Memahami Kondisi Sosial Jazirah Arab dalam Hadis Nabi

0
111

BincangSyariah.Com – Pendekatan lainnya yang dapat membantu seseorang dalam memahami hadis nabi adalah dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Maksudnya, dengan melihat dan mengetahui bagaimana kondisi sosial yang terjadi ketika Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya atau melakukan sesuatu. Hal tersebut penting untuk diketahui karena terkadang kondisi sosial pada masa nabi berbeda sekali dengan kondisi sosial pada saat ini. Sehingga pada beberapa kasus, pemahaman terhadap hadis nabi tidak dapat diamalkan dan dipahami secara tekstual (secara lafdz) karena perbedaan kondisi tersebut.

Berikut ini hadis yang harus dipahami dengan menggunakan pendekatan sosiologis (kondisi sosial) karena bila tidak, maka kesimpulan hukum dari hadisnya tidak akan tepat atau dapat menyalahi sunnah itu sendiri.

Contohnya adalah, shalat dengan menggunakan sandal.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Abu Sa’id al-Khudri RA berkata:

بَيْنَمَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَتَهُ ، قَالَ : مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ ، قَالُوا : رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ جِبْرِيلَ صلى الله عليه وسلم أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ : أَذًى – وَقَالَ : إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ : فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا

Artinya: ketika Rasulullah SAW sedang shalat dengan para sahabat, beliau melepaskan sandalnya dan meletakkan di sebelah kirinya. Ketika sahabatnya melihat demikian, mereka pun melepaskan sandalnya juga. Setelah melaksanakan shalat Rasulullah berkata: kenapa kalian melepaskan sandal. Mereka menjawab,“kami melihatmu melepaskan sandal maka kami pun melepaskannya”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,“sesungguhnya malaikat Jibril mendatangiku dan berkata bahwa di babawah telapak sendalku terdapat kotoran”. Dan beliau bersabda: “apabila salah seorang dari kalian hendak ke masjid, maka perhatikanlah; jika ia kotoran maka bersihkanlah dan shalatlah dengan menggunakan sandal tersebut”.

Dalam hadis di atas jelas sekali disebutkan, Rasulullah Saw dan juga sahabatnya pernah memakai sandal ketika sedang melaksanakan shalat, yaitu ketika sedang melaksanakan shalat subuh di Makkah al-Mukarramah atau yang dikenal dengan masjid al-Haram pada saat fathul makkah (dalam riwayat yang lain).  Bila demikian adanya apakah kita pada saat ini yang tinggal di Indonesia atau tempat lainnya disunnahkan untuk shalat di masjid dengan memakai sandal karena Rasulullah Saw melakukan hal tersebut? jawabannya tentu saja tidak.

Baca Juga :  Ini Dalil Akad Nikah itu Ibadah, Masih Ragu Menikah?

Untuk saat ini tidak ada satu pun ulama yang berpendapat adanya kesunahan memakai sandal di dalam masjid saat melaksanakan shalat, hal ini disebabkan karena mereka memahami adanya perbedaan kondisi sosial pada saat Rasulullah diutus dengan kondisi sosial pada hari ini. Kondisi masjid pada zaman Nabi Muhammad Saw itu hanya sepetak tanah yang berbentuk persegi yang di kelilingi oleh pagar atau dinding  di bagian sisi-sisinya dan lantainya beralas pasir dan kerikil. Kondisi masjid yang seperti ini sangat kondisional untuk memakai sandal, sepatu, dan alat kaki sejenisnya.

Sedangkan di masa sekarang lantai masjidnya dilapisi oleh marmer dan kramik serta tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalamnya dan shalat dengan mengenakan sandal. Bahkan banyak masjid yang sudah beralaskan karpet mewah hingga tidak diperkenankan siapapun untuk memakai sandal di dalamnya.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami, dalam memahami hadis Nabi Saw seseorang juga harus mampu membaca kondisi dan situasi sosial saat nabi melakukan sesuatu atau bersabda. Seperti hadis di atas setelah kita memahami kondisi sosial saat itu maka untuk saat ini hadis tersebut tidak dapat diamalkan secara tekstual, jadi hadisnya hanya dapat diamalkan apabila kondisi masjidnya sama seperti kondisi masjid pada zaman nabi dan sandalnya tidak bernajis saat mengerjakan shalat, namun ia tidak dapat diamalkan secara tekstual (lafdzi) untuk kondisi masjid-masjid yang ada sekarang maksudnya seseorang tidak disunnahkan untuk shalat dengan memakai sandal di majid.

Ali Mustafa Yaqub dalam kitab al-Thuruq al-Shahihah fi Fahm Sunnah al-Nabawiyah, menjelaskan kisah perjalan hidupnya saat “travelling” keliling dunia di 33 negara. Dalam perjalanannya itu, saat ia shalat di masjid-masjid, ia tidak pernah menemukan adanya orang yang masuk ke dalam masjid dan shalat dengan memakai sandal. Menurutnya hal ini menunjukkan adanya kesepakatan umat (ijmak) untuk tidak boleh memakai sandal saat shalat di dalam masjid. Banyak lagi contoh kasus lainnya terkait hadis yang lazimnya dipahami dengan pendekatan sosiologis seperti hadis meludah di dalam masjid, buang hajat (BAB) di luar rumah dan sebagainya. Wallahu a’lam.

[rujukan utama, kitab al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here