Memahami Hadis: Hiduplah Layaklah Pengembara

0
40

BincangSyariah.Com – Manusia terlahir ke dunia membawa amanah yang berat sekaligus tugas yang mulia. Penegasan Allah tentang posisi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini adalah kombinasi antara beban amanah dan kepercayaan Allah kepada kita agar mampu memaksimalkan fungsi khalifah itu sendiri.

Imam Husain al-Baghawi, dalam Tafsir al-Baghawi, mengatakan bahwa maksud didaulatnya manusia sebagai khalifatullah di muka bumi ini adalah agar manusia bisa menegakkan hukum-hukum serta mewujudkan pesan-pesan ketuhanan dari Allah Swt di muka bumi ini.

Tentu upaya menuju hal tersebut harus dilandasi dengan metode-metode yang diteladankan langsung oleh Rasulullah Saw, yakni berupa pengajaran moral kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kesantunan.

Dalam konteks berkehidupan, Rasulullah pernah memberikan sebuah wasiat penting kepada kita semua. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radiyallahu anhu, Rasulullah Saw menasihati kita,

“Hiduplah engkau di muka bumi ini seakan-akan engkau adalah orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Imam an-Nawawi menjelaskan hadis ini dengan ungkapan, “Janganlah hatimu condong kepada dunia dan jangan jadikan ia sebagai tanah air tempat engkau merasa abadi di dalamnya.” Hal inilah yang menurut beliau senada dengan ungkapan sahabat Salman al-Farisi radhiyallahu anhu, “Jangan kamu jadikan dunia kecuali sebagai kendaraan saja.”

Imam an-Nawawi menambahkan, wasiat Nabi Saw ini mengajak kita untuk melakukan refleksi bersama untuk membatasi angan-angan, memprioritaskan taubat, serta mengadakan persiapan menghadapi kematian, fase perjalanan manusia selepas hidup di dunia. Demikian penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh al-Arbain al-Nawawiyah.

Hal ini benar adanya. Kerap kita dengar bahwa hidup di dunia ibarat melakukan persinggahan saja, persinggahan dari sebuah perjalanan yang begitu panjang. Ibarat seorang pengembara, yang hidup di dunia layaknya bersinggah saja, maka janganlah ia terlalu menautkan hatinya di tempat ia bersinggah, karena sesungguhnya ada tujuan utama yang harus dia tempuh, yakni akhirat.

Baca Juga :  Persahabatan Rasulullah dengan Pembesar Kafir Quraisy

Ibn Daqiq al-Id dalam Syarh al-Arbain menjelaskan bahwa anjuran Nabi agar menyerupai seorang yang asing adalah agar kita, umat muslim, layaknya orang asing yang apabila datang ke sebuah negeri ia tidak akan berlomba-lomba memupuk kekayaan dengan warga sekitar dan tidak sampai memicu perselisihan akibat hal tersebut, kondisi inilah yang seharusnya dimiliki seorang beriman.

Demikian para ulama terdahulu menyerukan kepada umat Islam agar senantiasa berlaku zuhud. Zuhud dalam pengertian memprioritaskan amalan-amalan akhirat ketimbang amalan dunia.

Dunia Tempat Mengemas Bekal

Jika sudah dimaklumi pesan Rasulullah bahwa hidup di dunia perlu diibaratkan dengan laku pemgembara, yang sadar bahwa akan ada perjalanan yang lebih panjang lagi setelahnya, maka kita perlu untuk menyiapkan bekal yang cukup agar sampai di tujuan utama kelak.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan,

من عرف بعد السفر استعد

“Barangsiapa tahu jauhnya perjalanan, maka ia akan mempersiapkannya”

Allah Swt berfirman,

“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaanmu kepada Allah Swt.” (Al-Baqarah [2]: 173)

Ketakwaan yang kita miliki di dunia akan menjadi perbendaharaan bekal kita dalam perjalanan panjang menuju akhirat. Sayyiduna Ali Karramallahu Wajhahu mengatakan bahwa posisi kita saat ini (hidup di dunia) adalah waktu untuk beramal, bukan masa penimbangan amal. Sedangkan hidup kita esok, saat di akhirat, adalah waktu untuk penimbangan amal, bukan untuk beramal.

Islam Tidak Melarang Kaya

Dari beberapa uraian maksud hadis di atas, muncul sebuah kesimpulan bahwa Islam menganjurkan kita agar berlaku sederhana, bersikap zuhud, tidak terlalu terikat dengan kehidupan dunia. Hal ini sejalan dengan subtansi teologi islam yang meyakini bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan abadi, yakni kehidupan akhirat.

Baca Juga :  Hukum Menerima Beasiswa dari Non-Muslim

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut [29]: 64)

Kendati demikian, Islam tidak lantas menafikan anjuran untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya semasa hidup di dunia. Sosok Nabi yang saudagar, mempersunting seorang saudagar yang kaya raya, Sayyidah Khadijah Ra, serta banyaknya sahabat yang memiliki perbendaharaan kekayaan melimpah, merupakan indikasi bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Bahkan menganjurkannya. Selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan.

Secara implisit, ayat-ayat tentang keutamaan berjihad menggunakan harta adalah anjuran seorang muslim menjadi kaya. Di antaranya adalah firman Allah berikut,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (At-Taubah [9]: 20)

Dengan harta yang melimpah, banyak sahabat menghibahkan banyak hewan peliharannya untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dengan harta yang melimpah, para pemimpin islam mampu mensejahterakan rakyatnya serta memajukan peradabannya. Dengan harta yang melimpah, seorang muslim bisa masuk surga dan mendapat ridho-Nya lantaran banyak bersedekah.

Semua berdasarkan prinsip dalam diri, jika dengan harta tersebut ia bisa melakukan banyak kebaikan, maka menjadi kaya adalah pilihan bijak baginya. Namun, jika harta yang melimpah membuat ia lalai beribadah dan terikat dengan dunia, maka ini hal yang perlu diwaspadai. Karena hidup kita di dunia ini, sebagaimana nasihat Nabi Saw di atas, hanyalah bagian dari pengembaraan yang singkat saja, yang tidak perlu kita memegahkan bangunan di dalamnya, karena kita harus segera melanjutkan perjalanan ke tujuan utama.

Baca Juga :  Telaah Hadis: Apa Maksud Hadis Istri Sujud Kepada Suami ?

Wallahu A’lam Bisshawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here