Memahami Makna Al-‘Adl dalam Asmaulhusna

1
14

BincangSyariah.Com – Al-‘Adl memiliki makna Maha Adil. Maha Adil di sini adalah bahwa Keadilan Allah Swt. bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa pun.

Selain itu, keadilan Allah Swt. juga didasari dengan ilmu Allah Swt. yang Maha Luas. Maka dari itu, tidak mungkin keputusan-Nya adalah hal yang salah.

Allah Swt. Berfirman dalam Q.S. al-An’ām (6) ayat 115 sebagai berikut:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Wa tammat kalimatu rabbika ṣidqaw wa ‘adlā, lā mubaddila likalimātih, wa huwas-samī’ul-‘alīm

Artinya: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.”

Kata Al-‘Adl berasal dari ‘adala yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda.

Persamaan inilah yang menunjukkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih. Adil dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Allah Swt. dinamai al-‘Adl sebab keadilan Allah Swt. adalah sempurna. Semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah Swt. sudah menunjukkan keadilan yang sempurna.

Hanya saja, banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak mampu menangkap keadilan Allah Swt. terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya.

Oleh karena itu, sebelum menilai sesuatu adil atau tidak, kita harus bisa memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus yang akan dinilai.

Akal manusia tidak mampu menembus semua dimensi tersebut. Saat manusia memandang sesuatu, secara sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil. Padahal, jika dipandangnya secara luas dan menyeluruh, justru sebaliknya, menjadi keindahan, kebaikan, atau keadilan.

Sebagai misal, tahi lalat secara sepintas terlihat buruk, tapi jika berada di tengah-tengah wajah seseorang bisa terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi) terlihat kejam.

Padahal, saat dikaitkan dengan penyakit yang mengharuskannya untuk dipotong, amputasi justru merupakan suatu kebaikan. Di situlah makna keadilan yang tidak gampang menilainya.

Allah Swt. Maha Adil. Mengapa demikian? Sebab Allah Swt. menempatkan semua manusia pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya karena keturunan, kekayaan, apalagi jabatan.

Dekat jauhnya posisi seseorang dengan Allah Swt. hanya bisa diukur dari seberapa besar mereka berusaha meningkatkan takwanya.

Semakin tinggi tingkat ketakwaan seseorang, maka makin tinggi pula posisinya, dan makin mulia dan dimuliakan pula oleh Allah Swt., begitu juga sebaliknya.

Sebagian dari keadilan-Nya, Dia hanya menghukum dan memberi sanksi kepada mereka yang terlibat langsung dalam perbuatan maksiat atau dosa.

Istilah dosa turunan, hukum karma, dan lain semisalnya tidak dikenal dalam syari’at Islam. Semua manusia di hadapan Allah Swt. akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.

Keadilan Allah Swt. juga selalu disertai dengan sifat kasih sayang. Dia memberi pahala sejak seseorang berniat berbuat baik dan melipatgandakan pahalanya jika kemudian direalisasikan dalam amal perbuatan.

Sebaliknya, Dia tidak langsung memberi catatan dosa selagi masih berupa niat berbuat jahat. Sebuah dosa baru dicatat apabila seseorang telah benar-benar berlaku jahat.[]

Baca: Memahami Makna Al-Jami’ dalam Asmaulhusna

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here