Maslahah Mursalah sebagai Sumber Hukum Islam

1
31

BincangSyariah.Com – Jika kita melihat hukum-hukum yang diberlakukan oleh Allah SWT kepada manusia, maka akan kita pahami bahwa secara garis besar tujuannya adalah memberikan kesejahteraan (maslahah) bagi manusia sekaligus menolak kerusakan (mafsadah) bagi mereka. Namun Dalam kenyataannya, apa yang maslahat dan apa yang mafsadah bagi manusia sulit sekali dicari tolak ukurnya. Seringkali sesuatu dianggap sebagai maslahat bagi sebagian komunitas, namun malah dianggap sebagai mafsadah oleh komunitas yang lainnya. Oleh sebab itu, lazim bagi kita untuk menyerahkan persoalan maslahah dan mafsadah tersebut kepada Allah SWT yang Maha Mengetahui, sebagaimana firman-Nya QS. Al-Maidah [5]: 48,

فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ

Faḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi’ ahwā`ahum ‘ammā jā`aka minal-ḥaqq, likullin ja’alnā mingkum syir’ataw wa min-hājā,

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”

Oleh karena itu, para ulama mengklasifikasi secara ketat apa saja yang dianggap oleh syariat sebagai maslahat dan apa yang tidak.

Dalam praktiknya, ada beberapa ulama yang menganggap bahwa kemaslahatan ini bisa dijadikan sebagai sumber hukum tersendiri yang terlepas dari teks wahyu Ilahi baik berupa nash Al-Quran ataupun penjelasan hadits Rasulullah SAW. Mereka menyebutnya sebagai Maslahah Mursalah.

Secara kebahasaan, maslahah mursalah terdiri dari dua kata, yakni maslahah dan mursalah. Maslahah artinya sesuatu yang mendatangkan kebaikan, dan mursalah berarti sesuatu yang terbebas atau lepas. Dengan demikian, maslahah berarti upaya mendatangkan kebaikan yang terlepas atau bebas dari keterangan yang menunjukkan boleh atau tidaknya untuk dilakukan. Imam Al-Ghazali sendiri dalam kitab al-Mustashfā’ merumuskan maslahah mursalah sebagai,

Baca Juga :  Pembebasan Napi Korupsi Perspektif Hukum Islam

مَالَمْ يَشْهَدْ لَهُ مِنْ الشَّرْعِ بِالْبُطْلاَنِ وَلاَ بِاْلاِعْتِبَاِر نَصٌّ مُعَيَّنٌ

Segala sesuatu (kemaslahatan) yang tidak ada bukti baginya dari syara’ dalam bentuk nash tertentu yang membatalkannya dan tidak ada yang memperhatikannya.

Dari definisi diatas, bisa kita pahami bahwa maslahah mursalah ini merupakan sesuatu yang baik menurut akal dengan pertimbangan dapat mewujudkan kebaikan atau menghindarkan keburukan bagi manusia, selaras dan sejalan dengan tujuan syariat dalam menetapkan hukum, serta tidak ada petunjuk syariat yang mengakui atau menolaknya.

Maslahah Mursalah Sebagai Sumber Hukum

Persoalan berikutnya ialah, bisakah maslahah mursalah ini bisa dijadikan sebagai sumber hukum Islam? Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Imam Malik beserta penganut mazhab Maliki adalah kelompok yang secara jelas menggunakan maslahah mursalah sebagai metode ijtihad. Maslahah mursalah juga digunakan dikalangan non-Maliki antara lain ulama Hanabilah. Menurut mereka maslahah mursalah merupakan induksi dari logika sekumpulan nash, bukan dari nash rinci seperti yang berlaku dalam qiyas. Pernyataan dukungan terhadap maslahah mursalah yang paling menarik berasal dari Imam Syatibi yang mengatakan bahwa keberadaan dan kualitas maslahah mursalah itu bersifat qat’i, sekalipun dalam penerapannya bersifat zhanni (relatif).

Sementara dari kelompok ulama Hanafiyah, tidak ditemukan diantara mereka yang menggunakannya sebagai sebuah metode ijtihad. Hal ini bisa dipahami karena mereka telah menggunakan metode istihsan, metode yang secara konsep sedikit banyak mirip dengan maslahah mursalah. Demikian pula dengan madzhab Syafi’iyah yang tidak menyurakan dukungan ataupun penolakan mereka terhadap metode ini karena Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah sendiri tidak pernah menyinggung metode ini. Tetapi dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menukilkan bahwa imam Syafi’i pernah menggunakan maslahah mursalah dalam berhujjah, namun As-Syafi’i memasukkannya dalam qiyas.

Baca Juga :  Kapan Penggunaan Maslahah Mursalah Diperbolehkan?

Menolak Maslahah Mursalah

Adapun kalangan ulama yang menolak penggunaan maslahah mursalah adalah al-Zahiriyah, Bahkan dikabarkan bahwa mazhab Zahiriyah merupakan mazhab penentang utama atas kehujjahan maslahah mursalah. Ulama Syi’ah dan sebagian ulama kalam Mu’tazilah juga menolak penggunaan maslahah mursalah sebagai metode ijtihad.

Kelompok yang menyatakan bahwa maslahah mursalah bisa dijadikan sebagai metode dalam berijtihad menggunakan argumen berupa taqrir (pengakuan) Nabi atas penjelasan Mu’az bin Jabal yang akan menggunakan ijtihad bi al-ra’yi bila tidak menemukan ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi untuk menyelesaikan sebuah kasus hukum. Penggunaan ijtihad ini mengacu pada penggunaan daya nalar atau suatu yang dianggap maslahah. Nabi sendiri waktu itu tidak membebaninya untuk mencari dukungan nash. Maslahah mursalah juga sudah lazim dilakukan oleh para sahabat dan adanya titik temu yang sama antara syariat dengan maslahah mursalah yakni menciptkana kesejahteraan bagi umat manusia.

Sementara kelompok yang menentang menggunakan argumentasi kalau suatu maslahat sudah ada petunjuk syariat yang membenarkannya, maka ia telah termasuk bagian dari qiyas. Seandainya tidak ada petunjuk syariat yang membenarkan, maka ia tidak mungkin disebut sebagai suatu maslahat.

Mengamalkan sesuatu diluar petunjuk syariat, bagi mereka yang menentang penggunaan maslahah mursalah, berarti mengakui akan kurang lengkapnya Al-Quran dan sunnah Nabi. Di sisi lain, timbul pula kekhawatiran bahwa maslahah mursalah ini akan membawa kepada pengamalan hukum yang berlandaskan pada sekehendak hati dan menurut hawa nafsu.

Dari perbedaan pendapat tersebut, sebenarnya kita bisa mencari titik tengah yakni bahwa maslahah mursalah ini bagaimanapun juga merupakan bagian dari syariat yang tidak boleh dikesampingkan. Meskipun ia tidak disebutkan dalam nash secara tekstual, tapi secara substansial ia dibutuhkan manusia, maka oleh karena itu selama tidak bertentangan secara langsung dengan nash yang qoth’i, maka sah-sah saja apabila digunakan.

Baca Juga :  Memahami Makna 'Amal Ahl al-Madinah sebagai Sumber Hukum Mazhab Maliki

Contoh paling nyata dari penggunaan metode maslahah mursalah dalam kehidupan kita ialah pencatatan perkawinan dalam surat yang resmi dari negara menjadi maslahat untuk sahnya gugatan dalam perkawinan, nafkah, pembagian harta bersama, waris dan lainnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here