Memahami Makna dan Tanda Zuhud Menurut Imam Al-Ghazali

0
36

BincangSyariah.Com – Sebagian dari kita mungkin saja masih memiliki anggapan bahwa orang zuhud ialah orang yang meninggalkan harta dunianya. Kalau cara pandang begitu masih saja dipertahankan, mungkin kemudian hari bisa tercetus sebuah syarat bagi orang zuhud itu harus miskin. Kemudian, muncul anggapan bahwa semakin miskin seorang hamba, maka semakin zuhudlah dia. Sebenarnya bagaimana makna dan tanda zuhud sebenarnya? (Baca: Jomlo Bagian dari Zuhud, Tapi Menikah juga Ibadah)

Apabila melihat sejarah, tak sedikit bisa dijumpai tokoh-tokoh muslim yang terkenal kezuhudannya, tetapi ia sangat kaya dan memiliki harta yang banyak. Sebut saja seperti Abdullah bin Mubarak yang rela menyedekahkan sebagian besar laba bisnisnya untuk kecukupan para ulama semasanya, serta selalu memberi bekal kepada orang yang menemuinya, dengan kata kunci “hendak haji”. Juga seperti Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Syekh Hasan asy-Syadzili, gurunya para sufi dan ahli tarekat, yang keduanya terkenal berkecukupan harta.

Dengan meninggalkan harta benda saja, sejatinya memang belum tentu dapat dijadikan barometer kezuhudan seorang hamba. Karena apabila zuhud hanya dimaknai dengan meninggalkan harta saja, itu tentu sangat ringan bagi mereka yang memang merasa bahagia atau merasa bangga akan label zuhud, sebagai bentuk pujian orang lain kepadanya. Oleh karenanya, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa zuhud itu lebih mengarah pada definisi tidak bergantung pada harta dunia, bukan pada definisi meninggalkan harta secara penuh.

Misalnya, Nurul terkenal sebagai zahid (orang yang zuhud), lantaran ia selalu menyedikitkan makan untuk dirinya. Apa yang dilakukannya itu memang dengan sengaja dan ditampakkan di depan orang lain. Tetapi, secara diam-diam, ternyata Nurul lebih menikmati tatkala ia mendapat julukan sebagai orang yang zuhud, ketimbang disebut sebagai orang yang berkecukupan. Dalam kondisi demikian, masihkan Nurul disebut orang yang zuhud?

Tatkala meninggalkan harta benda atau tidak, belum tentu dapat dijadikan sebagai barometer akan kezuhudan seseorang, lantas apa sebenarnya tanda seseorang dapat disebut zuhud? Imam al-Ghazali menegaskan bahwa zuhud merupakan perilaku yang susah untuk diidentifikasi. Tetapi meski demikian, beliau mampu menyebutkan setidaknya tiga tanda zuhud.

Pertama, tidak merasa gembira dengan memiliki sesuatu yang wujud, baik harta, tahta, dan lain sebagainya. Serta tidak merasa larut dalam kesedihan tatkala kehilangan harta yang sebelumnya sempat dimiliki. Tetapi orang zuhud itu umumnya menanamkan yang sebaliknya, yaitu merasa sedih dengan memiliki harta banyak. Kemudian ketika kehilangan harta benda justru ia merasa gembira, karena tidak terbebani oleh dunia.

Tanda terebut beliau rumuskan berdasar pada Al-Qur’an surah Al-Hadid [57] ayat 23.

لِّكَیۡلَا تَأۡسَوۡا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوا۟ بِمَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالࣲ فَخُورٍ

Agar kalian tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kalian, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. [Q.S. Al-Hadid (57): 23]

 Kedua, tidak merasa resah tatkala dicaci, begitu juga tak merasa berbangga diri ketika dipuji. Seseorang yang benar-benar terdapat zuhud dalam dirinya, maka ia akan memalingkan dirinya dari segala sesuatu yang bisa membuatnya terlena dan menjauhkannya dari sisi Allah Swt., termasuk di dalamnya ialah hinaan dan pujian. Tatkala ia tak terpengaruh lagi dengan hinaan dan pujian manusia, maka ia pun akan biasa saja ketika mendapat cacian maupun pujian. Dalam istilah yang kita kenal, “dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang.”

Ketiga, hatinya tenteram karena selalu dekat dengan Allah Swt., juga telah terpenuhi dengan manisnya buah ketaatan dan kecintaan kepada Allah Swt. Karena sebenarnya hati manusia itu akan selalu dipenuhi dengan manisnya cinta. Tetapi sayang sekali apabila yang bersemayam dalam hati ialah manisnya cinta kepada dunia, bukan manisnya cinta kepada Allah Swt.

Terkait hati manusia yang bisa merasakan cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia, Imam al-Ghazali mengibaratkan keduanya layaknya air dan angin dalam suatu gelas. Yang mana ketika air dituangkan ke dalam gelas dan memenuhinya, maka udara akan keluar dari gelas itu. Tatkala air dalam gelas hanya sedikit, maka anginlah yang akan memenuhi gelas itu. Keduanya memang tak bisa berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama.

Begitu juga dengan hati manusia. Apabila manisnya cinta kepada Allah telah memenuhi hati orang yang zuhud, maka rasa cinta kepada dunia itu pun akan menjauh. Tetapi jika kecintaan kepada Allah hanya sedikit, maka rasa cinta kepada dunia pun akan masuk bebas dan memenuhi ruang hati. Selanjutnya, sang pemilik gelas diperkenankan untuk menentukan, gelasnya akan diisi air atau angin.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here