Terkait Rachel Vennya, Mari Kita Belajar Memahami Perceraian dalam Islam

1
26

BincangSyariah.Com – Perceraian dalam Islam adalah hal yang mesti diketahui. Terkait perceraian, warganet disibukkan dengan berita perceraian seorang selebgram atau influencer bernama Rachel Vennya Ronald yang dikabarkan menggugat cerai sang suami, Niko Al-Hakim.

Kabar simpang-siur tersebut trending di Twitter selama tiga hari berturut-turut dan menjadi bahan konten banyak akun gosip. Kabar ini kian masif bertebaran di dunia maya lantaran banyak warganet yang iseng membagikan di media sosial.

Sebagai warganet, alangkah lebih baik jika kita tak turut menyebarkan berita simpang-siur tersebut dan memahami terlebih dahulu apa sebenarnya penyebab dan bentuk-bentuk perceraian atau putusnya pernikahan dalam Islam.

Penyebab Perceraian dalam Islam

Putusnya perkawinan bisa diartikan sebagai berakhirnya hubungan dan ikatan antara suami dan istri. Putusnya perkawinan tersebut dalam Islam secara umum disebabkan oleh empat hal.

Pertama, putusnya sebuah perkawinan atas kehendak Allah Swt. melalui takdirnya. Takdir yang dimaksud adalah salah satu pasangan baik istri mapun suami meninggal dunia.

Kedua, putusnya perkawinan lantaran kehendak suami dan karena ada alasantertentu. Putusnya perkawinan yang kedua bisa disebut dengan talak.

Ketiga, putusnya perkawinan karena kemauan dari seorang istri. Hal ini bisa disebabkan oleh intervensi keluarga, keberatan sang istri dalam menjalankan rumah tangga bersama suami atau alasan-alasan yang  dibenarkan oleh syarak. Cara ini biasa disebut dengan khulu’.

Putusnya perkawinan atas kehendak hakim. Sebagai pihak ketiga yang melihat permasalahan antara istri dan suami yang membuat suatu perkawinan tidak dapat dilanjutkan. Hal ini biasa disebut dengan fasakh. Empat putusan perkawinan tersebut dicatat oleh Amir Syarifuddin dalam Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (2006).

Abdul Ghofur Anshori dalam Hukum Perkawinan Islam: Perspektif Fikih dan Hukum Positif (2011) mencatat bahwa dalam kehidupan rumah tangga sering dijumpai suami dan istri yang mengeluh dan mengadu kepada orang lain ataupun kepada keluarganya.

Hal tersebut diakibatkan karena tidak terpenuhinya hak yang harus diperoleh atau tidak terlaksanakannya kewajiban dari salah satu pihak. Ada juga karena alasan lain seperti timbulnya suatu perselisihan di antara suami-isteri. Dalam biduk rumah tangga, tidak mustahil apabila ada perselisihan yang akan berbuntut pada putusnya sebuah ikatan perkawinan atau perceraian.

Perkawinan dibangun untuk kebahagiaan pasangan, antara suami dan istri seumur hidup. Jika salah satu pihak tidak mampu melaksanakan kewajiban masing-masing dengan baik dan salah satu pihak tidak dapat menerimanya, dan tidak ada jalan lagi selain  bercerai, maka perceraian dalam Islam diperbolehkan.

Dalam perceraian mesti ada sebab-sebab yang membolehkan perceraian baik menurut hukum Islam dan undang-undang. Dalam  Islam, dilarang bercerai tanpa alasan dan tanpa sebab. Perkawinan adalah ikatan yang sakral dan suci.

Bentuk-bentuk Putusnya Perkawinan

Ada sebab-sebab tentang putusnya perkawinan menurut hukum Islam yang dituliskan oleh Baqir Al Habsyi dalam Fiqih Praktis (2002). Dua sebab tersebut antara lain:

Pertama, talak.

Asal kata talak adalah “ithlaq” yang dalam bahasa Arab berarti melepaskan atau meninggalkan. Arti dalam fiqihnya adalah pelepasan ikatan perkawinan yaitu perceraian antara suami dan istri.

Secara terminologis, para ulama mengemukakan rumusan “talak” yang berbeda. Meski begitu, esensinya tetap sama yaitu melepaskan hubungan pernikahan dengan menggunakan lafal talak dan sejenisnya.

Dalam istilah syarak, talak adalah melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri. Dalam Islam, hak menjatuhkan talak ada di tangan suami. Tapi dalam menjatuhkan talak, suami tidak boleh sewenang-wenang.

Mengapa demikian? Sebab, suami pernah melakukan janji untuk hidup bersama dengan seorang perempuan untuk melalui masa yang lama. Tapi secara tiba-tiba ingin meninggalkan dan menceraikan perempuan tersebut tanpa adanya alasan yang jelas.

Suami tidak boleh menjatuhkan talak jika istri sedang dalam keadaan haid. Dalam menjatuhkan talak, suami mesti menunngu istri dalam keadaan suci terlebih dahulu.

Talak adalah melepaskan ikatan. Talak juga bisa disebut dengan mengurangi atau melepaskan ikatan dengan menggunakan kata-kata yang telah ditentukan, tidak sembarangan kata.

Dalam Pasal 117 dalam Kompilasi Hukum Islam, talak adalah  ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan, dengancara sebagaimana dimaksud dalam pasal 129, 130, dan 131.

Kedua, fasakh.

Dalam bahasa Arab, fasakh berasal dari kata fa-sa-kha. Secara etimologi, fasakh memiliki makna membatalkan. Jika dihubungkan kata tersebut dengan perkawinan yang berarti membatalkan pernikahan atau merusak pernikahan.

Fasakh juga bisa diartikan sebagai “mencabut” atau “menghapus”. Apa yang dimaksud mencabut dan menghapus adalah perceraian yang disebabkan oleh timbulnya hal-hal yang dianggap berat oleh suami atau istri atau keduanya. Mereka tidak sanggup untuk melaksanakan kehidupan suami-istri dalam mencapai tujuan rumah tangga.

Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin dalam Fiqih Mazhab Syafi’I (2007) menjelaskan bahwa fasakh boleh dilakukan apabila ada sebab-sebab syar’i yang mungkin merugikan pihak perempuan, di antaranya adalah:

Pertama, pernikahan yang dilakukan oleh wali dengan laki-laki yang bukan jodohnya, seperti bukan dengan orang yang merdeka, atau orang pezina dengan orang yang masih terpelihara.

Kedua, suami yang tidak mau memulangkan istrinya dan tidak pula menafkahinya, sedangkan istri tidak rela.

Hukum fasakh pada dasarnya adalah mubah atau boleh, tidak disuruh dan tidak pula dilarang, karena hukumnya sesuai dengan keadaan dan bentuk tertentu itu. Dasar hukumnya sesuai dengan hadis Rasulullah Saw. Sebagai berikut:

“Dari Jamil bin Zaid bin Ka’ab r.a bahwasannya rasulullah Saw pernah menikahi seorang perempuan bani ghafar, maka tatkala ia akan bersetubuh dan perempuan itu telah yang meletakkan kainnya, dan ia duduk diatas pelaminan, kelihatannya putih (balak) dilambungnya lalu ia berpaling (pergi dari pelaminan itu) seraya berkata, ambillah kain engkau, tutupilah badan engkau, dan beliau telah mengambil kembali barang yang telah diberikan kepada perempuan itu” (HR. Ahmad).

Ketiga, khulu’.

As-Syarbini dan Al-Khatib mengartikan khulu’ sebagai pemisah antara suami istri dengan pengganti yang dimaksud (iwadh) yang kembali ke arah suami dengan lafal talak atau khulu’.

Khulu’ juga bisa berarti penyerahan harta yang dilakukan oleh istri untuk menebus dirinya dari ikatan suaminya. Menurut istilah, khulu’ berarti talak yang diucapkan oleh istri dengan mengembalikan mahar yang pernah dibayarkan oleh suaminya.

Artinya, tebusan tersebut dibayarkan oleh seorang istri kepada suaminya yang dibencinya, agar suaminya menceraikannya. Apabila seorang perempuan membenci suaminya dikarenakan keburukan akhlaknya, ketaatannya terhadap agama, atau karena kesombongan atau karena yang lain-lain dan ia sendiri khawatir tidak dapat menunaikan hak-hak Allah Swt., maka diperbolehkan baginya mengkhuluk dengan cara memberikan ganti berupa tebusan untuk menebus dirinya dari suaminya.

Ketentuan ini berdasarkan pada firman Allah Swt. dalam surah al-Baqarah ayat 229 sebagai berikut:

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah Swt. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah Swt. mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 229).

Hukum khulu’ pada dasarnya boleh, tapi makruh seperti talak. Hal tersebut dikarenakan adanya pemutusan talak yang diperintahkan syarak. Khulu’ diperbolehkan jika ada sebab yang menuntut, seperti suami cacat fisik atau cacat sedikit pada fisik atau suami tidak dapat melaksanakan hak istri atau perempuan khawatir tidak dapat melaksanakan kewajiban hukum-hukum Allah Swt. Jika tidak ada sebab yang menuntut khuluk maka terlarang hukumnya.

Urusan Rumah Tangga Adalah Privasi

Urusan rumah tangga seseorang adalah privasi. Sebagai warganet yang bijak, sebaiknya kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Rachel Vennya selaku public figure juga mesti memahami bahwa gosip yang beredar adalah konsekuensi dari ketenarannya sebagai selebgram atau influencer.

Mari memahami lebih jauh tentang perceraian sebelum mencak-mencak di media sosial. Ketimbang bergosip atas masalah hidup orang lain, lebih baik kita berbuat kebaikan dan menebarkan perdamaian di media sosial.[]

Baca: Mengurangi Angka Perceraian yang Semakin Tinggi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here