Meluruskan Meme “Haramnya Ilmu Filsafat”

0
495

BincangSyariah.Com – Belum lama ini beredar meme yang menyatakan haramnya ilmu filsafat. Langsung saja, menurut saya, penerjemahan di meme ini tidak tepat, keluar konteks, dan bisa berimplikasi pada pengharaman ilmu yang tidak bisa dihindari untuk dipelajari.

Disebut-sebut penulisnya mengutip ungkapan Imam As-Syafi’i yang dikutip oleh Ad-Dzahabi dalam karyanya Tarikh al-Islam (Silahkan cek sumber aslinya disini). Sebenarnya, redaksi asli dari as-Syafi’i tidak memakai kata “filsafat”, tapi “kalam”. Berikut bunyi teksnya,

ما شيء أبغض إلي من الكلام وأهله

Maa Syai’un abghodu ilayya min al-kalam wa ahlihi. 

Jika setia dengan teks sumber, mestinya yang ‘diharamkan’ adalah ilmu kalam. Terjemahan yang pas ialah: “Tidak ada yang lebih aku benci dibanding kalam dan ahli kalam.”

Namun yang harus disadari adalah, setiap orang yang belajar akidah lalu sampai pada bab tentang sifat-sifat Allah, ia tak akan bisa menghindari ilmu kalam. Disebut ilmu “kalam” karena dulu ada polemik panas mengenai apakah “kalam Allah” itu makhluk atau bukan. Pertanyaan ini tak bisa dihindari dalam pelajaran akidah, dan pelajar akidah tak bisa mengelak untuk tidak menjawabnya dengan ilmu kalam. Bagaimana mau diharamkan kalau tak bisa dihindari?

Mari saya contohkan. Misalnya ulama ahli kalam bertanya, “jika kalam Allah itu bukan makhluk, berarti qadim (tanpa permulaan). Tapi Dzat Allah juga qadim. Bagaimana bisa ada dua qadim (ta’addud al-qudama’)?” Coba, bagaimana kelompok pengusung “manhaj salaf” (kontra-Asy’ariyah) menjawabnya dengan tanpa ilmu kalam? Saya ingin mendengar jawabannya.

Salah satu kitab biografi as-Syafi’i ialah Manaqib as-Syafi’i karya al-Baihaqi. Di kitab ini, al-Baihaqi memberi komentar (syarah) bahwa perkataan as-Syafi’i tadi (yang ungkapan al-Kalam diterjemahkan “filsafat” oleh pembuat meme). Menurut al-Baihaqi, ungkapan itu lahir dari perdebatan dengan Hafsh al-Fard, orang yang menafikan sifat-sifat Allah.

Baca Juga :  Empat Alasan Mengapa Manusia Harus Beragama

Dengan melihat konteks kata kalam di pernyataan as-Syafi’i ternyata merujuk pada satu konteks, yakni pada kaum Qadariyyah dan ‘nufat as-shifat’ (para penyangkal sifat-sifat Allah). Keterangan dari al-Baihaqi ini juga dinukil oleh “Syaikh al-Islam” Ibn Taymiyyah, yang amat dipuja oleh akun pengusung “manhaj salaf” pembuat meme.

Manaqib as-Syafi’i juga menceritakan as-Syafi’i muda pun belajar kalam, sebab sebagian gurunya adalah ahli kalam. Hal lain, di unggahan Instagram-nya, pembuat meme itu merekomendasikan agar mempelajari kitab al-‘Aqidah at-Thahawiyyah. Padahal kitab itu sebagian isinya ilmu kalam. Masa mau mengharamkan ilmu yang dipelajari sendiri?

Narasi “manhaj salaf” ini cukup mudah ditengarai, yakni ingin membenturkan keyakinan/praktik para pengikut as-Syafi’i dengan perkataan as-Syafi’i sendiri, yang dalam kasus meme ini penerjemahannya tidak tepat dan keluar konteks.

Narasi lain “manhaj salaf” adalah Asy’ariyyah sama saja dengan Mu’tazilah dan liberal. Dan ini terjadi karena belajar filsafat. Lihat tulisan dari ustadz yang diikuti “manhaj salaf” itu disini.

Padahal, Asy’ariyyah menyesatkan Mu’tazilah dan mengkafirkan sebagian filsuf Aristotelian. Jadi, persetan dengan perselisihan keras di antara tiga golongan ini, pada intinya mereka semua sama-sama anti-“manhaj salaf” dan karenanya sesat. Kurang lebih begitu pandangan ustadz yang diikuti “manhaj salaf” ini.

Khusus menyangkut filsafat, diskursus “salafi” cenderung membencinya karena filsafat membuat orang jadi banyak bertanya dan doyan mengkritik. Tapi, ketahuilah bahwa satu ungkapan dalam mahfuzhat (kumpulan ungkapan-ungkapan bijak berbahasa Arab, as-su’al nishf al-‘ilmi (pertanyaan (yang baik) ialah setengah dari ilmu).

Juga ada cerita: Ibn ‘Abbas suatu kali pernah ditanya, “Bagaimana engkau mendapatkan ilmu?” Jawabnya, “Bilisan sa’ul waqalb ‘aqul” (Dengan lisan yang banyak bertanya dan hati yang berakal).

Baca Juga :  Murtadha Muthathhari: Pencetus Dua Tradisi Besar dalam Filsafat Islam

Salah satu bagian dari filsafat ialah ilmu logika (manthiq)—setidaknya demikianlah ia dipahami dalam diskursus Islam abad pertengahan. Tentang logika, sebuah kumpulan syair (nazham) yang berisi materi ilmu mantik berjudul as-Sullam al-Murawnaq, berkata:

“Waba’du fal-manthiqu lil-janani # nisbatuhu kan-nahwi lil-lisani.”

hubungan antara manthiq (logika) dengan pikiran ialah seperti nahwu (gramatika) dengan bahasa.

Filsafat berguna merumuskan pertanyaan yang baik (yang menjadi awal dari ilmu) dan, dengan piranti logika, menertibkan pikiran untuk menjawab pertanyaan itu. Jika bukan dengan logika, yang merupakan cabang filsafat, dengan apa lagi kita berpikir?

Bilamana ada sejumlah bagian dari produk-produk pemikiran filsafat yang tidak berguna, maka berlaku kaidah khudz ma shafa wa da’ ma kadara (ambil yang jernih, tinggalkan yang keruh). Atau kaidah lain: “ma la yudraku kulluh, la yutraku kulluh” (yang tak bisa didapat seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya).

Walhasil, ini nasihat saya kepada “manhaj salaf”, tidak ada dampak terhadap citra Islam bagi pembuatan meme semacam ini kecuali semakin menunjukkan bahwa Islam itu agama taklid buta dan anti-intelektualisme.

Duh, saya merasa seperti kembali jadi diri saya bertahun-tahun lalu. Agak enggan menanggapi, karena malas terjebak dalam debat teks klasik yang tak berkesudahan. Tapi ya, demi menjernihkan yang keruh dalam permedsosan warga negara Indonesia, sesekali kayaknya tak apa-apa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here