Melacak Kata “Tuhan” dalam Al-Qur’an

0
13

BincangSyariah.Com – Adakah kata “Tuhan” dalam Al-Qur’an?

Kata “Tuhan” berasal dari kata ilahun yang terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha. Ketiga huruf tersebut adalah pecahan dari kata lahayalihulaihan. Kata tersebut berarti Tuhan yang Maha Pelindung, Maha Perkasa.

Quraish Shihab dalam Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosakata (2007) mencatat bahwa bentuk ilahun jamaknya adalah alihatun. Bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang berarti sama dengan ‘abada’ yaitu mengabdi.

Quraish Shihab menambahkan bahwa, ilahun memiliki arti yang sama dengan ma‘budun yakni ‘yang diabdi’. Lawan katanya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Dalam kamus besar bahasa Arab Lisan Al-‘Arab karya Ibn Manzhur, kata ilahun masih umum, saat ditambah dengan lam ma‘rifah maka menjadi Alilahun yang tiada lain adalah Allah Swt, zat yang disembah oleh semua selain-Nya, bentuk jamaknya adalah alihatun.

Maka, ilahun artinya sama dengan ma‘budun berarti ‘yang diabdi. Quraish Shihab mengatakan bahwa kata Ilah (إله ) disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad dan ilahaini dalam bentuk tatsniyah sebanyak dua kali.

Sementara itu kata alihah dalam bentuk jamak disebut ulang sebanyak 34 kali. Ia menambahkan bahwa kata ilah (tanpa dhamir) dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 80 kali.

Untuk melacak kata “Tuhan” dalam Al-Qur’an, selain kata ilahun, ada juga ada kata rabbun. Kata rabbun digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Maha Pengasuh.

Secara harfiah, rabbun memiliki arti pembimbing atau pengendali. Selain dimaknai Allah Swt., kata rabbun juga digunakan untuk sebutan Tuhan selain Allah Swt. Hal ini seperti arbaban min dunillah, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Baca Juga :  Viral Disertasi UIN Yogya soal Seks Boleh Tanpa Nikah, Mari Memahami Ayat Budak (Milk al-Yamin) dalam al-Qur'an

Tuhan (Rabb) adalah bentuk masdar (kata kerja atas kejadian yang dibuat oleh pelaku), yang memiliki makna “mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna”.

Jadi, Rabb adalah kata masdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata al-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Swt. Sebab, hanya dialah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Contoh dari hal ini adalah rabbal ‘alamin yaitu Tuhan pencipta alam semesta.

Kata rabb di sini menunjukkan tentang adanya pemaknaan tentang tauhid Rububiyah di mana adanya unsur mengesakan Allah Swt. Mengesakan di sini dimaksudkan Esa dalam mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta.

Pengesaan tersebut tercantum dalam Q.S Az-Zumar Ayat 62, Q.S. Fathir Ayat 3, Q.S al-Mulk Ayat 1 dan Q.S. al-A’raf Ayat 54.

Ibnu Qoyyim menyatakan bahwa konsekuensi Rububiyah adalah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang berbuat baik dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejahatannya.

Demikian artikel mengenai melacak kata “Tuhan” dalam Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.[] (Baca: Jika Tuhan Tidak Butuh Disembah, Mengapa Ada Azab bagi Mereka yang Kafir?)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here