Melihat Allah di Dunia, Mungkinkah?

0
2669

BincangSyariah.Com – Ulama Ahlussunnah (Asya’irah-Maturidiyah) sepakat orang-orang yang beriman kelak akan melihat Allah Swt. di surga-Nya. Melihat-Nya adalah nikmat terbesar di sana. Tapi, pernahkah terlintas di benak Anda, bahwa kita bisa melihat Allah Swt. tanpa menunggu mati dulu lalu masuk surga?

Adalah Nabi Musa as. yang pernah memohon kepada Allah Swt. agar bisa melihat-Nya. Permohonan Nabi Musa a.s. ini diabadikan dalam Alquran.

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Kau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Maha suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf [7]: Ayat 143)

Allah Swt. tidak memenuhi permohonan Nabi Musa as., bukan karena tak mungkin, tapi karena selama masih di dunia, Nabi Musa tak akan mampu melihat-Nya. Dalam perspektif ilmu kalam/tauhid, melihat Allah Swt. adalah suatu hal yang ja`iz aqli (secara nalar, bisa/mungkin saja). Sebab, jika hal itu adalah sesuatu yang mustahil, tak mungkin seorang Nabi memintanya.

Jawaban Allah terhadap permintaan Nabi Musa as. adalah, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku” juga menjadi bukti bahwa melihat Allah tidaklah mustahil. Allah tidak menjawab dengan “Aku tidak bisa dilihat”. Bahkan, Allah menangguhkannya pada ketetapan gunung yang sebenarnya juga tidak mustahil. Sesuatu yang ditangguhkan pada sesuatu lain yang tidak mustahil tentunya juga tidak mustahil. Fenomena kehancuran gunung tidak bisa menyimpulkan kemustahilan melihat Allah Swt., melainkan ketidakmampuan kita untuk melihat-Nya.

Ada sebuah analogi sederhana yang disampaikan Ibn Taimiyah dalam Minhajus-Sunnah An-Nabawiyyah-nya (2/332). Beliau menyamakan permasalahan ini dengan ketidakmampuan kita untuk memandangi matahari. Kita tidak mampu melihat matahari bukan karena ia tidak bisa terlihat, tapi karena lemahnya indera penglihatan kita.

Kendati melihat Allah Swt. tidaklah mustahil, tapi kenyataannya hal tersebut memang tidak pernah dialami oleh siapa pun. Sejauh ini memang belum ada riwayat sahih tentang tokoh yang di masa hidupnya pernah berjumpa atau melihat Allah Swt. dalam keadaan sadar.

Pengecualian terjadi untuk Rasulullah Saw. Karena menurut riwayat yang sahih, dalam keadaan sadar beliau melihat cahaya Allah Swt saat peristiwa Mi’raj. Itu pun kejadiannya terjadi di Sidratul Muntaha, bukan di bumi. (Nawawi al-Bantani, Marah Labid li Kasyfi Ma’nal-Qur`an Al-Majid, 1/396).

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here