Masih Suka Kurang Ajar terhadap Guru? Renungkan Lagi Nasihat Ali bin Abi Thalib

0
5378

BincangSyariah.Com – Guru adalah orang yang mengajari kita tentang suatu ilmu. Baik ilmu agama ataupun ilmu umum. Hormat pada guru adalah kewajiban seorang pelajar atau santri. Tidak ada ceritanya guru gila hormat. Guru adalah murobbi ar-ruh para siswa atau santri. Guru adalah insan mulia yang telah merawat dan memenuhi jiwa santri dengan cahaya keimanan.

Menaruh hormat pada guru bukan hanya saat di dalam kelas atau sekolah.  Rasa hormat pada guru tak kenal ruang dan waktu. Baik di jalan, di rumah, di kelas, di taman, dan atau di mana saja. Menghormati guru juga tidak hanya mengacu pada posisi saat aktif menjadi guru. Namun, meski guru sudah berhenti atau pindah tugas dari tempat kita belajar, beliau tetap harus dihormat. Menghormati guru sejak berguru sampai beranak cucu (Baca: ajal).

Ta’dzim pada kiai atau guru bukan sekedar formalitas belaka. Penghormatan ini harus tumbuh dari dalam sanubari. Jangan sampai lahir kelihatan hormat, akan tetapi batinnya melaknat. Penghormatan itu harus berangkat dari hati yang bersih agar berbuah kasih dari Allah Swt. Dalam artian jangan munafik dalam hal penghormatan pada seorang guru. Saat ada di depan guru pura-pura menunduk dan langsung cium tangan. Namun ketika di belakang guru langsung nunjuk-nunjuk sambil cengingisan, seakan-akan mau nendang sang guru. Na’udzubillah.

Coba kita ingat-ingat kembali profil Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dalam hal penghormatan pada guru. Beliau adalah satu-satunya sahabat Nabi Muhammad Saw. yang dijuluki babul ilmi (pintu ilmu pengetahuan) oleh beliau. Nabi Saw. dalam satu kesempatan pernah bersabda – seperti disebutkan dalam kitab al-‘Ushfuriyyah) tentang Sayyidina Ali: “Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintunya” .  Hadis ini menunjukkan betapa tingginya ilmu Sayyidina Ali sehingga Rasulullah Saw. menjulukinya sebagai pintu ilmu pengetahuan.

Keluasaan ilmu yang dimiliki Sayyidina Ali tidak semerta-merta menjadikannya congkak. Justru ketinggian ilmu yang dimiliki semakin menunjukkan kerendahan hati beliau. Ibarat padi, semakin tambah berisi ia makin tambah merunduk. Ini terbukti dari salah satu atsar-nya tentang penghormatan pada guru. Beliau berkata: “Aku adalah hamba/abdi dari siapapun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba”.

Perkataan beliau ini menunjukkan bentuk pengabdian yang tinggi pada siapapun saja yang pernah mengajarinya walaupun hanya satu huruf. Bahkan beliau mengibaratkan hubungan guru dengan murid seperti tuan dengan budaknya. Sebagaimana budak, senantiasa siap menjalankan titah tuannya.

Baca Juga :  Hukum Non-Muslim Masuk Masjid

Begitu juga seharusnya murid dalam menghormat gurunya. Siap menjalankan semua perintah guru dan menjahui segala larangannya dengan sarat tidak bersimpangan dengan syariat. Kita tanya pada masing-masing pribadi, bagaimana dengan adab kita pada guru?

Guru yang mengajari kita huruf hijaiyah yang 28 (Madura:Guru Alif/Guru Tolang) sampai lancar ngaji di musholla atau madrasah lebih wajib untuk dihormati. Karena bukan hanya satu huruf layaknya sosok guru yang digambarkan oleh Sayyidina Ali saja, tapi beribu-ribu bahkan berjuta-juta kalimat yang kita dapatkan.

Lain lagi dengan guru sekolah formal atau nonformal (pesantren), berapa kitab atau buku yang telah kita timba dari mereka. Mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi sudah tidak terbilang lagi ilmu yang kita dapat. Lantas tidak malukah kita sebagai pencari ilmu yang amat dasar pada Sayyidina Ali ketika bertingkah kurang sopan terhadap guru?

Sungguh miris sekali melihat tingkah laku para pelajar era milenial. Degradasi moral telah menggerogoti dunia pendidikan masa kini. Banyak media yang memberitakan murid yang menganiaya gurunya. Sungguh, sangat tidak etis ketika ada murid bicara tidak sopan pada gurunya. Hati mereka dimana? Otak mereka kemana? Tidakkah mereka sadar telah bisa baca tulis karena kucuran keringat seorang guru?

Tidak heran banyak pengangguran, salah satunya memang disebabkan bobroknya moral pelajar pada seorang guru. Jangankan di akhirat, di dunia saja nasibnya sudah tidak jelas. Perhatikan saja para pelajar di sekitar kita yang suka merendahkan gurunya, mereka dikucilkan oleh lingkungannya sendiri.

Gelar doctoral atau bangsawan yang dimiliki jangan sampai menjadi alasan untuk memandang remeh guru ngaji yang tak punya ijazah SD. Gelar tersebut jangan sampai menghilangkan kebiasaan cium tangan guru saat kecil. Lebih tinggi mana gelar yang diperolehnya dengan gelar Sayyidina Ali yang didapat langsung dari Nabi Muhammad Saw? Cobalah kita renungi itu semua.

Baca Juga :  Kunci Membaca Minhajut Thalibin Karya Imam an-Nawawi

Oleh karena itu, sampai kapanpun guru tetaplah guru yang harus dimuliakan. Tidak ada kata “mantan guru” dalam kamus seorang pelajar, khususnya santri di Nusantara ini. Hormati guru, keluarganya, sahabatnya, tetangganya, bahkan peliharaannya. Semua yang berhubungan dengan guru harus dihormati. Marilah kita menjadi tholibul ilmi yang berhati Sayyidina Ali!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here