Memahami dan Menghidupkan Pancasila: Konsep Ma’ruf [1]

1
635

BincangSyariah.com – Pancasila adalah konklusi yang final bagi ideologi bangsa Indonesia. Pancasila terbentuk atas penggalian nilai-nilai kehidupan penduduk nusantara secara luas selama berabad-abad lamanya. Bentuk perjuangan yang mendasari ruh Pancasila sudah dilakukan sejak era pra-modern oleh pahlawan-pahlawan di perjuangan lokal hingga perlawanan yang diusung secara kolektif oleh organisasi-organisasi pergerakan pada era modern. Seperti misalnya Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarikat Islam, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain

Kenyataan sejarah yang sangat panjang, tentu dirintangi dengan banyak dilema yang menyertainya. Finalisasi Pancasila yang sudah diproklamirkan sejak tanggal 18 Agustus 1945 menemui bermacam-macam perlawanan untuk melengserkannya dari tatanan ideologi bangsa. Salah satu diantaranya adalah paham mengenai khilafatisme, dengan keyakinan hanya lewat penegakan khilafah syariat Islam bisa terwujud dalam konteks berbangsa.

Menurut Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA., pakar tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam sebuah webinar pada hari jumat (19/6), menuturkan bahwa perlawanan yang terjadi maraknya terinisiasi oleh kelompok-kelompok kecil. Saudara-saudara muslim Indonesia yang berusaha menggantikan ideologi Pancasila, berpandangan bahwa hal yang mengandung kebenaran hanya berasal dari pemahaman Al-Quran dan Hadis yang literal.

Memang statement sangat dibenarkan apabila dimasukkan kedalam konteks keislaman. Namun Ia menyayangkan pandangan tersebut yang terkesan terlalu sempit. Kelompok tersebut dinilai belum melihat islam secara penuh dan fundamental, yang memberikan ruang bagi nilai-nilai yang ma’ruf. Ma’ruf yang dimaksud disini adalah metode memahami nilai-nilai yang baik.

Konsep Ma’ruf

Beberapa pandangan dari para ulama mewarnai defisini dan makna tentang ‘urf atau ma’ruf. Dalam kitab al Kasysyaf (2:545), karya az-Zamakhsyari (w. 538 H), salah seorang tokoh Mu’tazilah yang kenamaan pada bidangnya, mengurai makna dari dua kata tersebut. Az Zamakhsyari mengambil ayat pada Q.S. al A’raf [7]: 199 yang berbunyi,

Baca Juga :  Menjaga Pancasila di Indonesia Justru Memperkuat Agama

 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh

Pada ayat di atas, az-Zamakhsyari menyatakan bahwa kata ‘urf itu berarti,

المعروف و الجميل من الأفعال

Perilaku-perilaku yang dikenal dan baik/ indah

Senada dengan argumentasi di atas, Abu Hayyan (w. 744 H) dalam al-Bahr al-Muhith (4:444), salah seorang mufassir sunni, mengungkap makna ‘urf yang berbunyi,

المعروف و الجميل من الأفعال و الأقوال

Perbuatan dan perkataan yang dikenal dan baik/ indah

Namun pada tempat lain, namun masih dalam al Kasysyaf (1:463) az Zamakhsyari juga mengungkap makna lain dari ‘urf. Ia mengatakan bahwa,

المعروف الوجه الذي يحسن في الشرع و المروعة

Ma’ruf adalah bentuk perilaku yang baik menurut syara’ dan muru’ah (kewibawaan)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here