Media Sosial yang Ramah

0
630

BincangSyariah.Com – Dewasa ini, perkembangan teknologi informasi sangat pesat. Hal ini memudahkan umat manusia di seluruh penjuru dunia mengakses informasi dan melakukan komunikasi. Interaksi komunikasi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap saat informasi dapat diperoleh dengan cepat. Media sosial merupakan salah satu media komunikasi yang sangat banyak digunakan oleh khalayak, mulai anak-anak hingga dewasa.

Hingga Januari 2018, berdasarkan penelitian terbaru dari wearesosial.sg, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 130 juta orang dari jumlah penduduk 265,4 juta. Masyarakat terbiasa dengan beragam media sosial yang ada, semisal Facebook, Twitter, Instagram, Line, dan WhatsApp.

Mudahnya mengakses media sosial, membuat masyarakat selalu bisa mencari dan menerima semua berita yang dibutuhkan. Baik peristiwa yang sedang terjadi di sekitar, isu politik, ekonomi, budaya, hingga isu-isu terkait ibadah dan keagamaan. Kejadian yang baru terjadi beberapa jam yang lalu, atau bahkan beberapa menit yang lalu, seringkali sudah langsung diterima khalayak melalui telepon genggamnya. Oleh karena itu, media sosial menjadi salah satu media untuk berbagi informasi, berdiskusi, bahkan berdakwah.

Anjuran Berdakwah

Dakwah merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim. Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk selalu berdakwah. Perintah ini salah satunya terdapat dalam surat al-Nahl ayat 125. Selain perintah berdakwah, dalam ayat tersebut juga dijelaskan etika berdakwah. Yakni harus menggunakan cara yang bijak dan baik.

Perintah dakwah juga terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw. Salah satunya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (194-256 H) dalam kitab Shahih al-Bukhari:

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً (رواه البخاري)

Artinya: Diriwatkan dari Abdillah bin Amr ra, Nabi Muhammad saw. bersabda: “Sampaikanlah dariku! meskipun hanya satu ayat.” (H.R. al-Bukhari)

Dalam praktiknya, dakwah dapat dilakukan dengan lisan dan tulisan. Dengan lisan dapat dilakukan melalui ceramah, baik melalui mimbar masjid, majlis taklim, ataupun melalui radio dan televisi. Bahkan, seiring kemajuan teknologi, dakwah dengan lisan bisa ditayangkan langsung melalui Facebook, Instagram, atau diunggah melalui You Tube.

Baca Juga :  Hukum Menalkinkan Mayat

Sementara itu, dakwah melalui tulisan dapat melalui buku, buletin, koran, dan majalah. Begitupun, di era digital ini, banyak yang menggunakan media sosial sebagai media dakwah, semisal melalui website, blog, ataupun tulisan-tulisan yang dibagikan melalui media sosial lainnya. Cara ini dinilai lebih efektif karena mudah dibaca oleh banyak khalayak melalui jaringan internet.

Jika dimanfaatkan dengan baik, maka media sosial dapat menjadi salah satu media dakwah yang efektif. Pesan-pesan mulia agama dapat dengan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun sayangnya, tidak semua masyarakat menggunakannya dengan baik. Tidak sedikit masyarakat yang menjadikan media sosial sebagai media untuk mengirimkan berita-berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), berita provokatif, dan propaganda yang menyesatkan.

Data Kemenkominfo (2015) menyebutkan ada sekitar 800.000 situs yang terindikasi menyebarkan berita bohong. Ironisnya, banyak juga para pengguna media sosial (netizen), menjadi “latah” dengan informasi yang mereka terima. Dengan mudahnya mereka langsung menerima berita tersebut dan membagikannya ke orang lain. Tanpa mencerna isi berita terlebih dahulu.

Tidak ada larangan bagi siapapun untuk berdakwah melalui media sosial, tetapi sebagai seorang Muslim, kita harus bijak menyebarkan pesan yang baik dan yang sudah diketahui kebenarannya. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ( آل عِمْرَان: 104)

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah itu  orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran: 104).

Pada ayat tersebut, sangat jelas dikatakan bahwa hendaknya kita mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada makruf. Salah satu caranya adalah dengan menyampaikan pesan dan berita yang benar. Tidak menyampaikan pesan yang akan menimbulkan perdebatan dan perselisihan. Terlebih jika disampaikan melalui media sosial.

Pesan yang diterima melalui media sosial sangat rentan memicu perdebatan. Saat pesan diterima oleh seseorang, dalam hitungan menit, bahkan detik, orang lain akan bisa langsung menanggapi. Tidak sedikit pesan dakwah yang dikirimkan melalui media sosial menimbulkan perdebatan yang panjang, bahkan memicu ujaran saling menyalahkan.

Baca Juga :  Bom Bunuh Diri Terjadi di Polrestabes Medan, Ini Penjelasan Hukum Bom Bunuh Diri

Di ranah inilah penting kiranya, baik pengirim berita maupun penerima saling mengedepankan etika bermedia. Tidak mudah menyalahkan dan tidak gegabah mengeluarkan ujaran kebencian.

Pentingnya Tabayyun

Adapun jika kita mendapatkan berita yang masih simpang siur, tidak akurat kebenarannya, hendaknya kita menahan diri untuk menyebarkannya kepada orang lain. Perlu kiranya kita melakukan ricek atau tabayyun, mencari kebenaran berita tersebut. Perintah tabayyun ini   sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Hujurat ayat 6.

Imam Ibnu Katsir (774 H) dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman untuk memeriksa dengan teliti sebuah berita, terutama dari orang fasik. Selain itu, hendaknya bersikap hati-hati dalam menerimanya.

Salah satu contoh tabayyun yang perlu kita teladani yaitu dari Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mengajak Aisyah r.a. dalam sebuah ekspedisi untuk memerangi Bani Musthaliq yang berlokasi di dekat kota Mekkah. Ketika dalam perjalanan pulang, rombongan ekspedisi berkemah di dekat Madinah. Pada saat istirahat  tersebut, Aisyah keluar dari kemahnya untuk suatu keperluan.

Setelah itu, Ummul Mukminin Aisyah kembali ke kemah dan langsung masuk ke dalam tandu yang berada di atas punggung untanya. Menjelang rombongan berangkat kembali ke Madinah, Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya saat keluar tandu. Serta-merta beliau turun dari unta, berusaha mencari kalungnya yang hilang di kegelapan malam.

Ketika itulah rombongan pasukan ekspedisi beserta Rasulullah saw. meneruskan perjalanan pulang ke Madinah. Para pengawal Aisyah tidak menyadari kalau Ummul Mukminin tidak berada di dalam tandunya lagi. Hal ini disebabkan oleh tirai tandu yang begitu rapat dan tebal. Unta itu berangkat kembali ke Madinah dengan tandu yang kosong, sedangkan Aisyah tertinggal di tempat semula. Akhirnya, Aisyah tertinggal sendirian sambil berdoa pasrah kepada Allah, berharap rombongan Rasulullah saw. menyadari ketiadaannya dan kembali menjemputnya.

Untunglah pada saat yang bersamaan, ada Shafwan bin al-Mu’aththal seorang sahabat yang berada di belakang pasukan karena sedang mengurus suatu keperluan pasukan. Secara tak sengaja dia melihat Aisyah tertinggal dari pasukan. Akhirnya, Aisyah dipersilahkan naik untanya dan dituntunnya unta itu ke Madinah, sambil mengejar rombongan Nabi. Walau berusaha mengejar, ternyata rombongan Nabi tak dapat terkejar, hingga mereka tiba di Madinah.

Baca Juga :  Saingi Hoaks! Yuk Berdakwah di Media Sosial

Kedatangan Aisyah bersama Shafwan itu ternyata menimbulkan rumor. Seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay, yang dikenal sebagai penyebar kabar bohong, menyebarluaskan fitnah mesum. Tak pelak, di masyarakat santer terdengar kabar bahwa Aisyah melakukan penyelewengan.

Akibat kasus ini, hampir saja terjadi perpecahan di masyarakat Madinah. Dua suku terbesar di Madinah, yaitu suku Aus dan Khazraj sudah saling mengancam dan siap menghunus pedang. Kedua suku saling membela, mencurigai, dan menuduh. Suku Aus membela martabat dan kesucian Aisyah. Sementara suku Khazraj membela Abdullah bin Ubay, karena dia berasal dari suku itu. Untungnya Rasulullah saw. cepat bertindak menengahi pertikaian ini. Rasullullah saw. bertabayyun mengecek dan mengklarifikasi kabar itu langsung pada Aisyah. Ternyata, berita tersebut hanya berita bohong dan fitnah.

Cara Rasulullah saw. menangani peristiwa di atas adalah teladan bagi kita. Di saat masyarakat dijejali oleh berita bohong dan ujaran kebencian, maka kita harus bijak dalam menyikapinya. Setidaknya, kita tidak cepat menerima sebuah pesan, terlebih jika pesan tersebut memuat kebencian dan saling menyalahkan.

Kita harus mengejawantahkan etika mulia agama dalam berdakwah dan menyebarkan pesan, terlebih melalui media sosial. Dengan harapan, media sosial menjadi media yang ramah, bukan menjadi ajang pertengkaran dan sumpah serapah.

Upaya ini harus menjadi agenda kita bersama. Selain akan memberi wajah mulia agama Islam, narasi dakwah yang bijak dan sejuk akan menciptakan suasana yang kondusif di tengah masyarakat.

Perbedaan tidak harus menjadi bahan untuk saling menyalahkan dan mengklaim kebenaran pendapat masing-masing. Akan tetapi, perbedaan bisa dijadikan sebagai modal untuk bekerja sama. Oleh karena itu, media sosial harus dihadirkan sebagai media yang ramah bagi sesama anak bangsa.

Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di Buletin Mingguan Muslim Muda Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here