Melacak Kata Bahagia dalam Al-Qur’an

0
74

BincangSyariah.Com – Imam al-Ghazali mendefinisikan kata bahagia dalam Ihya Ulumuddin sebagai sebuah kondisi spiritual saat manusia berada dalam satu puncak ketaqwaan. Bahagia adalah kenikmatan dari Allah Swt. dan merupakan manifestasi berharga dari mengingat Allah Swt. (Baca: Definisi Kebahagiaan dalam Al-Quran)

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan manusia adalah apabila ia berhasil mencapai tahap makrifat di mana ia telah mengenal Allah Swt. Ketahuilah, katanya, kebahagiaan datang jika seorang manusia mampu merasakan nikmat dan kesenangan. Kesenangan tidak bermakna tunggal, tapi maknanya bisa menurut tabiat kejadian masing-masing.

Kebahagiaan adalah kedamaian dan keamanan serta ketenangan hati atau tuma’ninah. Kebahagiaan bisa mengakibatkan seseorang mengenal Allah Swt. dan memunculkan keimanan, juga sebagai pengenalan tentang Allah Swt. sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya dalam wahyu.

Selain itu, kebahagiaan juga bisa membuat manusia mengetahui tempat yang benar dan tepat dalam alam ciptaan dan hubungan yang tepat dengan Sang Pencipta. Lantas, bagaimana kata bahagia ditempatkan dalam Al-Qur’an?

Dalam buku Tafsir Kebahagiaan: Pesan Al-Qur’an Menyikapi Kesulitan Hidup (2010) karya Jalaluddin Rakhmat, dipaparkan bahwa di antara kata bahagia yang paling tepat dalam Al-Qur’an adalah aflaha. Kata aflaha bisa ditemukan dalam empat ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

Pertama, Quran Surat Thaha Ayat 64.

 فَأَجْمِعُوا۟ كَيْدَكُمْ ثُمَّ ٱئْتُوا۟ صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ ٱلْيَوْمَ مَنِ ٱسْتَعْلَىٰ

Fa ajmi’ụ kaidakum ṡumma`tụ ṣaffā, wa qad aflaḥal-yauma manista’lā

Artinya: “Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah oran yang menang pada hari ini.”

Kedua, Quran Surat al-Mukminun Ayat 1.

 قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ

qad aflaḥal-mu`minụn

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

Ketiga, Quran Surat Al-A’la Ayat 14.

Baca Juga :  Hukum Menangis Saat Mencium Jenazah yang Baru Meninggal

 قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

Qad aflaḥa man tazakkā

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),”
Keempat, Quran Surat Asy-Syams Ayat 9

 قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

Qad aflaḥa man zakkāhā

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,”

Kata dalam ayat-ayat tersebut selalu didahului kata penegas qad yang mempunyai arti ‘sungguh’ sehingga berbunyi qad aflaha atau ‘sungguh telah berbahagia’. Aflaha adalah kata turunan dari akar kata falah.

Kamus-kamus bahasa Arab klasik memerinci makna falah sebagai berikut: kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus-menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus-menerus, keberlanjutan.

Bagi Jalaluddin Rakhmat, perincian makna falah adalah komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan-kebahagiaan bukan hanya ketenteraman dan kenyamanan semata. Kenyamanan atau kesenangan satu saat saja tidak melahirkan kebahagiaan.

Mencapai keinginan saja tidak dengan sendirinya memberikan kebahagiaan. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan yaitu kelestarian atau mene-tapnya perasaan itu dalam diri kita.

Setiap hari, paling tidak sepuluh kali, muazin di seluruh dunia Islam meneriakkan hayya ‘ala al-falah, atau marilah meraih kebahagiaan. Dalam Mazhab Ahlul Bait, setelah hayya ‘ala al-falah, mereka membaca hayya ‘ala al-khayr atau marilah kita berbuat baik.

Orang yang bahagia cenderung berbuat baik. Setelah mempertahankan kebahagiaan itu dengan berbat baik. Jadi, suara muazin saja sudah cukup menjadi bukti bahwa agama Islam memanggil umatnya setiap saat untuk meraih kebahagiaan.

Maka dari itu, apabila mendengar suara azan, disunnahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan: “Hayya alash-shalah”, “Hayya alal-falah”, dan “Ashsalatu khairum minan-naum” dalam azan Subuh.

Baca Juga :  Innalillahi, Ibunda Ustaz Abdul Somad Wafat Subuh Tadi

Jika muazin mengucapkan “Hayya alash-shalah” atau “Hayya alal-falah”, disunnahkan menjawabnya dengan lafal “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim” yang artinya “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Swt”.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here