Maqashid Syariah dalam Ijtihad Para Sahabat Nabi

0
1662

BincangSyariah.Com – Dalam Dalilun li al-Mubtadi’, Jasser Udah menyebutkan bahwa penerapan nalar berfikir al-maqashid sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup bersama para sahabatnya. Salah satu contoh nyata akan hal itu adalah hadis mengenai salat Asar di Bani Quraizhah, di mana sebagian sahabat memahami perintah Rasul ketika itu secara tekstual dan sebagian yang lain secara kontekstual. Namun keputusan masing-masing dihargai oleh Nabi dengan bukti beliau tidak menyalahkan salah satu di antara keduanya. Satu-satunya ulama muslim yang menentang pendapat para sahabat yang melaksanakan salat Asar dalam perjalanan adalah Imam Ibn Hazm al-Andalusi (imam kaum tekstualis).

Selain itu prinsip serupa juga banyak dilakonkan oleh Umar ibn Khattab pada masa kekhalifahannya seperti kebijakannya dalam membagikan tanah yang baru dikuasai Islam di Mesir dan Irak bukan terhadap mereka yang ikut berperang, namun buat mereka yang benar-benar membutuhkannya dan bersifat komunal. Umar berdalil dengan ayat Alquran yang bersifat umum (lebih prinsipil) yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak menjadikan harta kekayaan terbatas pada kalangan tertentu saja (apalagi mereka yang sudah mapan secara ekonomi).

Selain itu Umar juga tidak menerapkan hukum potong tangan terhadap pencuri pada masa paceklik di Madinah, dengan anggapan bahwa penerapan hukuman tersebut pada saat orang-orang sedang menderita  kekurangan persediaan pangan dasar, menentang prinsip-prinsip keadilan yang ia anggap lebih fundamental untuk diikuti. Begitu juga dengan kebijakannya dengan hanya memberikan 1/5 harta rampasan perang bagi tentara yang menaklukkan musuhnya. Keputusan itu beliau ambil demi untuk menegakkan keadilan antar para tentara dan untuk mengukuhkan kepercayaan publik.

Kemudian kebijakannya ketika memasukkan kuda sebagai salah satu harta yang wajib zakat, ia beralasan bahwa kuda pada waktu itu sudah menjadi mahal dan dipandang sebagai harta yang nilainya melebihi nilai onta. Alasan ini jugalah yang melatarbelakangi ijtihad Yusuf al-Qardhawi yang mengharuskan zakat pada setiap harta yang berkembang.

Baca Juga :  Geneologi Teori-teori Maqashid Syariah Setelah Masa Sahabat

Sekadar untuk diketahui bahwa semua mazhab pemikiran hukum Islam selain pengikut Imam Abu Hanifah menolak perluasan jenis harta wajib zakat. Penolakan ini sejatinya dapat memperlihatkan sejauh mana pengaruh pemahaman harfiah terhadap metode-metode pemikiran tradisional hukum Islam. Bahkan Ibn Hazm menegaskan bahwa tidak ada zakat pada harta manapun kecuali 8 tipe harta yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW, yaitu emas, perak, gandum, sya’ir (sejenis gandung yang dipakai untuk membuat bir), kurma, unta, sapi, kambing dan domba.

Berdasarkan data ini, jelas terlihat bahwa opini Ibn Hazm justru berpotensi menghambat institusi zakat dari mencapai tujuan keadilan dan kesejahteraan sosial yang menjadi tujuan utamanya. Namun perlu digarisbawahi di sini bahwa pendekatan yang terarah oleh al-maqashid itu tidaklah serta merta diterapkan dalam semua jenis arahan syariat, ia hanya mencakup wilayah muamalah semata, tidak dalam bidang ibadah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar r.a pernah ditanya “mengapa kita tetap tawaf mengelilingi Ka’bah sambil membuka baju kita untuk memperlihatkan pundak, padahal Islam sudah kuat dan berkuasa di Mekah?”, lalu Umar menjawab “kami tidak akan berhenti melaksanakan sesuatu yang pernah menjadi kebiasaan Nabi pada saat itu”. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Umar membedakan antara tindakan peribadatan dan tindakan muamalah Nabi.

Imam al-Syathibi juga menegaskan dalam kitabnya al-Muwafaqat bahwa ketaatan harfiyyah adalah metode dasar pada wilayah peribadatan, sedangkan pertimbangan maksud dan tujuan adalah metode dasar pada wilayah muamalat. Berdasarkan hal itu, secara umum wilayah peribadatan harus ditetapkan sebagai area yang konstan (tidak berubah) di mana seorang muslim harus mengikuti contoh yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, sedangkan dalam ruang muamalat tidak harus demikian. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here