Cara Memahami Hadis: Memahami Budaya Arab dalam Hadis

0
1834

BincangSyariah.Com – Ulama bersepakat, al-Quran dan hadis adalah dua sumber utama ajaran Islam. Seorang muslim yang ingkar kepada salah satu dari keduanya adalah sesat. Karena terdapat banyak sekali ayat al-Quran dan hadis yang menjelaskan bahwa seorang muslim berkewajiban untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya baik berupa perintah maupun larangan.

Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw; perkataan, perbuat, taqrir (ketetapan) dan sifatnya dimanakan dengan hadis atau sunnah. Beliau adalah contoh dan role model bagi seluruh umatnya yang harus diteladani. Namun demikan apakah seluruh hadis atau sunnah harus diikuti oleh umatnya melihat terdapat ayat al-Quran

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Qs. Al-Hasyr: 7).

untuk menjawab soal ini, bila melihat ayat tersebut sekilas, betul Allah memerintahkan umat islam untuk mengambil dan mengikuti apa saja yang datang dari nabi, karena lafaz “ma” (sesuatu) pada ayat di atas berarti umum, baik berupa syariat dan agama, atau dalam urusan dunia berupa budaya dan muamalah. Tetapi dalam pandangan yang lain sifat umum yang terdapat dalam ayat di atas tidak selamanya demikian kerena terdapat riwayat hadis yang mengkhusukan keumumannya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:
Artinya: Rasulullah SAW. Datang ke Madinah pada saat penduduknya melakukan penyerbukan kurma. Nabi bertanya, “Apa yang kalian lakukan?” mereka menjawab, “Kami melakukan sesuatu yang biasa kami lakukan (penyerbukan kurma). Jawab rasul, “Barangkali kali kalian tidak melakukannya, itu lebih baik.”Merekapun tidak melakukan hal itu lagi, dan ternyata kurma mereka hasilnya berkurang. Rafi’ berkata, “Lalu mereka ceritakan kejadian itu pada Rasulullah lagi. Maka rasulpun bersabda, “Saya hanya seorang manusia, apabila aku perintahkan kalian mengenai sesuatu tentang Agama, pegangilah dengan teguh perintah itu, apabila aku perintahkan kalian berdasarkan pendapatku, maka aku hanyalah manusia. (HR. Muslim).

Oleh karena itu ayat di atas tidak dapat dipahami secara umum karena ada riwayat hadis yang mengkhususkannya. Berdasarkan hal inilah imam Nawawi dalam kitabnya ketika mensyarah Shahih Muslim membuat sebuah bab yang berjudulBab Wujub Imtisal Ma Qalahu Rasulullah Saw Syar’an Duna Ma Dzakarah min Ma’ayisy al-Dunya ‘aka Sabil al-Ra’y yaitu (bab kewajiban mengikuti sabda nabi yang berkaitan dengan syari’ah, bukan pernyataan beliau yang berkaitan tentang kehidupan dunia menurut pandangannya).

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Manusia Diuji oleh Allah Sesuai dengan Kedudukannya

Dari sinilah ulama ushul fikih memunculkan istilah sunnah tasyri’iyah dan non-tasyri’iyah, yaitu sunnah yang berimplikasi kepada hukum syariat dan tidak berimplikasi kepada hukum syariat, Menurut ulama lafaz “min ra’yi” (berdasarkan pendapatku) dalam hadis di atas bermakna urusan dunia dan kehidupannya, bukan tentang syaria Islam. Maka yang wajib atau sunnah untuk diambil dari Nabi Muhammad Saw adalah segala sesuatu yang berupa syariat, dan segala hal di luar itu boleh diambil dan tidak seperti masalah budaya meskipun nabi melakukannya, dan itu sangat sedikit sekali.

Seperti Hadis menabuh rebana saat walimah nikah

Terdapat beberapa hadis yang menjeskan tentang menabuh rebana saat adanya acara pernikahan. Seperti dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Tirmidzi dari bunda Aisyah Ra, Rasulullah Saw bersabda.

أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Umumkanlah pernikahan ini. Jadikan masjid sebagai tempatnya. Tabuhlah rebana untuk mengumumkannya. Hadis ini berstatus hasan gharib.

Hadis tentang menabuh rebana tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah dalam Islam meskipun beberapa di antaranya terdapat hadis lain yang bermasalah (dhaif). Melalui hadis di atas dapat dipahami bahwa rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk mengumumkan pernikahan dengan cara menabuh rebana atau alduff, karena menabuh rebana lebih kuat gaungnya untuk mengumumkan pernikahan dari pada tidak melakukannya sama sekali. Al-Duff adalah salah satu alat musik tradisional yang ada pada masa nabi di Jazirah Arab saat itu.

Secara dzahir redaksi perintah dalam hadis di atas adalah bersifat wajib. Namun tidak ada ulama yang berpendapat demikian sehingga hukumnya menjadi sunnah. Tingkatan kesunnahannya pun dengan syarat tidak ada perbuatan-perbuatan haram di dalamnya seperti menabuh rebana yang disertai Joget dan bernyanyi dengan lirik yang mengajak pada kemaksiatan atau kemusyrikan. Dalam hal ini Ali Mustafa Yaqub sependapat dengan Imam al-Kahlani yang berpendapat, hukum menabuh rebana saat acara pernikahan bukanlah wajib melainkan hanya sebatas sunnah. Sehingga bila kita mengatakan menabuh rebana adalah sunnah, apakah boleh menggunakan alat atau cara lainnya dalam mengumumkan pernikahan?

Baca Juga :  Menyembelih Sifat Hewani dalam Diri Kita

Ali Mustafa Yaqub melanjutkan, dalam mengumumkan pernikahan tampaknya seseorang boleh saja menggunakan cara yang lain selain menabuh rebana. Karena pada dasarnya rebana adalah alat musik bangsa Arab pada saat Nabi diutus. Hal ini bukan bagian dari agama, ia hanya merupakan salah satu budaya Arab saat itu. Oleh karena itu seseorang boleh saja mengumumkan pernikahannya dengan cara atau alat lainnya sesuai dengan adat di daerahnya  masing-masing selama cara dan alat tersebut tidak diharamkan oleh agama. Dan masih banyak lagi kasus lainnya tentang budaya Arab dalam sunnah nabi seperti hadis tentang pakaian, jubbah, surban dll.

Kriteria singkat agama dan budaya: Pertama, syariat Islam hanya diamalkan oleh kaum muslimin saya. Kedua, beberapa budaya terkadanag sudah ada sebulum datangnya Islam seperti memakai jubbah, dan terus berlanjut saat Islam datang. Ketiga, beberapa budaya ada yang sudah muncul sebelum Islam datang, kemudian turun wahyu yang memerintan untuk melakukannya, maka seteleh itu budaya tersebut menjadi syariat Islam, seperti manasik haji. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

[sumber rujukan: al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here