Melacak Kesatuan Antara Agama dan Kekuasaan dalam Islam

0
11

BincangSyariah.Com – Kesatuan antara agama dan kekuasaan dalam Islam memang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an. Meski begitu, kita bisa melacak bagaimana Islam membahas tentang sebuah komunitas dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an sangat mementingkan agama dan etika. Tapi, Al-Qur’an sangat sedikit membahas tentang hukum, dan Al-Qur’an juga sangat sedikit membahas tentang pemerintahan. Al-Qur’an lebih menekankan uraian tentang bagaimana semangat yang melandasi berbagai pencapaian. (Baca: Tiga Fenomena Penting dalam Sejarah Politik Islam)

Antony Black menjelaskan dalam buku Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini (2001) bahwa secara khusus ada beberapa gagasan yang muncul yang dikonsepkan oleh Islam tentang komunitas atau ummah.

Ia mencatat bahwa konsep dasarnya adalah Islam yang memiliki makna tunduk kepada Tuhan dan masuk ke dalam kesepakatan damai. Konsep tersebut menggambarkan bagaimana hubungan fundamental antara Tuhan sebagai Pencipta dan manusia sebagai hamba.

Konsep utama Islam dalam mengungkapkan kesatuan antara agama dan kekuasaan terletak pada pembedaan antara hal yang sakral dan hal yang profan. Menurut Antony Black, konsep tersebut sebenarnya adalah bentuk baru dari gagasan lama Yahudi mengenai ikatan.

Dalam Qur’an Surat Al-Fath Ayat 10 dipaparkan bahwa:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيْهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Innallażīna yubāyi’ụnaka innamā yubāyi’ụnallāh, yadullāhi fauqa aidīhim, fa man nakaṡa fa innamā yangkuṡu ‘alā nafsih, wa man aufā bimā ‘āhada ‘alaihullāha fa sayu`tīhi ajran ‘aẓīmā

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

Baca Juga :  Hukum Menghadap dan Membelakangi Kiblat saat Buang Hajat Dalam Islam

Kesatuan antara agama dan kekuasaan dalam Islam terletak di pertama, pada gagasan tentang umat yang dilepaskan dari gagasan kebangsaan. Pada saat Islam datang, orang non-Arab disambut dengan sangat baik.

Secara moral, orang-orang non-Arab tersebut mesti bergabung dalam ikatan umat, sama dengan orang Arab lainnya. Akhirnya, persatuan umat pun muncul sebagai dasar dari norma sosial dalam kehidupan.

Kedua, setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, asumsi yang berlaku adalah bahwa mesti ada tokoh yang menggantikan perannya sebagai pemimpin atau imam dari sebuah komunitas yang berbasis pada agama.

Nabi Muhammad Saw. memang menunjukkan bakat yang sangat istimewa dengan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin dan panglima militer. Sayangnya, Nabi Muhammad Saw. tidak membuat ketetapan tentang sukesi sehingga membuat dinasti Islam berangsur-angsur menjadi lumpuh.

Dalam buku tersebut, Antony Black menuliskan bahwa pesan yang disampaikan Al-Qur’an kepada umat Islam tentang agama dan kekuasaan hanya ada dalam Qur’an Surat An-Nisa Ayat 59 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza’tum fī syai`in fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā

Arti: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”[]

Baca Juga :  Salah Paham Negara Agama atas Pernyataan Al-Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here