Memahami Sebab Turunnya Ayat Alquran tentang Poligami

0
2527

BincangSyariah.Com – Syaikh Nawawi al-Bantani dalam karya tafsirnya, Marāh Labīd li Kasyf Ma’nā al-Qur‘ān al-Majīd menjelaskan apa sebenarnya sebab turunnya surah an-Nisa’: 3, ayat Alquran yang sering menjadi dasar kebolehan poligami. Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) anak yatim, maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang baik bagimu: dua, tiga dan empat.” (QS. An-Nisa`: 3)

Banyak riwayat sejarah tentang awal mula bagaimana ayat ini diturunkan. Dan, dari beberapa riwayat yang akan dituturkan di bawah ini, bisa kita tarik benang merah yang menggambarkan betapa orang jahiliah tidak menghargai perempuan sebagaimana mestinya dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Akhirnya, ayat ini turun untuk menegur orang-orang Islam yang masih terbawa kebiasaan jahiliahnya.

Sayyidah Aisyah r.a. menjelaskan ayat di atas dengan bercerita: bahwa ada seorang perempuan yatim yang diasuh seorang laki-laki (bukan orang tuanya). Namun, sebagai wali dari perempuan yatim tersebut, laki-laki tadi justru tertarik dengan kecantikan dan harta yang dimiliki si yatim. Sayangnya dia menikahinya dengan nilai mahar yang rendah.

Setelah laki-laki tadi benar-benar menikahi si yatim, dia tidak memperlakukan istrinya itu dengan baik. Sebab dia tahu tidak akan ada orang yang membela si yatim. Toh, dia sendirilah pengasuhnya. Bukan orang lain.

Maka, turunlah ayat yang melarang umat Islam menikahi anak-anak yatim, kecuali bisa berlaku adil dalam memberikan mahar dan perlakuan yang seharusnya. Larangan ini disertai dengan anjuran menikahi perempuan yang baik bagi mereka; antara dua, tiga, dan empat.

Namun menurut riwayat Sayyidina Hasan r.a., turunnya ayat tersebut dilatarbelakangi kejadian berbeda. Dulu di Madinah ada seorang laki-laki yang mengasuh banyak anak yatim. Di antara anak-anak yatim yang diasuhnya, ada satu anak perempuan yatim yang memiliki banyak harta warisan dan kebetulan halal dinikahinya (bukan mahramnya).

Baca Juga :  Ciri-ciri Imam Mahdi Dalam Hadis Nabi

Karena laki-laki tadi tidak ingin ada orang luar yang menikahi si yatim dan nantinya ikut menikmati hartanya, maka ia pun menikahi si yatim. Padahal laki-laki itu sama sekali tidak tertarik dengan si yatim kalau bukan karena harta warisan yang dimilikinya.

Setelah menikah, si yatim diperlakukan dengan tidak baik. Laki-laki tadi hanya ingin menunggunya mati dan mendapat harta warisannya. Maka, Allah Swt. mencela orang-orang yang berbuat demikian dan menurunkan ayat di atas.

Sebelum turunnya ayat ini, orang Arab di kala itu tidak memiliki batas jumlah tertentu untuk dijadikan pasangan. Dalam satu waktu, seorang laki-laki bisa saja memiliki sembilan hingga sepuluh istri. Banyaknya istri tentu juga membutuhkan banyaknya biaya kebutuhan. Inilah yang mendorong beberapa orang untuk berbuat curang (tidak adil, dalam konteks ayat di atas).

Di antara kecurangan yang sering dilakukan adalah modus menjadi wali dari anak yatim yang memiliki harta warisan. Bukan demi kebaikan, tapi untuk menumpang kekayaan. Maka sangat masuk akal jika membatasi jumlah istri dijadikan salah satu solusi terbaik untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan semacam ini.

Memenuhi kebutuhan hidup bersama empat istri memang bukan urusan mudah. Seorang laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri tentu memiliki tanggung jawab yang lebih berat dari pada laki-laki yang memiliki satu orang istri. Tanggung jawab yang besar pun rentan menjadi beban yang memberangkatkan serta berpotensi memunculkan akal untuk berbuat curang dan tidak adil. Logis jika Allah Swt. melanjutkan ayat-Nya dengan berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Wallahu a’lam. [RI]

Baca Juga :  Merenungi Konteks Ayat Alquran tentang Puasa

[1] Muhammad Nawawi Banten, Marāh Labīd li Kasyf Ma’nā al-Qur‘ān al-Majīd, 1/181-182.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here