Memahami Surah Al-Taubah Ayat 123; tentang Membunuh Non-Muslim

1
1869

BincangSyariah.Com – Pengeboman tiga Gereja di Surabaya adalah fenomena tersendiri yang perlu jadi sorotan. Selain telah merusak tali persaudaran antar anak bangsa yang telah berakar kuat dalam naungan Bhineka Tunggal Ika, ada pula pemahaman yang mengarah pada terorisme. Dalam grup-grup whatsapp telah tersebar kutipan Q.S al-Taubah ayat 123 yang dimaknai secara serampangan. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِين

Wahai orang yang beriman! Perangilah orang orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang yang bertakwa.

Dalam broadcast yang viral di sebagian grup whatsapp, ayat di atas telah dipahami secara apa adanya dan dijadikan legitimasi bagi pelaku terorisme. Hal ini jelas amat berbahaya. Upaya yang telah dibangun secara susah payah oleh para founding father bangsa ini, dengan mudah saja dirusak oleh oknum yang mengatasnamakan agama.

Lalu bagaimana cara memahami ayat di atas? Disinilah pentingnya kita merujuk kitab tafsir dan memahami konteks turunnya ayat al-Quran.

Sebelum penulis mengutip pendapat para mufasir melalui kitab tafsirya, perlu diketahui oleh sidang pembaca bahwa surat al-Taubah ini adalah satu satunya surat dalam mushaf al-Quran yang tidak diawali dengan basmalah. Salah satu sebabnya adalah karena di dalamnya banyak sekali ayat-ayat tentang perintah perang. Basmalah sebagai kalimat yang merepresentasikan sifat Rahman dan Rahim Allah swt bertentangan dengan ayat-ayat tentang perang. Darisini saja kita dapat memiliki kesan bahwa konteks dari surat ini adalah dalam situasi perang sehingga basmalah tidak masuk dalam surat ini.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Malaikat Izrail Mencabut Nyawa Orang Banyak?

Adapun penjelasan tafsirnya, dalam tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran misalnya, Imam al-Tabari (w. 310 H/ 922 M) menerangkan bahwa ayat ini berkaitan dengan situasi perang tepatnya saat Rasulullah saw dihadapkan pada dua musuh secara bersamaan: kaum musyrikin Mekah dan imperium Romawi. Karena kebimbangan tersebut maka turunlah ayat ini agar Rasul beserta sahabat mendahulukan orang musyrik karena lokasinya lebih dekat.

Dari keterangan Imam al-Tabari saja, kita dapat memahami bagaimana konteks ayat ini diturunkan yaitu dalam keadaan perang. Hal ini dipertegas oleh KH. Ali Mustafa Yakub yang menyatakan bahwa ayat perang dengan ayat damai harus jelas dibedakan.

Oleh karena itu, ayat al-Quran yang perlu terus dikutip dan diulang-ulang di Indonesia adalah hanya ayat damai. Mengapa kemudian yang disebar luaskan dalam grup grup whatsapp pasca pengeboman bukan ayat damai?

Tidak sulit menemukan ayat damai dalam al-Quran, satu contoh saja adalah Q.S al-Isra ayat 170 yang bunyinya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut ,dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik baik dan kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Inilah ayat yang perlu disebar luaskan yang menjadi cermin umat Islam. Allah swt memuliakan umat manusia melalui firman-Nya. Oleh karena itu, suatu keniscayaan bagi umat Islam untuk menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan.

Wallahu a‘lam             



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here