad sebagai penguat dakwah Islam bahwa Islam datang tidak untuk menolak budaya lama yang baik. Islam hadir justru untuk memperkokohnya dan menyingkirkan budaya masyarakat yang melenceng dari moralitas universal seperti sifat sombong tadi.

Nabi mencotohkan ia mengenakan pakaian kebudayaannya (jubah) yang berwarna putih (simbol kebersihan dan kesucian). Sehingga untuk meneladaninya, kita harus masuk dalam pemahaman yang lepas dari konteks lokal untuk mengambil sisi ajaran universal Islam. Maka, dengan jernih kita akan menemukan maksud ajaran nabi Muhammad yang sesungguhnya ia sedang tidak mengajak untuk memakai identitas kebudayaan Arab, melainkan mengajak mengenakan identitas kebudayaan umat Islam sesuai kebangsaannya masing-masing .

Kita sebagai umat Islam di Indonesia, dengan demikian menemukan pemahaman yang kontekstual terhadap ajaran nabi. Jika nabi mengenakan jubah sebagai peneguhan identitas ke-Arab-annya, maka semetinya harus dengan bangga memakai batik sebagai identitas bangsa Indonesia. Sehingga ada nilai kesunnahan saat kita memakai batik. Nilai kesunnahan ini tentu sekali lagi bukan terletak pada pakaiannya, melainkan peneguhan identitas kebangsaannya.

Oleh karena itu, batik mulai saat ini semestinya tidak difahami sebagai identitas bangsa Indonesia saja. Batik bagi umat Islam sudah harus difahami sebagai bentuk manifestasi menjalankan kesunnahan nabi Muhammad. Mengenakan batik dengan demikian mengamalkan ajaran nabi Muhammad. Ajaran yang memerintahkan umat Islam untuk mencintai dan memperkuat identitas kebudayaannya.

Baca Juga :  Agar Selalu Mengikuti Sunnah, Bacalah Doa Sahabat Abdullah bin Umar Ini

Selamat hari batik, selamat menjalankan ajaran nabi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here