Memahami Hakikat Ihsan dalam Islam

0
2277

BincangSyariah.Com – Dalam Islam terdapat landasan-landasan yang wajib dipahami, karena landasan ini yang menjadi ‘ruh’ dari seluruh kegiatan berislam. Islam mengajarkan bahwa sedikitnya terdapat 3 landasan utama yang harus dipahami dan dimaknai secara mendalam kemudian diimplementasikan dengan sebaik-baiknya. Makna berislam akan tidak sempurna ketika ketiga landasan ini tidak tersinkronisasi dan termaksimalkan dengan baik. Tiga landasan tersebut adalah rukun iman, rukun islam, dan rukun ihsan.

Rukun Iman dan Rukun Islam adalah dua hal yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun banyak yang melupakan untuk yang ketiga. Padahal ihsan memiliki dampak sangat besar ketika diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ihsan bisa menjadi pengaja, bahkan peniglat kualitas setiap amalan yang dilaksanakan. Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal islam, iman, dan ihsan, beliau menuturkan tentang ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Definisi Ihsan yang dijavarkan Rasulullah di dalam hadits tersebut adalah kita, umat Islam, beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah namun ketika kita merasa tidak dapat melihatNya, maka kita harus senantiasa yakin bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah luput untuk memperhatikan dan mengawasi kita dimanapun dan kapanpun kita berada.

Hakikat ihsan mengajarkan kita agar senantiasa menjaga dan memperhatikan hak-hak Allah, serta menyadari betapa agungnya kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.  Ihsan mengajarkan kepada seluruh Muslim untuk bersikap professional dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Meningkatkan kualitas, memperbanyak kuantitas,  menebar kebermanfaatan, dan mempersembahkan yang terbaik yang ia mampu merupakan syarat-syarat seorang muslim untuk berlaku professional. Karena memang, hakikat hidup ini adalah sebagai ajang untuk berlomba-lomba mempersembahkan amal terbaik.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Pesona Madinah

Imam Nawawi juga dalam menjelaskan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut. Keterengan tersebut tertulis dalam kitab al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj.

Dengan begitu benar adanya jika ihsan bisa meningkatkan kualitas diri seorang muslim dan amalannya dilandasi sebuah keyakinan bahwa sesungguhnay Allah senantiasa mengawasi dan menilai amalan-amalannya dimanapun dan kapanpun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here