Memahami Tafsir Alquran “Ummatan Washatan”

0
347

BincangSyariah.Com – Di tengah pergulatan paham-paham ke-Islaman yang bersifat ekslusif, kita mesti kembali melihat arti penting dan spirit dari agama Islam. Pasalnya, pandangan-pandangan keagamaan Islam mesti diletakkan dalam kerangka tafsir, bukan agama itu sendiri. Karena jika tidak kita akan terjatuh pada “berlebihan” (al-Ghulluw) dalam beragama.

Di dalam alquran disebutkan bahwa umat Islam merupakan umat pertengahan, ummatan washatan. Keterangan Alquran yang menyebutkan sebagai umat washatan ini merupakan sikap arif dan bijak saat agama banyak dibajak untuk kepentingan kelompok, fraksi dan seterusnya. Di tengah upaya untuk meruwat spirit washatan, saat yang bersamaan terkesan paradox di mana saat bersamaan bermunculan kelompok-kelompok yang dikenal dengan puritan dan fundamentalisme agama.

Penulis sendiri tidak begitu, sependapat dengan istilah fundamentalisme agama. Pasalnya setiap agama memiliki titik pijak dasar yang membedakannya dengan paham, doktrin agama lain, disamping memiliki spirit dan fungsi sosial yang sama bagi ummatnya.

Hasan Hanafi, seorang pemikir Muslim kontemporer asal Mesir, mencatat bahwa istilah fundamentalisme merupakan konstruk atas paham ideology dan merupakan anak tiri dari modernism pasca imperialisme, kolonialisme barat atas dunia Islam. Di saat yang bersamaan ide globalisasi yang menghendaki ruang demarkasi yang jelas antar Negara dan agama.

Menurut penulis sendiri pandangan keagamaan washatiyah memerlukan daya referensial untuk merujuk kepada cara pandang ulama klasik dalam memahami teks-teks Islam. Lantas, jika kita merujuk kepada ahli tafsir klasik, bagaimana pandangan mereka terhadap ayat “ummatan washatan”.

Imam al-Thabari (923 H) dan al-Wahidi (1076 H) berpendapat bahwa kata ummatan washatan mengindikasikan Islam sebagai agama pertengahan, mengombinasikan unsur-unsur kebaikan dalam agama-agama samawi sebelumnya. Dan di saat yang bersamaan memisahkan (discarding) unsur-unsur yang tidak baik.

Baca Juga :  Tahapan Memutuskan Hukum Menurut Syekh Ali Jum’ah

Ahli tafsir seperti al-Zamakhsyari dan Ibnu Katsir berpandangan bahwa makna ummah washatan adalah komunitas beragama terbaik, atau manusia terbaik.

Arti ini kemudian harus dipahami bahwa paham dan ajaran Islam memberikan ketenangan dan keberimbangan kepada masyarakat sehingga akan terciptanya kasih sayang dan saling menyayangi antar umat manusia. Dalam pandangan mufassir modern seperti Muhamamd Abduh bahwa islam merupakan agama keberimbangan antar dua melampaui batas dan kekurangan (excessiveness and deficiency), yaitu antara sifat asketik dan ketaatan berlebihan. Spirit ummatan washatan itu sejatinya sesuai dengan sabda Nabi, Khairul Umuur awshatuha (sebaik-baik perkara adalah pertengahan).
Wallahu A’lam bi al-Showwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.