Memahami Hadis Bayi yang Terlahir dalam Keadaan Kafir

1
7255

BincangSyariah.Com – Allah SWT berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”

Nabi Muhammad SAW berfirman:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه

“Setiap orang terlahir dalam kondisi fitrah. Kedua orang tuanya lah yang membuat dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Fithrah dalam Lisan al-‘Arab dimaknai sebagai permulaan dan penemuan (al-ibtida’ wa al-ikhtira’). Sementara Abu Syamah sebagaimana dikutip dalam Fath al-Bari mengemukakan bahwa makna fitrah adalah struktur awal (al-khilqah al-mubtadi’ah).

Namun berdasarkan dua nas di atas beberapa orang menyimpulkan bahwa setiap manusia pada dasarnya terlahir sebagai seorang Muslim. Akan tetapi kedua orang tuanya lah yang membawa seseorang tersebut ‘melenceng’.

Begitu kira-kira pendapat mereka. Benarkah demikian? Berikut penjelasan yang kami sarikan dari Mawahib al-Karim, al-Tamhid, serta referensi lain.

Kajian mendalam atas kedua hadis ini sebenarnya mengantarkan kesimpulan yang berbeda dari makna literal hadis ini. Karena hadis ini memiliki makna yang sekilas ‘kontradiktif’ dengan dalil-dalil lain yang justru menyatakan kebalikannya. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.”

Dalam ayat ini, Allah SWT hendak menyatakan bahwa seorang bayi tidak mengetahui apa pun ketika keluar dari perut ibunya. “Maka,” ujar Ibn Abd al-Barr dalam al-Tamhid, “mustahil bagi seorang anak yang baru dilahirkan untuk memahami iman dan kufur.” Ibn Abd al-Barr mengatakan bahwa pendapat ini lebih tepat.

Memang bisa dimaklumi, karena memaknai fitrah sebagai Islam bukan saja bertentangan dengan ayat di atas. Pemaknaan ini juga akan berhadapan dengan hadis Nabi SAW dalam salah satu khutbah beliau yang diriwayatkan Imam Turmudzi dalam al-Sunan:

ومنهم من يولد كافرا ويحيا كافرا ويموت كافرا

Baca Juga :  Tata Cara Berobat dengan Air Hujan

“Ada anak Adam yang terlahir kafir, hidup kafir, dan mati sebagai orang kafir.” (Imam Turmudzi menghukumi sebagai Hadis sahih).

Hadis ini memberi petunjuk yang jelas tentang kondisi anak Adam bahwa ia mungkin saja lahir tidak dalam kondisi Islam. Shafi al-Rahman seorang alim terpelajar dari Mubarakpur sebuah kota di India bagian utara mengatakan dalam Tuhfah al-Ahwadzi:

“Ketika seorang anak dilahirkan ia tidak bisa dihukumi beriman kecuali memandang apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT sejak zaman azali.”

Lantas kalau memang kontradiktif dengan hadis tentang fitrah, bagaimana proses kompromi (jam’u) memahami beberapa nas ini?

Kejanggalan ini rupanya ditangkap Shafi al-Rahman. Masih dalam Tuhfah al-Ahwadzi ia berkata, “Hadis ini tidak bertentangan dengan hadis tentang fitrah, karena yang dimaksud fitrah adalah potensi menerima petunjuk (qabiliyyah al-hidayah).”

Dalam menyampaikan ini ia tentu bertendensi kepada pendapat para ahli ilmu. Di antara para ulama yang memiliki pandangan serupa adalah al-Nawawi. Beliau berkata dalam Syarh Sahih Muslim mengenai hadis fitrah di atas, “Menurut pendapat ashah maksud hadis itu adalah: setiap bayi yang dilahirkan siap untuk menerima Islam.”

Seperti sudah diterangkan, pendapat ini juga pendapat ashah yang dipilih oleh Ibn Abd al-Barr. Beliau menambahkan, “Bayi yang tidak mengetahui apa pun,” ujar beliau, “mustahil ia memilih iman atau kufur, ingkar atau makrifat.”

Pendapat ini oleh al-Qurthubi disebut sebagai pendapat yang didukung oleh sahabat Ibn Abbas dan seorang mufassir besar bernama Ibn Athiyyah. Tidak jauh berbeda dengan yang lain, menurut Ibn Athiyyah yang dimaksud fitrah adalah kesiapan. Beliau berkata sebagaimana dikutip al-Qurthubi:

أنها الخلقة والهيئة التي في نفس الطفل التي هي معدة ومهيأة لأن يميز بها مصنوعات الله

Baca Juga :  Mudahnya Menjadi Muslim

“Sesungguhnya fitrah adalah kodrat dan kondisi yang ada di jiwa setiap bayi yang mana ia bermakna kesiapan memahami ciptaan Tuhan,”

Dari sini bisa disimpulkan bahwa menurut pendapat yang unggul makna fitrah pada hakikatnya bukanlah agama Islam. Karena mustahil bagi seorang bayi untuk memeluk agama tertentu padahal ia tak tahu apa pun. Makna fitrah adalah potensi untuk menerima ajaran. Ia juga bisa bermakna kesiapan untuk menerima doktrin. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here