Marak Sinetron Azab, Bagaimana Hukum Menontonnya?

0
1694

BincangSyariah.Com – Sinetron bertema azab bukanlah barang baru di dunia pertelevisian. Seringkali tayangan semacam itu dibully oleh netizen tapi tetap saja bertahan di layar kaca dengan format yang berbeda-beda. Anehnya, sebagian pihak menyatakan bahwa ia dipertahankan tetap tayang di televisi karena ratingnya yang tinggi. Di-bully oleh netizen di internet tetapi ratingnya tinggi di televisi. Apakah ini indikasi bahwa penonton televisi bukanlah pengguna internet? Wallahu a’lam

Narasi yang seringkali dikembangkan dalam tayangan semacam itu biasanya seragam. Allah digambarkan sebagai Tuhan yang Maha pemberi azab, orang berperangai buruk yang menemukan sial di akhir hayatnya, tokoh agama yang juga merangkap mampu menjadi pengusir hantu dan penangkal kekuatan jahat, serta kitab suci Al-Qur’an yang dianggap bacaannya berfungsi sebagai pengusir setan. Seorang peneliti antropologi politik dan agama dari Universitas Paramadina, Suratno, mengungkapkan penggambaran semacam itu sangat tidak masuk akal dan justru mencoreng wajah Islam.

Mungkin sang pembuat sinetron maksudnya baik, memberikan tayangan kepada masyarakat yang mengingatkan bahwa amal buruk di dunia akan dibalas dengan keburukan, sehingga seyogyanya kita harus meninggalkan amal buruk tersebut. Namun maksud baik tersebut tereduksi seiring semakin sensasionalnya penggambaran kejadian-kejadian aneh pada diri mayit.

Ini semua untuk menggambarkan bahwa ia mati tidak dalam keadaan husnul khatimah. Ada mayit yang terlempar dan hanyut ke sungai. Ada mayit yang kuburannya mengeluarkan darah. Ada mayit yang berbau busuk. Bahkan ada mayit yang terlempar dan masuk ke mesin molen pengaduk semen. Fantastis.

Jika memang rating sinetron semacam itu tinggi, berarti akan semakin banyak masyarakat yang secara tidak sadar terprovokasi untuk mencocokkan tayangan di sinetron dengan keadaan di sekitarnya. Melihat tetangga yang kikir akan dia pikir nanti kalau mati mayatnya akan kejepit mobil yang sedang parkir. Melihat kejadian apapun yang ia saksikan saat penguburan akan dia narasikan secara hiperbolik. Seperti misalkan melihat kuburan yang terus tergenangi air akan dia pikir mayatnya jelek sehingga bumi siap menenggelamkannya dengan air. Padahal air tersebut memang merembes dari sumbernya di dalam tanah ke kuburan. Tak ada kaitannya dengan hal-hal sensasional yang ia pikirkan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali mengutuk orang-orang yang tidak memiliki tatakrama terhadap jenazah. Beliau menyatakan:

فمن آداب حضور الجنائز التَّفَكُّرُ وَالتَّنَبُّهُ وَالِاسْتِعْدَادُ وَالْمَشْيُ أَمَامَهَا عَلَى هَيْئَةِ التواضع كما ذكرنا آدابه وسننه في فن الفقه وَمِنْ آدَابِهِ حُسْنُ الظَّنِّ بِالْمَيِّتِ وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا وَإِسَاءَةُ الظَّنِّ بِالنَّفْسِ وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُهَا الصلاح فإن الخاتمة مخطرة لا تدري حقيقتها

“Sebagian dari tatakrama menghadiri pemakaman jenazah ialah tafakur, introspeksi diri, meminta perlindungan kepada Allah, dan berjalan di depan jenazah dalam sikap yang rendah diri sebagaimana kami sebutkan juga sebagai tatakrama dalam keilmuan fikih. Termasuk juga sebagai tatakramanya ialah berprasangka baik dengan mayyit meski ia terlihat fasik, dan tetap berburuk sangka kepada diri sendiri meski nyatanya seolah baik. Karena akhir hayat itu sangat menghawatirkan dan tidak ada yang mengetahui hakikatnya”.

Dari pemaparan Imam al-Ghazali diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa ketika kita menghadiri pemakaman jenazah, yang mesti kita tekankan adalah introspeksi diri, mengingat bahwa kematian pasti nyata, dan berburuksangka pada diri sendiri apakah kita sudah siap dengan kematian. Dengan itu, kita akan selalu termotivasi untuk memperbaiki diri.

Sebaliknya, terhadap si mayit, meski seolah kita tahu bahwa di dunianya dia fasik, kita tetap harus berbaik sangka kepada mayit tersebut. Maka meskipun kita melihat hal-hal yang aneh yang terjadi pada saat prosesi kematian maupun pengebumian jenazah, haram hukumnya bagi kita menduga bahwa mayit tersebut suul khotimah. Jelek kematiannya.

Atas pertimbangan tersebut, maka haram hukumnya bagi kita melihat tayangan sinetron azab karena didalamnya ada unsur memberikan kesimpulan bahwa si mayit berada dalam kondisi akhir yang buruk (su’ul al-khatimah)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here