Empat Formulasi Maqasid Syariah Imam as-Syathibi

2
724

BincangSyariah.Com – Imam as-Syathibi dalam jagad pemikiran Islam merupakan salah seorang ulama pencetus teori-teori Maqasid Syariah. Karyanya yang berjudul al-Muwafaqat fi Ushul as-Syariah menandai keterputusan secara epistimologis dengan yang pernah dirintis oleh Imam as-Syafi’i dalam ar-Risalah-nya.

Imam as-Syafi’i mencoba mendekati teks-teks keagamaan berdasarkan kepada aspek kebahasaan, yakni, sebuah pendekatan yang mencoba mencari makna di balik bentuk kata, dan kemudian proses berijtihad dapat diartikan sebagai proses mencari makna di balik kata selain sebagai usaha mencari illat suatu kasus hukum tertentu di masa nabi dengan menganalogikannya dengan kasus hukum di masa pasca kenabian.

Dengan demikian pemikiran usul fikih sejak dari masa Imam as-Syafi’i sampai Imam al-Ghazali mencoba menelaah makna di balik penampakan lahir sebuah kata dan tidak banyak menaruh perhatian kepada maqasid syariah. Jika pun ada ulasan tentang maqasid seperti yang terdapat dalam karya al-Ghazali, ulasan tersebut sifatnya periferal dan tidak menjadi bahasan inti.

Imam as-Syathibi dalam ranah usul fikih ini jelas sedang mencari basis baru yang tidak lagi mencoba memahami makna dari sebuah kata dalam teks-teks keagamaan melalui mekanisme qiyas.

Imam as-Syatibi bahkan lebih jauh lagi memberikan basis penalaran yang sifatnya deduktif (istiqra) untuk melihat aspek kulliyyat atau hal-hal yang sifatnya universal dalam syariat, suatu usaha yang tidak terjangkau oleh pendekatan qiyas dan kebahasaan. Dan untuk menutupi kekurangan penalaran deduktif seperti ini, as-Syathibi menambahkannya dengan menelisik lebih jauh dialektika relasi al-kulli dan al-juz’i dalam dinamika hukum Islam.

Dengan meneliti sumber-sumber primer keagamaan (syariah) berbasis penalaran yang sifatnya deduktif (istiqra’iy), as-Syatibi kemudian menemukan ada dua macam maqasid; pertama, maqasid pembuat syariat (qasdu as-syari) dan kedua, maqasid pelaksana syariat (qasdul mukallaf).

Dalam artikel ini, cukup pembahasan lebih difokuskan kepada jenis maqasid yang pertama. Untuk jenis maqasid yang pertama ini (qasd as-syari), as-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat membagi maqasid ke dalam empat formulasi; pertama, maqasid dalam pengertian tujuan dibuatkannya hukum syariat.

Kaidah umum dari formulasi maqasid pertama ini ialah bahwa syariat itu dibuat untuk menjaga kemaslahatan hamba baik kemaslahatan di dunia maupun kemaslahatan di akhirat. Kemaslahatan hamba ini meliputi kemaslahatan pada tataran primer (dharuriyyat), sekunder (hajiyat) dan tersier (tahsiniyyat).

Formulasi kedua ialah bahwa syariat itu dibuat untuk dapat dipahami (qasduhu wad’uha lil ifham). Kaidah umum dari formulasi maqasid yang kedua ini ialah bahwa Allah membuat syariat ini dalam batas-batas yang dapat dipahami oleh para hambanya.

Berdasarkan kaidah ini, as-Syathibi memberikan gambaran yang cukup menghentakkan kita, mungkin kita anggap kontroversial, yakni bahwa karena address pertama syariat ini ialah orang Arab yang kebanyakannya masih buta huruf, tentunya dalam memahami Alquran, harus dilihat dua hal penting: pertama, gaya artikulasi kebahasaan orang-orang Arab dan kedua, level pengetahuan orang Arab sendiri yang sebagian besarnya ialah ummi atau buta aksara.

Jadi yang baru dari as-Syatibi melalui formulasi kedua ini ialah penegasannya bahwa dalam memahami syariat kita perlu melihat dan mempertimbangkan ke-ummi-an orang-orang Arab sebagai bangsa yang pertama kali menerima ajaran Alquran serta bagaimana Alquran sendiri juga menganggap dan memperlakukan mereka sejauh dalam kerangka ke-umi-an ini dalam berbagai ayat-ayatnya. Ini karena kita tidak boleh menafsirkan dan bahkan memaksakan makna yang tidak dikenal di masa kenabian kepada redaksi ayat tertentu.

Di masa as-Syatibi sendiri banyak sekali  ulama yang ketika ingin berbicara mengenai logika, geometri, fisika, biologi, tasawwuf falsafi dan seterusnya, kutipannya ialah Alquran. Padahal kata as-Syathibi, Alquran tidak berbicara tentang ilmu-ilmu ini. Ilmu-ilmu ini tidak dikenal di masa kenabian. Jadi, kata as-Syathibi, pahamilah Alquran sejauh yang terpahami oleh bangsa yang ummi.

Pandangan as-Syatibi berimplikasi pada ketidakbolehan menafsirkan Alquran dari perspektif yang jauh dari yang dikenal bangsa Arab. Berangkat dari sini, as-Syatibi menegaskan bahwa syariat Islam itu bersifat ummi dan awal kemunculannya ialah untuk masyarakat yang ummi (hadzihi as-syariah al-mubarakah ummiyyatun li-anna ahlaha kadzalika).

Formulasi ketiga ialah bahwa tujuan dibuatkannya syariat ialah agar dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan sang hamba. Kaidah umum dalam formulasi keempat ini ialah jika seorang hamba tidak mampu melaksanakan ajaran agama, tidak akan sah taklif-nya secara syariat meski bisa saja taklif ini dibebankan kepadanya secara akal (ma la qudrata lit taklif alaihi la yasihh at-taklif bi syar’an wa in jaza aqlan).

Formulasi keempat ialah bahwa tujuan dibuatkannya syariat ialah agar hamba dapat masuk ke dalam hukum syariat. Kaidah umum dalam formulasi keempat ini ialah tujuan dibuatkannya syariat ialah untuk menghindarkan seorang hamba dari memperturut hawa nafsunya sehingga ia dapat menjadi hamba Allah secara ikhtiari maupun secara idtirari (Ikhrajul mukallaf min da’iyati hawahu hatta yakuna abdan li-Allahi ikhtiyaran kama huwa abdullah idtiraran).

Inilah empat formulasi yang dikemukakan oleh imam as-Syathibi dalam kitabnya yang terkenal, al-Muwafaqat fi Usul as-Syariah. Jelasnya, yang dirintis oleh imam as-Syatibi sebenarnya menandai fase perkembangan baru usul fikih dari masa ke masa yang awalnya fokus kajiannya lebih banyak ke persoalan bahasa dan mekanisme penalaran menggunakan qiyas kemudian beralih fokusnya ke maqasid syariah. Allahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Oleh karena itu, untuk melihat sejak kapan Maqasid Syariah itu maka akan lahir dua kesimpulan: pertama, dalam perspektif hanya sekadar wacana ilmiyah yang diperbincangkan dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, maka sejarah awalnya sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Karena kata Maqasid merupakan sinonim dari kata hikmah, illah, al-ma’ani, dan al-asrar (rahasia). Namun, jika Maqasid Syariah dianggap sebagai sebuah disiplin kajian tersendiri, atau keilmuan yang mempunyai definisi dan kerangka pembahasan tersendiri, maka sejarah awalnya bisa dinisbatkan kepada Imam al-Syatibi. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here