Meiliana, Toa, dan Diksriminasi Sebab Agama

3
710

BincangSyariah.Com – Meiliana, perempuan paruh baya, pemeluk Buddha, dan beretnis Cina di Tanjung Balai ini sungguh bernasib kurang mujur. Meskipun statusnya sebagai warga negara Indonesia yang setara secara hukum, nasibnya sebagai minoritas di negeri ini tak seberuntung warga negara lain yang kebetulan mayoritas, baik dari sisi etnis maupun agama.

Gara-gara mengeluhkan volume suara azan dari toa masjid, dia dianggap melakukan penistaan agama (Islam), dan divonis hukuman 1,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Medan, pada 21 Agustus 2018. Banyak pihak, termasuk aktivis dan tokoh agama menyesalkan putusan ini karena dianggap berlebihan alias tidak adil.

Problem toa di tempat ibadah khususnya masjid, surau, dan majlis pengajian memang telah lama menjadi sorotan. Seiring dengan kemajuan teknologi, azan yang dulunya didahului dengan pukulan kentongan dan bedug sebagai penanda masuknya waktu salat, perlahan mulai berubah dengan pemakaian teknologi pengeras suara atau lazim disebut toa.

Permasalahan mulai muncul ketika pemakaian toa ini dianggap berlebihan sehingga merugikan penduduk sekitar. Aktivitas menggunakan toa, baik untuk azan, pengajian, melantunkan Alquran, dan lainnya menimbulkan kebisingan atau polusi suara tatkala pemakaiannya tidak bijak, baik dari sisi waktu, sound system yang cempreng, maupun pelantun yang bersuara rombeng.

Secara aturan, sebetulnya sudah ada dari Direktorat Jenderal Bidang Masyarakat Islam, Kementerian Agama, yaitu Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Sayangnya, aturan ini cuma mencantumkan pedoman dasar penggunaan toa. Tidak ada kontrol, sanksi, atau hukuman bagi yang melanggar.  Dan efeknya, banyak masjid ataupun surau yang secara sewenang-wenang melakukan aktivitasnya memakai toa dengan tidak kira-kira, hingga mengganggu tetangga.

Baca Juga :  Kisah Harun Ar-Rasyid dan Ustadz Amatir

Secara pribadi, saya sebagai seorang Muslim juga merasakan hal yang serupa. Alih-alih merasa bertambah tingkat spiritualitas, mendengarkan suara toa yang “berisik” tersebut, malah bikin saya terganggu. Saya tak bisa membayangkan bila “keberisikan” tersebut dirasakan penduduk nonmuslim yang tidak berkepentingan. Setiap hari! Pasti jengkel pula.

Wajar kalau kemudian ada keluhan dan komplain. Harusnya, ada tenggang rasa. Syiar agama itu sejatinya dilakukan dengan akhlak mulia dan cara-cara yang beradab, bukan dengan berlebihan dan sewenang-wenang.

Dan kasus Meiliana ini adalah puncak gunung es. Selain akhirnya dihukum penjara, rumahnya pun dibakar, dan beberapa klenteng di Tanjung Balai juga ikut dibakar oleh massa Islam yang marah pada 2016 lalu. Insiden ini sungguh sangat disayangkan.

Di sini, Islam tampak berparas mengerikan. Padahal sebagai mayoritas, seharusnya umat Islam dapat mengayomi, tidak emosian dan merasa benar sendiri. Dialog selayaknya dikedepankan. Hidup berdampingan di masyarakat yang beragam dituntut bersikap saling menghormati, toleran, dan tenggang rasa.

Masing-masing umat pun perlu mawas dan menahan diri. Tidak berangasan. Jangan sedikit-sedikit merasa dinodai, lalu marah, lalu anarki. Bersikaplah elegan. Jangan gampang tersulut dan terprovokasi. Islam adalah agama perdamaian. Begitu pun agama lain. Maka, dewasalah dalam beragama dan bermasyarakat.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here