Mau Targetmu Sukses? Jangan Suka Pamer

0
898

BincangSyariah.Com – Media sosial sebagai salah satu teknologi komunikasi terus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan zaman. Media sosial memberi ruang lebih luas kepada siapapun untuk membagikan setiap momen dalam kehidupannya, termasuk untuk menyiarkan target-target dan rencana baik yang ia punya. Padahal, ada sebuah riwayat yang mengajari kita untuk tidak menyiarkan rencana baik kepada publik. Artinya, kita dianjurkan jangan suka pamer. (Baca: Berteman dengan Orang Saleh Termasuk Riya Jika …)

Diriwayatkan dari Mu’adz ibn Jabal bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ

“berusahalah untuk mewujudkan hajatmu dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang mempunyai nikmat akan mendapatkan sikap hasad dari yang lain”.

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa perawi, di antaranya oleh al-Thabarani dalam ketiga Mu’jam-nya (Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al-Awsath, Mu’jam al-Shagir), oleh Abu Nu’aim al-Ashbihani dalam Hilyah al-Awliya’, ibn al-Muqri dalam al-Mu’jam-nya, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, dan al-Ruyani dalam Musnad-nya.

Derajat hadis ini adalah dha’if, sebagaimana disebutkan oleh ibn Abi Hatim dalam ‘Ilal al-Hadits, al-‘Ajluni dalam Kasy al-Khafa’, dll. Kendatipun hadis ini dha’if, akan tetapi ia boleh diamalkan. Imam al-Nawawi menyebutkan dalam al-Adzkar, bahwa hadis dha’if boleh diamalkan dalam hal fadhail al-a’mal (amalan-amalan yang utama), dengan beberapa ketentuan yang berlaku

Riwayat ini mengajarkan kita salah satu tips sukses mewujudkan keinginan dan rencana baik, yaitu dengan tidak menyiarkannya kepada publik, sampai rencana tersebut benar-benar terwujud.

Di antara hikmahnya adalah agar kita mencukupkan diri untuk berdoa, memohon pertolongan dan memasrahkan semua usaha kita kepada Allah semata saat berproses.

Selain itu, rencana baik adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah. Dengan memberitahukan nikmat ini kepada orang lain, dikhawatirkan akan menimbulkan kedengkian (hasad). Setiap orang memiliki tingkat kedengkian yang berbeda. Ada yang kapasitas hasadnya tinggi, sehingga dikhawatirkan ia akan berusaha untuk menggagalkan rencana baik kita.

Baca Juga :  Bolehkah Membawa Kambing ke Area Pemakaman?

Salah satu contoh pengamalan riwayat ini dalam praktik fikih adalah dianjurkannya menyembunyikan proses pertunangan (khitbah). Hal ini karena dikhawatirkan hasad orang lain justru menimbulkan kendala dalam mewujudkan pernikahan. Yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. adalah mengumumkan pernikahan (setelah terjadi akad nikah), karena ketika itu rencana baik sudah terwujud. Bukan ketika proses pertunangan, ketika akad nikah belum terwujud.

Disebutkan dalam suatu riwayat:

أَظْهِرُوْا النِّكَاحَ وَأَخْفُوْا الْخِطْبَةَ

“Umumkanlah pernikahan dan rahasiakanlah khitbah”.

Lalu, sebagaimana terdapat dalam ayat terakhir surah al-Dhuha, bukankah kita diperintahkan untuk menceritakan nikmat? Ya, akan tetapi perintah tersebut adalah ketika nikmat sudah terwujud, bukan ketika kita masih menjalani prosesnya. Menceritakan nikmat juga hanya boleh dilakukan ketika tidak dikhawatirkan akan menimbulkan hasad dari yang lain.

Oleh karenanya, bagi kamu yang sedang berproses untuk mewujudkan niat baik, apapun itu, jangan dulu umumkan kepada publik. Rahasiakan dulu, dan berusahalah dengan maksimal sembari berdoa dan berpasrah kepada-Nya. Nanti ketika rencana itu sudah terwujud, baru ceritakan kepada mereka (tahadduts binni’mah). Ada suatu ungkapan mengatakan:

مِنْ وَهْيِ الْأَمْرِ إِعْلَانُهُ قَبْلَ إِحْكَامِهِ

Termasuk kerapuhan sebuah rencana adalah mengumumkannya sebelum mengerjakannya dengan sempurna”. (al-Raghib al-Ashfihani: al-Dzari’ah ila Makarim al-Syari’ah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here