Melihat Lebih Dalam Poligami dalam Pandangan Islam

0
3268

BincangSyariah.Com – Banyak orang yang tidak suka dengan Islam, menuduh agama Islam sudah tidak adil terhadap perempuan dengan melegalkan poligami. Menurut mereka, banyak laki-laki yang beragama Islam menjadikan kehalalan poligami sebagai senjata untuk mendiskriminasi perempuan.

Mungkin klaim ini tidak sepenuhnya salah, karena pada kenyataannya yang demikian memang tidak jarang terjadi. Tapi, dalam hal ini perlu ditekankan bahwa agama Islam tidak pernah melegalkan poligami agar dijadikan alasan untuk menyakiti sesama. Allah Swt. berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa` [4]: 3).

Dikutip di Hasyiah Al-Bajuri jilid 2 halaman 128  bahwa dalam ajaran Yahudi yang diajarkan oleh Nabi Musa As, seorang lelaki boleh menikahi banyak wanita tanpa dibatasi jumlah tertentu. Hukum ini sangat sesuai dengan situasi waktu itu, di mana banyak lelaki Bani Israil dibunuh oleh Firaun dan bawahannya. Sehingga pada waktu itu kaum hawa sangat banyak melebihi kaum adam.

Lain lagi dengan agama Nasrani. Dalam ajaran yang dibawa Nabi Isa As ini tidak dikenal hukum poligami. Ajaran Nasrani hanya memperbolehkan seorang lelaki menikahi seorang wanita saja, tidak lebih. Hukum yang demikian ini disebabkan Nabi Isa As sendiri yang dilahirkan hanya dari seorang ibu. Maka, ajaran beliau lebih mengedepankan kemaslahatan kaum wanita daripada kaum lelaki.

Di posisi ini Islam mengambil jalan tengah dengan memperbolehkan beristeri lebih dari satu namun melarang melebihi empat isteri.

Dalam dunia modern terdapat dua permasalahan pelik yang sering terjadi, di mana poligami menjadi solusi terbaik untuk mengatasinya

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Tawadhu'

Pertama, seorang lelaki yang memiliki gairah (syahwat) yang besar terhadap perempuan, sedangkan istrinya sendiri tidak mampu memuaskannya atau tidak bisa melayaninya sama sekali, entah karena kelainan bawaan lahir atau penyakit. Manakah yang lebih baik baginya, antara berhu-bungan dengan lawan jenis secara bebas (zina), menahan gairah serta menyiksa diri dengan tetap menahan kebutuhan seksualnya atau menikahi perempuan lain dengan adil? Tentu tidak perlu diragukan bahwa opsi ketiga adalah pilihan terbaik, untuk dirinya sendiri dan masyarakat.

Kedua, dalam beberapa dekade terakhir peperangan terus berkecamuk di berbagai belahan bumi. Peperangan sudah layaknya takdir yang tidak dapat dihindari bagi uamt manusia. Dampaknya di tempat-tempat terjadinya perang, populasi laki-laki terus berkurang dan akhirnya jumlah populasi perempuan jauh di atas laki-laki. Dalam kondisi demikian, sudah pasti poligami adalah solusi paling bijak dan paling manusiawi untuk dilakukan. Sangatlah tidak bijak apabila kita hanya memperbolehkan satu orang laki-laki menikahi satu perempuan saja, sementara di sekitar mereka banyak perempuan yang kehilangan harapan untuk memiliki keturunan serta akan hidup sendiri tanpa ada laki-laki yang menanggung beban hidupnya sampai tua.

Hukum melakukan poligami sendiri dalam syariat Islam setidaknya memiliki empat pembagian:

  1. Boleh disertai hukum sunah. Hal ini terjadi jika ada hajat-hajat yang diakui oleh syariat yang menuntut seorang lelaki memiliki lebih dari isteri tunggal. Seperti contoh: seorang laki-laki belum cukup terjaga kehormatannya hanya dengan memilki satu isteri atau isteri mengalami kemandulan sedang ia sangat menginginkan untuk memiliki momongan serta ia memiliki keyakinan kuat bahwa ia bisa berlaku adil. Maka dalam posisi ini melakukan poligami dihukumi sunah sebab di dalamnya mengandung sebuah kemaslahatan yang diakui syariat.
  2. Boleh/mubah. Hal ini jika poligami dilakukan tanpa adanya tuntutan hajat yang mendesak namun ia yakin bahwa ia akan mampu berbuat adil.
  3. Boleh disertai hukum makruh. Hal ini jika melakukan poligami tanpa adanya tuntutan hajat bahkan hanya untuk enak-enakan saja dan ia tidak yakin alias ragu apakah ia bisa berlaku adil atapun tidak.
  4. Hal jika seorang laki-laki punya prasangka kuat bahwa ia tidak akan mampu berlaku adil di antara isteri-isterinya, seperti ia tidak cukup mampu dalam bidang finansial.
Baca Juga :  Hukum Menikahi Pacar Orang lain

Dalam empat tataran hukum di atas, semua sangat erta kaitannya dengan perlakuan adil terhadap para isteri. Lantas apakah yang dimaksud dengan berlaku adil dalam hal ini?

Dalam Al-Fiqh Al-Manhaji jilid empat halaman 36 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan adil di sini adalah adil atau menyamaratakan terhadap semua isteri dalam hal nafkah, jenis tempat tinggal yang diberikan, pembagian waktu menginap di antara para isteri, menyamakan sikap dalam bermu’asyarah sehari-hari, dan melakukan kewajiban-kewajiban suami terhadap isteri.

Maka jika seorang suami telah mampu berlaku adil dalam hal-hal yang di atas maka ia telah dikatakan adil.

Lantas bagaimana dengan cinta? Bukannya hati tidak akan bisa berbohong?

Benar sekali. Dalam permasalahan cinta yang letaknya hanya di hati, ia tidaklah menjadi sebuah syarat seorang lelaki dikatakan adil. Namun yang harus ditekankan andai hatinya lebih condong kepada salah satu di antara para isteri, kecondongannya itu tidak boleh menimbulkan perbuatan negatif, zalim, dan aniaya terhadap isteri yang lain. Jika ini terjadi maka seorang lelaki tidaklah dikatakan adil dan haram baginya berpoligami.

Terakhir, hukum poligami di atas adalah hukum taklifi yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum wadh’i. Dalam arti, andaikata kita mengatakan sebuah poligami adalah haram atau makruh namun hal itu tidak akan berpengaruh terhadap keabsahan pernikahan. Hukum haram berpoligami akan berdampak dosa terhadap pelakunya namun pernikahan yang ia lakukan tertaplah sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here