Memahami Istilah Taklif

0
54

BincangSyariah.Com – Untuk memahami istilah taklif, saya akan memulai penjelasannya dengan kisah. Pembaca yang budiman, ketika seorang manusia dilahirkan di muka bumi, maka sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, ia dibebani untuk melaksanakan syariat Islam agar hidupnya berada dalam aturan yang diridhai oleh Allah SWT. Sebagaimana telah kita pahami, bahwasanya syariat Islam berisikan perintah dan larangan yang berasal dari Allah SWT. Dengan kata lain, dalam hal ini pihak yang menjadi Sang Pemberi Hukum (Hakim) ialah Allah SWT. Persoalannya ialah kepada siapakah hukum-hukum tersebut dibebankan?

Para ulama ushul fikih merumuskan bahwa pihak yang dibebani hukum tersebut ialah mukallaf. Dalam tulisan kali ini akan coba kita bedah siapakah yang dimaksud sebagai mukallaf tersebut.

Secara kebahasaan, mukallaf bermakna orang-orang yang terkena taklif. Taklif itu sendiri maknanya ialah:

إِلْزَامُ مَا فِيْهِ كُلْفَةٌ

“Membebani sesuatu yang ada kesukaran didalamnya.”

Tentu saja ada dua jenis dari model pembebanan ini, yakni perintah dan larangan. Dari perintah kemudian timbul hukum wajib dan sunnah, sementara dari larangan, timbul hokum haram dan makruh.

Lantas siapakah yang masuk dalam kategori sebagai mukallaf? Para ulama mendeskripsikan mereka sebagai baligh dan berakal. Baligh ialah istilah ketika seorang lelaki mencapai usia 14 tahun atau sudah bermimpi basah dan seorang perempuan ketika sudah mencapai usia 9 tahun atau sudah haidl.

Sebelum mencapai usia baligh, seorang anak kecil belum dibebani untuk menjalankan syariat Islam, namun tetap diperintahkan untuk melaksanakannya dalam rangka pembelajaran.

Sementara orang yang tidak berakal, seperti orang gila, mereka tidak dibebani untuk menjalankan syariat. Namun bagi wali atau pengawasnya wajib untuk mencegah mereka agar jangan sampai melakukan tindakan agresif yang merugikan diri sendiri atau orang lain.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Budaya Arab dalam Hadis

Khusus untuk persoalan zakat, apabila anak kecil atau orang gila memiliki harta yang wajib dizakati karena misalkan sudah mencapai nishab atau sudah haul, maka harta tersebut tetap dizakati, karena dalam bab zakat, yang menjadi pertimbangan ialah wujud daripada zakat tersebut, bukan dari pemilik atau pelakunya.

Taklif untuk menjalankan perintah dan menghindari larangan syariat ini berlaku bagi orang muslim dan kafir. Namun karena pelaksanaan syariat hanya bisa sah apabila orang seseorang berstatus sebagai muslim, maka wajib baginya untuk terlebih dahulu bersyahadat masuk islam, sebagaimana dalil firman Allah QS. At-Taubah [9]: 54,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ

Wa mā mana’ahum an tuqbala min-hum nafaqātuhum illā annahum kafarụ billāhi wa birasụlihī

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ketika mereka telah masuk Islam, maka merekaa tidak perlu mengqodlo (mengerjakan kewajiban yang belum dikerjakan) apapun yang tidak mereka kerjakan sebelumnya, sebagaimana dalil firman Allah QS. Al-Anfal [8]: 38,

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِن يَنتَهُوا۟ يُغْفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ وَإِن يَعُودُوا۟ فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ ٱلْأَوَّلِينَ

Qul lillażīna kafarū iy yantahụ yugfar lahum mā qad salaf, wa iy ya’ụdụ fa qad maḍat sunnatul-awwalīn

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.”

Sedangkan untuk dalil bahwa mereka wajib melaksanakan syariat Islam bisa kita lihat dalam firman Allah QS. Al-Mudatstsir [74]: 42-47,

Baca Juga :  Khilafah Bukan Syariat Islam (1)

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ

Mā salakakum fī saqar Qālụ lam naku minal-muṣallīn

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,”

Apabila mereka tidak diwajibkan untuk menjalankan syariat islam, tentunya mereka tidak akan disiksa karena meninggalkan salat.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here