Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i soal Panah Fitnah kepada Ulama

12
4032

BincangSyariah.Com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.

Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.

Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:

‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق

Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?

Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.

Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:

Versi pertama;

Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”

Versi kedua:

Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?

Baca Juga :  Benarkah Budha adalah Nabi Zulkifli?

Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.

Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.

Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.

Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.

Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.

Baca Juga :  Tukar Cincin Saat Akad, Bolehkah Laki-Laki Menggunakan Cincin Emas?

Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.

Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.

Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 

Tabik

 

12 KOMENTAR

  1. Jika utusan allah berlaku toleran terhdap orang orang yang mengikuti hawa nafsunya maka dia sepakat pada kekafiran
    Sebab itu panah fitnah orang yang mengikuti hawa nafsunya tidak akan selesai sehingga ahli waris utusan allah mengikuti kekafiran

    Ada tidaknya kutipan itu tidaklah penting
    Kutipan itu telah menjelaskan kebanaran dan kebatilan

    • Kalau ada atau tidak adanya kutipan itu tak penting. Apakah sanad ilmu juga dianggap tak ada dan tak penting? Ingat syeitan itu lebih pintar dr yg anda kira

  2. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّه مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin [mu]; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 51)

    Gak usah repot repot mencari kebenaran.. cukup kita fikirkan. Kebenaran bukan menurut kita tapi menurut allah.. pemimpin itu siapa saja yang mengatur kita bisa saja orang tua dan ustads. Yang gak sesuai dengan allah dan rasulullah tinggal kita jauhi mudah kan.. gitu aja kok repot.. pakai debat.. debatnya gak pakai dalil lagi.. sekali lagi. Kebenaran itu bukan menurut kita tapi menurut allah swt..

  3. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّه مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin [mu]; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 51)

    Gak usah repot repot mencari kebenaran.. cukup kita fikirkan. Kebenaran bukan menurut kita tapi menurut allah.. pemimpin itu siapa saja yang mengatur kita bisa saja orang tua dan ustads. Yang gak sesuai dengan allah dan rasulullah tinggal kita jauhi mudah kan.. gitu aja kok repot.. pakai debat.. debatnya gak pakai dalil lagi.. bikin syetan tertawa saja.. sekali lagi. Kebenaran itu bukan menurut kita tapi menurut allah swt..

  4. Asli nya smua kutipan kutipan katanya di copy paste disemua wa grup, utk membantah perkataan itu, bahkan di arahkan pembenaran kepada ISis, naudzu billah, sedangkan pedoman perkataan panah musuh bersesuaian dengan kondisi umat bahkan sesuai dengan kondisi zaman saat ini, kebenaran itu dihilangkan dengan perkataan ,dimna kutipan itu ditemukan??ingatlah kenapa kitab kitab ulama byk dimusnahkan oleh kafir saat perang dunia dahulu, utk menghilangkan bukti bukti otentik yg ada, tinggallah hafalan para ulama sbg rujukan ilmu saja, itu sudah cukup, bukan harus ditunjukkan bukti otentik, jika ijtihad ulama byk membenarkan maka perkataan beliau akn luntur sendrinya

  5. Apa yg saya paham ialah penggunaan kata-kata imam syafie yg palsu tersebut.Namun begitu saya setuju dgn ulama di akhir zaman yg byk dibenci oleh kuffar MUNGKIN benar TETAPI meskipun dibenci mereka tetap bersabar dan berakhlak mulia serta tidak takut disakiti.Berbeda dgn ISIS yg menggunakan hal tersebut untuk pertahan perbuatan salah yg dilakukan mereka,mereka justru tidak berakhlak mulia,bahkan melawan dgn keganasan.Nah!Kita bisa lihat bahwa ISIS itu mmg ngak bener.Namun karena saudara sudah membuktikan bahwa ia adlah palsu dgn bukti yg kokoh,maka ia PALSU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here