Di Masa Rasul, Masyarakat Tidak Boleh Dibunuh saat Perang Berkecamuk

0
975

BincangSyariah.Com – Agama Islam dalam sejarahnya memang sangat kental dengan istilah jihad. Meskipun makna jihad bisa sangat beragam, namun yang akrab di telinga masyarakat adalah jihad perang. Dalam al-Islam bayna al-Harb wa al-Salam dijelaskan bahwa alasan utama Nabi Saw berperang bukanlah karena perbedaan agama maupun ras.

Ini misalnya terjadi saat Nabi Saw. perang melawan Bani Quraidhah (Yahudi) alasannya adalah karena mereka melanggar perjanjian secara sepihak, kemudian perang Nabi melawan orang-orang Quraisy adalah karena umat Islam terzalimi. Jika benar bahwa jihad Nabi karena perbedaan, maka seharusnya Nabi Saw. memerangi mertuanya sendiri yang seorang Yahudi, yakni Huyay bin Akhthab, demikian pula Nabi tidak akan berniaga dengan Abu Syahm yang juga seorang Yahudi.

Berperang dalam Islam juga memiliki kriteria yang ketat, harus dibedakan antara kondisi damai dan perang. Kalaupun terjadi peperangan, tidak serta merta Nabi Saw. secara membabi buta menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun. Ada etika yang digariskan oleh Nabi Saw. dalam peperangan.

Dikutip dari Alfiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Zuhaily merangkum beberapa kriteria orang yang boleh diperangi dan tidak. Menurutnya, masyarakat yang boleh  diperangi adalah mereka yang terlibat memerangi umat Islam baik itu dengan terjun langsung berperang, atau mengatur strategi atau hanya sebagai otak serangan.

Namun demikian, orang-orang yang tidak terkait dengan peperangan itu dilarang dibunuh oleh Nabi. Mereka itu adalah perempuan, anak-anak, orang gila, orang tua yang telah pikun, orang sakit yang tidak ikut berperang, tunadaksa, tunanetra, tunaganda, orang yang lemah untuk berperang, orang yang kurang waras pikirannya, pendeta atau rahib di tempat ibadah, orang-orang yang berlindung di tempat ibadah, dan para petani di sawah.

Baca Juga :  Bagaimana Adab Bertetangga Pada Bulan Ramadan?

Ini dikecualikan jika mereka semua terlibat peperangan dengan menyumbangkan perkataan, perbuatan, pikiran, atau menggelontorkan dana. Sebagaimana riwayat dari Abu Musa berikut.

Suatu ketika Rabi’ah bin Rafi’ al-Sulamy menjumpai Duraid bin al-Shimmah pada perang Hunain. Rabi’ah pun kemudian membunuhnya padahal ia adalah orang tua yang umurnya lebih dari 100 tahun, ia tidak lagi memiliki daya kecuali ide-idenya yang masih dipergunakan. Tak lama kemudian, kabar dibunuhnya kakek tua tersebut sampai kepada Nabi Saw, namun Nabi Saw tidak menyalahkan Rabi’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun beberapa alasan mengapa orang-orang tersebut tidak boleh diperangi adalah beberapa sabda Nabi di antaranya:

انْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلاَ تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلاَ طِفْلاً وَلاَ صَغِيرًا وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ تَغُلُّوا وَضُمُّوا غَنَائِمَكُمْ وَأَصْلِحُوا وَأَحْسِنُوا (إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ)

Nabi Saw bersabda: “Beranjaklah kalian untuk berperang dengan menyebut Nama Allah, demi Allah dan di atas agama Rasulullah. Dan janganlah kalian membunuh orang tua yang fana (lanjut usia), jangan pula bayi, anak-anak, perempuan, dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Lalu kumpulkanlah binatang ternak dan ciptakanlah kedamaian serta berbuat baiklah. (HR. Abu Daud)

Itulah beberapa kriteria siapa sajakah yang tidak boleh dibunuh dalam kondisi peperangan. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak berlaku baik, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Semoga kita dan bangsa kita selalu dinaungi perdamaian sampai akhir zaman. Amin.

Wallahu a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here