Masih Ngotot Mau Ke Masjid? Belajar Menghindari Wabah dari Umar bin Khaththab

23
7199

BincangSyariah.Com – Fatwa terkait lock down kegiatan luar, termasuk ke masjid untuk shalat jamaah atau shalat jumat, dari para ulama sudah lengkap. Baik yang lokal semacam MUI ataupun yang luar negeri, semua ada.

Mau yang versi salafi atau versi Al-Azhar, sepakat semua menjaga agar tidak terjadi penyebaran virus corona atau covid 19, dengan cara meniadakan shalat berjamaah termasuk Shalat Jumat.

Bahkan Masjid Al-Haram Mekkah dan Nabawi Madinah pun dibatasi. Ka’bah terlihat di TV berdiri sendiran, tidak ada lagi kumpulan manusia mengerubunginya. Dari siaran langsung, Imam As-Sudais nampak menyemprotkan cairan disinfektan ke tubuh Ka’bah Al-Musyarrafah.

Semua dalil sudah lengkap. Yang utama anjuran tidak ke masjid justru bukan karena shalat berjamaah itu hukumnya sunnah menurut jumhur ulama, tapi justru berkumpul itu sendiri merupakan madharat. Tidak peduli kumpul shalat atau kumpul yang lain.

Dalilnya adalah kaidah yang sudah kita pahami bersama, yaitu :

لا ضرر ولا ضرار

“Jangan membahayakan diri atau orang lain.”

Intinya kita jangan sampai jadi korban kemudharat dari orang lain dan juga tidak boleh jadi penyebab kemudharatan bagi orang lain. Dalam Qawaid Fiqhiyah, juga disebutkan

الضرر يزال

Segala yang mengakibatkan kemudharatan harus dihilangkan”

Yang tidak pernah belajar Qawaid Fiqhiyah pasti bingung, itu ayat apa hadits? Kapan-kapan lah saya jelaskan.

Kalau Anda maksa juga mau ke masjid dengan alasan toh Anda tidak sakit, logika Anda bermasalah. Memang Anda mungkin tidak merasa sakit, karena kebetulan daya tahan tubuh Anda kuat.

Namun hanya Allah saja yang tahu kalau Anda membawa virus penyakit itu ke masjid apa tidak. Boleh jadi tanpa sadar justru ke masjidnya Anda itu malah menulari orang lain segitu banyak.

Baca Juga :  MUI dan PBNU Imbau Masyarakat Jangan Tolak Jenazah Pengidap Virus Corona

Sebagian orang di masjid mungkin tetap sehat-sehat saja tidak terkena virus bawaan Anda. Boleh jadi kebetulan karena stamina tubuh mereka lagi baik. Virusnya tidak mempan karena daya tahan tubuhnya baik. Sampai disitu logika Anda masih aman.

Tapi, bagaimana dengan jamaah yang kebetulan daya tahan tubuhnya sedang rendah? Mungkin karena dia lagi kecapean, mungkin dia sedang lelah, mungkin stress, kurang istirahat, kurang tidur, kurang minum dan lainnya.

Maka dia tidak bisa bertahan saat ketemu dengan virus bawaan Anda yang terjadi tanpa sadar. Anda pun pastinya juga tidak sadar kalau sudah jadi pembawa virus jahat buat orang lain.

Di situlah Anda jadi berdosa besar, karena sudah jadi penyebab kemudharatan bagi orang lain. Coba deh pelan-pelan mikirnya biar meresap. Dan boleh jadi sebaliknya, Anda sendiri yang tubuhnya lagi kurang fit. Dan ternyata Anda tetap memaksa, ngotot/keukeuh mau berjamaah ke masjid juga?

Mungkin Anda merasa iman Anda sudah cukup tebal. Toh Anda merasa selama ini sudah jadi anak shaleh terus, tidak pernah bikin dosa, tidak pernah ngelawan orang tua, bela-belain Islam terus, masak sih Allah tega memberi penyakit?

Banyak loh ustadz, kiyai, penceramah dan tokoh agama yang mikirnya macam wali kayak gitu. Ceramah pula mengajarkan orang kayak gitu.

Padahal sekelas Sayyidina Umar pun menghindari wabah. Sayyidina Umar itu walinya para wali yang punya karamah. Wali mana yang bisa mengalahkan karamahnya Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu?

Setan dan koleganya pun takut sama Umar. Kalau mereka pas lagi ngumpul, tiba-tiba dengar langkah kaki Sayyidina Umar, langsung pada ngacir, bubar, ngumpet, sembunyi dan mengamankan diri. ‘Sakti’ banget lah pokoknya Sayyidina Umar itu.

Baca Juga :  Sunnah Membaca Qunut Nazilah di Musim Covid-19

Tapi begitu diberi kabar bahwa Damaskus sedang dilanda wabah mematikan, Sayyidina Umar yang sudah di tengah perjalanan pun langsung balik kanan pulang ke Madinah.

Selevel Sayyidina Umar yang walinya para wali pun menghindar dari wabah. Tapi tidak petantang petenteng menantang takdir. Nggak sok kebal, nggak sok belagu, beliau malah bilang dengan tegas :

من قدر الله إلى قدر الله

Dari qadar Allah ke qadar Allah (yang lain)”

Urusan nyawa memang di tangan Allah. Tapi masuk ke area wabah secara sengaja, namanya bukan percaya takdir, bukan pertanda iman tebal. Itu namanya bunuh diri. Selama masih ada qadar Allah yang lain dan lebih manfaat, kenapa harus ngotot dengan qadar Allah yang madharat?

Jelas dan tegas pesan dari Sayyidina Umar. So, tidak usah petantang-petenteng di depan qadarnya Allah. Masuk ke masjid di musim wabah, terus ketularan orang lain dan jadi korban. Itu namanya Anda jadi terkena madharat secara sengaja.

Dalil keharamannya jelas sekali di Al-Quran :

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة

Jangan kau jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan (QS. Al-Baqarah : 195)

ولا تقتلوا أنفسكم

Jangan kau bunuh dirimu sendiri (QS. An-Nisa’ : 29)

So, ketika fatwa ulama sudah lengkap untuk menghidari diri berlaku dzalim atau terkena kedzaliman, maka haram hukumnya untuk nekat melawan macam pahlawan kesiangan. Ke masjid itu ibadah, tapi kalau di dalam masjid ada sekawanan srigala liar nan lapar siap memangsa semua orang, masuk masjid itu hukumnya berubah jadi haram, pakai banget.

Bedanya dalam hal ini yang jadi srigala buas dan laparnya adalah diri kita sendiri. Kita saling jadi srigala bagi sesama. Ada ungkapan dalam bahasa Latin : Homo homini lupus. Manusia jadi srigala bagi sesamanya. Bedanya, itu terjadi tanpa sadar. Semoga kita semua dapat pencerahan dan dihindari dari petaka dan bahaya. Amin ya rabbal alamin.

[Artikel ini sebelumnya pernal diupload di laman Facebook pribadi Ustad Ahmad Sarwat]

Baca Juga :  Di Rumah Aja? Ini Loh Tiga Tips Spiritual Saat Terjadi Penyakit Mewabah

23 KOMENTAR

  1. Bagaimana pak kiyai berkerumun, berkumpul,makan di Mall boleh ngga?.

    Penting mana shalat jamaah dan ngaji di masjid dengan ke Mall?

  2. Kaidah fiqihnya sih oke punya..cuma keadaan nya itu loh yg ga sama dgn di zaman umar..di zaman umar real terlihat korban di tmpt itu nyata ada byk yg jadi korban. Smntara virus ini, itu masih antara benar dan enggaknya tuh. Blm tegas jelasnya. Apa ada cerita di indonesia dari sblm dmulai nya lokdon di berlakukan ada puluhan ahli masjid di ribuan masjid jadi korban ??? Ga ada. Nihil. Yg kena malah di kumpulan bkn di masjid. Trus knp itu fatwa MUI ga diberlakukan juga buat mall mall…??

  3. Aku sih setuju dengan pak kiyai, tetapi penyampaiannya itu lho, kaya orang marah, bahasa orang marah, kasih tausiyah sama pelacur saja mungkin bahasanya nggak gitu, tetapi ini nasehat untuh orang muslim yang ngotot mau ke masjid kok gitu. Maaf pak yai ya..

  4. Do negara Asal carona umat ngumpul kemesjid, do Indonesia rakyat Di larang ke mesjid, ke gereja Di larang juga ngak?

  5. Anda terlalu pintar menjelaskan sesuatu tetapi mungkin anda benar tapi hanya allah swt yg maha tau dan maha benar atas segala sesuatu

  6. Assalamu’alaikum
    Berbagai alasan dicari untuk membenarkan peraturan manusia
    (Walau kadang tidak pas/dipaksakan) supaya dilaksanakan..
    Perintah/peraturan Tuhan pencipta manusia pun dicari berbagai alasan dicari untuk meninggalkanya….
    ***mari sebagai orang yang beriman laksanakan perintah Alloh semaximalnya apapun konsekuensinya*** tidak usah ditawar-tawar apalagi membuat aturan baru…

  7. Emang aneh….mungkin bsgi daerah tertentu yg sdah berdampak bisa jadi lebih baik menghindar….tapi klu td berdampak gimana………turis asing yg tetap msuk indon knapa dibiarkan…….aneh kan..
    .

  8. Sampai kapan bos ,,, orang yg masuk masjid setidaknya sudah wudhu , sudah suci ,,, insyaallah berjamaah d msjid bukan jadi madharat

  9. Kalau bicara steril sterilan..yang mau sholat masuk masjid tuh paling steril karena dgn sebab wudhu semua di cuci..mulut, muka, rambut kepala, tangan, kaki. Kurang apalagi coba. ?? Protokol pemerintah cuma nyaranin tangan aja dicucinya. :p.

    Di zaman khalifah umar yg wudhu kena kusta/lepra juga, beda kasus aa. Kl virus yg skrg asal kita steril segala dicuci kabur tuh virus koid19. Nah kusta ya beda lagi cara penanganannya ga cukup dgn wudhu.

    Beda kasus beda hukum.

  10. Kalau bicara steril sterilan..yang mau sholat masuk masjid tuh paling steril karena dgn sebab wudhu semua di cuci..mulut, muka, rambut kepala, tangan, kaki. Kurang apalagi coba. ?? Protokol pemerintah cuma nyaranin tangan aja dicucinya. :p.

  11. Goblok… menyesatkan umat… Solat Jum’at itu wajib bagi laki2… KLO.kisah Umar Ra hanya menghindar i wabah … Apa dia meninggal kan kuajiban syari’at? Guoblok …
    Mati …sakit ….itu taqdir termasuk qodo’ qodar Allah SWT semua orang pasti mengalami … Tapi KLO menjalankan.syariat da tidak itu pilihan…

    Mati itu datang kapan saja dan dgn sababiah apa saja… Seandainya kamu mati waktu pada saat tidak solat Jumat kamu.sehat apa yg bisa engkau.jawab di hadapan robbmu…
    Seandainya.kita mati.gara2 solat Jumat dan terkena virus insha Allah … Allah SWT dan rasulnya pasti merahmati kita karena iman.dan ketaaatan kita…
    Kita cinta kepada Allah dan.rosulnya… apapun yg di perintahkan sami’ na wa ato’na… Dengan resiko apapun walaupun .. jangankan cuma nyawa tidak ada artinya KLO kita benar2 mencinta Alloh SWT dan rasulnya…karena nyawa dan ruh kita dalam genggaman nya….
    Jangan takut virus melebihi takut kita pada Allah SWT…
    Klo kita takut virus berlebihan.dgn meningalkan syariat.itulah yg di kehendaki syetan dan orang2 kafir.dan musyrik…. Moga Allah SWT selalu.menjaga kita dari fitnah.oramg2 kafir…

    Dan bagi penulis artikel ini… Ingatlah dosa jariah…..
    Setiap orang sehat yg baca dan meningalkan syariat seperti solat Jumat…karena tulisan ini kamu.akan mendapatkan dosa jariah dari orang2 yg percaya tulisanmu.ini

  12. Anda mengatakan dengan kalimat goblok..apakah anda juga lebih pintar..? Itu aja..kalo anda lebih pintar coba anda juga bikin yang seperti saudara kita bikin.biar kita yang goblok lebih tau..dengan ayat alqur’an ,hadist dan pendapat para sahabat dan para ulama..saya tunggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here