Memahami Tipologi Pemahaman Hadis Para Ulama

1
1201

BincangSyariah.Com- Al-Quran dan Hadis merupakan dua sumber induk dalam agama Islam, menolaknya atau salah satu dari keduanya adalah sesat dan tidak dibenarkan, keduanya saling bersinergi. Kehadiaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT adalah sebuah keniscayaan untuk menyampaikan risalah Tuhan yang mengandung tiga hal pokok yaitu akidah, akhlak dan ibadah. Di samping pengemban risalah, Rasulullah SAW juga berperan menjadi penjelas (bayan) baginya atau al-Quran.

Terdapat pula hadis yang bukan penjelasan terhadap al-Quran, melainkan hadis tersebut adalah ketetapan hukum yang datang dari Nabi Muhammad SAW sendiri. Penjelasan nabi terhadap al-Quran di antaranya seperti shalat, zakat, puasa, haji, muamalah dan masih banyak lainnya. sehingga al-Awza‘i melahirkan sebuah teori bahwa kebutuhan al-Quran terhadap hadis lebih besar dari pada kebutuhan hadis terhadap al-Quran. Maka taat dan patuh kepada Nabi Muhammad SAW merupakan konsekuensi dari taat dan patuh kepada Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran (QS. al-Nisa’ [4]: 59) dan (QS. Ali ‘Imran [3]: 32).

Oleh karena itu kajian terhadap hadis memiliki posisi yang sangat penting dalam Islam karena untuk memahami agama secara komprehensif tidak dapat dipisahkan dari memahami hadis Nabi Saw itu sendiri. Pada saat ini kajian Hadis terfokus pada tiga bahasan, pertama berkaitan dengan ilmu Musthalah hadis, termasuk untuk menjaga eksistensi hadis dari serangan kalangan inkar sunnah dan orientalis. Kedua, berkaitan dengan kritik sanad dan kritik matan hadis serta metode takhrij hadis. Ketiga, bahasan yang berkaitan dengan pemahaman hadis.

Dari tiga fokus kajian hadis di atas, bahasan terkait pemahaman hadis adalah inti dari kajiannya. Namun sayangnya, saat ini tidak sedikit orang yang keliru dalam memahami hadis, yang menjerumuskan ia dan orang lain pada pemahaman yang sesat dan menyesatkan. hal tersebut tentunya, karena ia tidak mengetahui tata cara dalam memahami hadis dengan baik dan benar.

Baca Juga :  Tiga Bekal dalam Berdakwah Menurut Imam Ibnu Taimiyah

Studi Terdahulu: Ulama Klasik dan Kontemporer

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya sudah banyak ulama baik klasik maupun kontemporer yang menuliskan kitab tentang tata cara memahami hadis dengan corak dan karakteristik yang beragam.

Seperti Imam al-Syafi’i (w. 204 H) dalam kitabnya Ikhtilaf al-Hadits, Imam Ibn Qutaibah (w. 276 H) dalam Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits, Imam Thahawi (w. 321 H) dalam Syarh Musykil al-Atsar, yang mengulas pemahaman hadis dari sisi kontroversialitasnya. Imam Ibn Atsir al-Jazari (w. 606 H) dalam kitabnya Jami’ al-Ushul fi ahadits al-Rasul yang menjelaskan tentang tata cara mengkompromikan riwayat-riwayat hadis dari al-kutub al-sittah saja.

Sedangkan ulama hadis kontemporer yang pernah menuliskan tentang tata cara memahami hadis di antaranya adalah Yusuf al-Qaradhawai dalam kitabnya yang populer kaifa nata’amal ma’a al-Sunnah, Syaikh Muhammad al-Ghazali (w. 1996 M) dalam al-Sunnah al-Nabawiyah baina ahl al-Hadits wa ahl al-Fiqh dan Ali Musthafa Yaqub (w. 2016 M) dalam al-Thuruq al-Shahihah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyah yang menjelaskan dengan panjang lebar ragam pendekatan dalam memahami hadis yang disertai dengan kasus-kasus dan contoh-contoh kekinian.

Metode Memahami Hadis: Tekstual dan Kontekstual

Secara garis besar ada dua metode dalam memahami hadis yaitu secara lafaz bi al-lafzhi dan makna bi al- ma’na, maksudnya adalah memahami hadis dengan mengeksplorasi isi kandungan lafaz dan makna hadis atau sering dikenal dengan istilah textual and contextual understanding (pemahaman tekstual dan kontekstual).

Amin Abdullah mengutarakan bahwa tipologi pemahaman yang mempercayai hadis sebagai sumber hukum kedua dalam ajaran Islam tanpa memperdulikan proses panjang sejarah terkumpulnya hadis dan proses pembentukan ajaran ortodoksi, maka ini disebut tipe tekstualis. Sedangkan pemahaman yang mempercayai hadis sebagai sumber hukum kedua dalam ajaran Islam, dan memahaminya dengan cara kritis-konstruktif, melihat dan mempertimbangkan asal usul (asbab al-wurud) hadis tersebut, maka mereka adalah tipe pemahaman kontekstulis.

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Terbitkan Buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis Cetakan Kedua

Pada prakteknya di kalangan para pakar, bahwa dalam memahami sebuah teks hadis, ada yang memahami secara tekstual dan ada pula yang secara kontekstual. Kedua metodologi tersebut, sebenarnya sudah dikenal dan dipraktikkan pada zaman Nabi Muhammad SAW oleh para sahabat dan diamini oleh rasul. Seperti ketika Rasulullah SAW memerintahkan beberapa sahabatnya untuk pergi ke perkampungan Bani Quraidah. Sebelum mereka berangkat, beliau bersabda:

لا يصلين أحد كم العصر إلا في بني قريظة

Artinya::“Janganlah salah seorang di antara kalian melaksanakan shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”

Ketika dalam perjalan menuju perkampungan tersebut, waktu shalat ashar telah masuk. Kemudian sekelompok shahabat melakukan shalat di perjalanan dan yang lain shalat setelah sampai di tempat tujuan walaupun hari telah gelap. Lalu para sahabat menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi dan ternyata Nabi tidak menyalahkan siapapun di antara mereka.

Dalam menanggapi kasus tersebut, Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) mengatakan bahwa kelompok sahabat yang pertama telah melakukan ijtihad untuk melakasanakan shalat asar di perjalanan, karena mereka khawatir waktu shalat ashar akan segera berakhir terutama melihat perjalanan menuju tempat tujuan dalam teks sabda Nabi masih sangat jauh. Sedangkan sebagian kelompok yang lain memahami pesan Nabi tersebut secara zahir (tekstual), sehingga mereka tetap shalat ashat di perkampungan Bani Quraidhah meskipun hari sudah malam.

Syamsul Haq al-‘Adhim al-Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma‘bud, menambahkan penjelasan mengenai kasus tersebut. Menurutnya, kelompok pertama di atas memahami hadis Nabi secara kontekstual (ma‘nal hadits) yaitu sebagai perintah untuk mempercepat dalam perjalanan.

Sementara kelompok kedua, memahami pesan Nabi tersebut secara tekstual (lafdhul hadits) sehingga mereka tetap melaksanakan shalat di perkampungan Bani Quraidhah sesuai sabda Nabi pada saat hari sudah malam. Lebih lanjut Syam al-Haq menyebut kelompok pertama dengan tekstualis (ahl al-Zahiri) dan kelompok kedua dengan kontekstualis (Ashab al-Ma‘ani wa al-Qiyas).

Baca Juga :  Benarkah Al-Qurthubi Mewajibkan Sistem Khilafah?

Dari kasus pemahaman hadis sahabat di atas lahirlah dua metode pemahaman hadis sebagaimana disebutkan. menurut Ali Mustafa Yaqub terdapat tiga kemungkinan maksud dalam suatu hadis, pertama adakalanya maksud suatu hadis secara tekstual, sehingga ia harus diamalkan berdasarkan teks hadis atau lafaznya.

Kedua, Terkadang maksud suatu hadis dipahami secara kontekstual atau makna yang terkandung dibalik suatu teks hadis, sehingga pengamalannya juga harus kontekstual.

Ketiga, terkadang pula suatu hadis memiliki makna secara tekstual dan kontekstual secara bersamaan, sehingga seseorang boleh mengamalkan hadis tersebut berdasarkan salah satu dari keduanya; boleh secara tekstual dan boleh pula secara kontekstual.

📒Referensi; ath-thuruq ash-shahihah fi fahm as-sunnah an-nabawiyah Karya Prof Ali Musthafa Yaqub.

[Tulisan ini adalah serial kajian metologi memahami hadis dalam Grup Kajian Hadis eBI]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

  1. kenapa malah menebak” ya.., kenapa tidak ada yang menanyakan kepada nabi waktu itu,mengapa nabi memerintahkan seperti itu??????

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here