Memahami Syarat Dakwah Sebelum Sibuk Berdakwah

1
17

BincangSyariah.Com – Amar makruf nahi mungkar atau dakwah merupakan tugas yang sangat mulia dalam Islam. Oleh karena itu, Muslim yang baik seharusnya memerhatikan beberapa syarat dakwah yang harus dipenuhi ketika hendak menyampaikan materi. Hal ini dilakukan agar dakwah tersebut memberikan manfaat (yaitu bisa mengajak orang lain kepada kebaikan dan kebenaran dan mencegah perbuatan-perbuatan mungkar) dan tidak merusak keindahan nama Islam.

Sebab, terkadang sebagian Muslim melakukan kekasaran, kekerasan, dan pemaksaan kepada orang lain serta menyesatkan, memurtadkan, dan mengafirkan Muslim lain atas nama dakwah atau amar makruf nahi mungkar. Tindakan semacam ini, menurut penulis, tentu tidak bermanfaat bagi suksesnya dakwah dan bahkan bisa merusak keindahan nama Islam itu sendiri.

Dalam hal ini, Allah berfirman secara tegas: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu (Âli ‘Imrân (3): 159).” Menurut Sayyid Muḥammad bin ‘Alawî al-Mâlikî, ayat ini menekankan pentingnya berdakwah atau amar makruf nahi mungkar dengan keramahan dan kelembutan dan menjauhi kekasaran dan kekerasan (at-Taḥżîr min al-Mujâzafah bi at-Takfîr, hlm. 102).

Syarat Dakwah, Kelembutan, Keadilan, dan Pengetahuan dalam Amar Makruf Nahi Mungkar

Imam Sufyân aś-Śaurî menyebutkan bahwa Muslim yang belum memiliki tiga hal dalam dirinya tidak boleh melakukan amar makruf nahi mungkar. Tiga hal tersebut yang harus dimiliki oleh Muslim yang hendak melakukan amar makruf nahi mungkar adalah: kelembutan dalam amar makruf dan nahi mungkar; keadilan dalam amar makruf dan nahi mungkar; dan pengetahuan dalam amar makruf dan nahi mungkar (Ibnu Rajab, Jâmi‘ al-‘Ulûm wa al-Ḥikam fî Syarḥ Khamsîna Ḥadîśân min Jawâmi‘ al-Kalim, 2008: 709).

Di sisi lain, Syekh Muḥammad ‘Abduh menyebutkan 11 syarat dakwah yang harus dimiliki oleh seorang dai agar dakwah tersebut tercapai dengan baik (Sayyid Muḥammad Rasyîd Riḍâ, Tafsîr al-Manâr, 1367 H., IV: 38-44). Kesebelas syarat itu adalah: (1) Memiliki pengetahuan yang utuh terhadap isi (konten) dakwah yang disampaikan. Dalam hal ini, seorang dai harus memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an, hadis, sejarah Rasulullah saw., al-khulafâ’ ar-râsyidûn, dan ulama-ulama salaf, dan hukum-hukum Islam secukupnya.

(2) Memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial orang-orang yang akan menerima dakwah tersebut, baik menyangkut kehidupannya, kecenderungannya, karakter negara dan daerahnya, maupum moralnya; (3) Memiliki pengetahuan tentang ilmu sejarah secara umum agar mengetahui sumber-sumber kerusakan akidah, akhlak, dan adat-istiadat. Sehingga para pendakwah bisa menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang asli dan benar.

(4) Memiliki pengetahuan tentang geografi. Hal ini sangat bermanfaat bagi para pendakwah yang akan berdakwah ke negara-negara tertentu; (5) Memiliki pengetahuan tentang ilmu jiwa (psikologi); (6) ilmu akhlak; (7) ilmu sosial (sosiologi); dan (8) ilmu politik. Artinya, ketika seorang dai ingin berdakwah di sebuah negara tertentu, maka dia harus mengerti tata negara dan sistem politik dan pemerintahan negara tersebut.

Dalam hal ini, H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Buya Hamka) menegaskan bahwa apabila seorang dai asal Indonesia yang hidup lama di Mekkah―kemudian pulang dan berdakwah di bumi Indonesia dengan cara menyamakan Indonesia dengan Mekkah, maka dakwahnya akan gagal. Oleh karena itu, dai yang ingin berdakwah di Indonesia harus mengerti dasar dan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Tafsir al-Azhar, jilid 2: 875).

(9) Mengetahui bahasa orang-orang yang akan menerima dakwah; (10) Mengetahui kesenian dan kebudayaan masyarakat yang akan menerima dakwah itu meskipun sekadarnya. Sehingga seorang dai tidak kebingungan dan keteteran ketika dihadapkan dengan masalah kesenian dan kebudayaan tersebut. Selain itu, menurut Buya Hamka, seorang dai yang mengerti tentang seni dan kebudyaan tidak akan terburu nafsu untuk memvonis dan menerapkan suatu hukum (Islam) terhadap perkara tertentu yang terjadi di tengah masyarakat (hlm. 876).

(11) Mengetahui ragam agama, kepercayaan, dan mazhab yang berkembang di dunia. Hal ini untuk memudahkan para dai menjelaskan perkara-perkara yang batil. Menurut Buya Hamka, seorang dai yang memiliki pengetahuan tentang ragam agama, kepercayaan, dan mazhab akan berpikiran luas, terbuka, dan bersikap inklusif dalam menghadapi masyarakat yang plural. Dalam konteks mazhab, misalnya, seorang dai tidak akan fanatik kepada satu mazhab tertentu, dan tidak akan memurtadkan dan mengafirkan Muslim lain yang berbeda mazhab seenaknya sendiri (hlm. 876). Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here