Memahami Redaksi Larangan dalam Al-Quran

0
50

BincangSyariah.Com – sebagaimana kita ketahui, syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah paket risalah yang berisikan perintah dan larangan. Keduanya dapat ditemukan dalam Al-Quran dan hadis dalam berbagai redaksinya. Dalam tulisan kali ini kita akan membahas redaksi larangan dalam Al-Quran. Harapannya, agar kita memiliki pemahaman bagi kita semua untuk menghindari hal-hal yang dilarang dalam syariat.

Dalam bahasa Arab, larangan disebut sebagai nahi, yang oleh para ulama didefinisikan sebagai kalimat yang menyimpan makna pencegahan atas perbuatan tertentu dengan redaksi berupa fiil mudlari’ yang dilekati dengan la nahi. Susunan tersebut kalau dalam bahasa indonesia yakni kata kerja yang dilekati dengan kata larangan seperti kalimat “jangan makan!”. Contoh nahi bisa kita simak dalam firman Allah QS. Al-An’am [6]: 150,

وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ وَهُم بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Wa lā tattabi’ ahwā`allażīna każżabụ bi`āyātinā wallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati wa hum birabbihim ya’dilụn

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka.”

Redaksi nahi yang lain dalam Al-Quran bisa juga dalam bentuk kalimat perintah, namun perintah yang mengandung makna larangan seperti: “tinggalkanlah”, “cegahlah”, dan semacamnya. Terkadang juga menggunakan kalimat yang menunjukkan bahwa sebuah pekerjaan bersifat haram, tercegah, jelek, atau dengan membubuhkan celaan bagi pelakunya, menyebutkan potensi dosa bagi pelakunya, dan sebagainya. Redaksi kalimatnya bisa berupa hurima… (diharamkan…), dan lain-lain.

Secara umum, kalimat nahi menunjukkan hukum haram, rusak, atau batal. Dalil yang menunjukkan bahwa kalimat nahi menunjukkan hukum haram bisa kita simak dalam firman Allah:

Baca Juga :  Perempuan-perempuan di Dalam Al-Qur'an (II)

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Wa mā ātākumur-rasụlu fa khużụhu wa mā nahākum ‘an-hu fantahụ, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Dari ayat diatas bisa kita pahami bahwa perintah untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang menunjukkan wajibnya meninggalkan hal tersebut.

Selanjutnya, dalil yang menunjukkan bahwa kalimat nahi menunjukkan makna rusak atau batal ialah hadits Rasulullah:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna, fahuwa raddun

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

Untuk memahami perbedaan antara suatu perbuatan adalah batal atau sah namun haram, bisa kita lihat spesifikasinya sebagai berikut:

  1. Apabila larangan berfokus pada dzat perbuatan yang dilarang atau syaratnya, maka hukumnya adalah batal
  2. Apabila larangan berfokus pada sesuatu diluar dzat dan tidak terkait secara langsung dengan perbuatan yang dilarang atau syaratnya, maka hukumnya bukan batal.
  • Contoh larangan yang berfokus pada dzat perbuatan dalam ibadah ialah larangan puasa di hari raya idul fitri maupun idul adha.
  • Contoh larangan yang berfokus pada dzat perbuatan dalam muamalah ialah larangan jual beli sesudah adzan kedua salat jumat berkumandang bagi orang-orang yang wajib melaksanakan salat jumat.
  • Contoh larangan yang berfokus pada syarat dalam ibadah ialah larangan memakai pakaian sutra bagi lelaki. Sebagaimana kita ketahui, menutup aurat merupakan syarat sah salat, sehingga apabila menutupi aurat tersebut menggunakan sesuatu yang diharamkan, maka salatnya menjadi batal karena fokus larangan menjurus kepada syarat ibadah.
  • Contoh larangan yang berfokus pada syarat dalam muamalah ialah larangan menjual hewan yang masih berada dalam kandungan. Kita tahu bahwa mengetahui barang yang diperjualbelikan merupakan syarat bagi sahnya jual beli, maka jika kita memperjualbelikan hewan yang masih dalam kandungan, hukumnya tidak sah karena larangannya merujuk pada syarat sah dalam muamalah.
  • Contoh larangan yang merujuk pada sesuatu luar dalam ibadah ialah larangan menggunakan surban berbahan sutra bagi lelaki. Salatnya tetap sah, karena larangannya tidak merujuk pada dzat atau syarat ibadah. Namun, lelaki tersebut tetap mendapatkan hukum keharaman memakai sutra. Sementara dalam muamalah kita temukan contohnya pada larangan monopoli perdagangan. Jual beli dengan sistem monopoli hukumnya tetap sah, karena larangan tidak merujuk secara lamngsung pada dzat muamalah. Meski demikian, monopolinya sendiri tetap dihukumi haram.
Baca Juga :  Empat Pilar Kehidupan Dunia Agar Kejahatan Tak Merajalela

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here