Manusia yang Menjadi Kunci Kebaikan dan Kunci Keburukan

0
31

BincangSyariah.Com – Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslimin agar menjadi kunci kebaikan. Dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Diantara manusia, ada yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan menjadi penutup keburukan. Dan di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci keburukan dan penutup kebaikan. Kebahagiaan bagi manusia yang kunci-kunci kebaikan dijadikan Allah pada kedua tangannya, dan celaka bagi manusia yang kunci-kunci keburukan dijadikan Allah pada kedua tangannya”. (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadis di atas, Rasulullah telah membagi “miftah” atau kunci menjadi dua, yaitu kunci kebaikan dan kunci keburukan.

Secara bahasa “miftah” adalah alat untuk membuka atau segala sesuatu yang digunakan membuka. Kemudian kata “miftah” digunakan untuk menunjukkan makna; segala sesuatu yang bisa membuka tutup, baik secara nyata atau maknawi. Contoh “miftah” yang nyata adalah kunci pintu, dan contoh “miftah” yang maknawi adalah bersuci yang menjadi kunci ibadah salat. (Baca: Ini Kunci Sukses Hidup di Dunia dan Akhirat)

Dalah hadis di atas, Rasulullah menyebutkan kata “miftah” dalam bentuk plural, yaitu “mafaatih”, sehingga dapat dipahami bahwa kunci-kunci kebaikan jumlahnya ada banyak, demikian pula dengan kunci-kunci keburukan.

Al-Munawi dalam Faidl al-Qadir mengutip penjelasan ar-Raghib, “al-khair” atau kebaikan adalah setiap sesuatu yang disenangi manusia, seperti: kecerdasan, keadilan, dan kemuliaan. Sedangkan “asy-syar” atau keburukan adalah sebaliknya. Objek yang sama terkadang menjadi kebaikan bagi seseorang dan menjadi keburukan bagi orang lain. Contonya adalah harta, terkadang harta itu baik bagi Zaid tapi tidak baik bagi Umar, karena itulah Allah menyifati harta dengan dua sifat.

Baca Juga :  Demokrasi dan Islam: Sejalankah Keduanya?

Masih dalam Faidl al-Qadir, al-Munawi mengutip penjelasan al-Hakim, hakikat “al-khair” adalah ridha Allah dan hakikat “asy-syar” adalah murka Allah. Sehingga setiap sesuatu yang dirihai-Nya adalah baik dan yang dimurkai-Nya adalah buruk.

Ketika Allah meridhai seorang hamba, maka tandanya adalah hamba tersebut dijadikan sebagai kunci kebaikan. Dengan melihatnya, orang lain akan mengingat kebaikan. Jika dirinya hadir, maka kebaikan juga ikut hadir bersamanya. Jika dirinya berkata, maka kebaikan keluar dari mulutnya.

Selain itu, pada diri orang tersebut terdapat tanda-tanda kebaikan yang dapat dilihat oleh siapa saja. Karena dari waktu ke waktu orang tersebut selalu berada dalam kebaikan; melakukan yang baik, mengucapkan yang baik, memikirkan yang baik, dan memiliki hati yang baik. Sehingga dimana pun berada, dia menjadi sebab kebaikan bagi setiap orang yang sedang bersamanya.

Sedangkan jenis manusia yang kedua, dari waktu ke waktu dia berada dalam keburukan; melakukan yang buruk, mengucapkan yang buruk, memikirkan yang buruk, dan memiliki hati yang buruk, sehingga dirinya menjadi kunci keburukan di mana pun berada dan menjadi sebab keburukan bagi siapa saja yang sedang bersamanya.

Berteman dengan jenis manusia yang pertama adalah obat dan setelah bertemu dengannya maka kalbu akan semakin sehat. Sebaliknya, berteman dengan jenis manusia kedua adalah penyakit yang membuat kalbu semakin sakit.

Menurut Muhammad bin Ali at-Turmudzi dalam Nawaadir al-Ushul fi Ahaadits ar-Rasul, siapa saja yang dihadapan hatinya adalah duniawi, maka ketika Anda berjumpa dengannya, dia akan membukakan pintu duniawi kepada Anda. Dia akan selalu berbicara urusan duniawi, sehingga membuat Anda tertarik dengan gemerlapnya dunia. Terus mendengarkan ucapannya menyebabkan kalbu Anda semakin tidak sehat, dan dia akan membuat Anda terlibat dalam urusannya.

Baca Juga :  Pakistan Memberikan Sanksi Keuangan untuk Kelompok Taliban

Kemudian siapa saja yang di hadapan hatinya adalah akhirat dan Allah, maka ketika Anda berjumpa dengannya, dia akan membukakan akhirat kepada Anda dan membuat Anda mengingat Allah. Dia akan menebarkan kebaikan pada Anda, membuat Anda semakin tertarik dan mencintai urusan akhirat, memandang sepele urusan duniawi, semakin zuhud, semakin istikamah dalam ibadah dan benar-benar mengesakan Allah SWT.

Orang-orang yang bisa megingatkan kepada Allah dan jalan akhirat itulah yang disebut dengan al-kubara’ (para pembesar) yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

جَالِسِ الْكُبَرَاءَ، وَسَائِلِ الْعُلَمَاءَ، وَخَالِطِ الْحُكَمَاءَ

Duduklah bersama para pembesar, bertanyalah pada para ulama, dan bergaullah dengan orang-orang bijak”. (HR. Thabrani).

Dari sekian banyak kunci kebaikan, paling tidak ada dua yang bisa kita jadikan prioritas, yaitu:

Belajar dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, kemudian menyebarkannya dengan cara mengajar, memberikan kuliah, seminar, kegiatan ilmiah, dan lain sebagainya. Membangun fasilitas-fasilitas pendidikan, membuat karya tulis, mengupayakan penerbitan buku, pengembangan media online, dan seluruh kegiatan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Prioritas kedua adalah, amar ma’ruf nahi munkar dengan cara-cara yang lembut dan bijak, sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam surat an-Nahl: 125 dan Ali Imran: 110. Kita harus konsisten dalam berdakwah mengajak ke jalan Allah, dengan cara memberi tahu orang yang belum mengerti, memberi nasehat orang yang lalai, berdebat dengan orang yang salah, mendorong untuk beribadah; menjalankan yang wajib dan yang sunah, dan melarang sesuatu yang diharamkan. Terutama berdakwah kepada non muslim agar mereka tertarik dengan agama Islam.

Rasulullah telah bersabda tentang keutamaan berdakwah sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Baca Juga :  Respon MUI Soal Heboh Rambut Nabi yang Dibawa Opick

Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

Dengan penjelasan di atas, hendaknya kita selalu menjadi manusia bermanfaat yang menjadi kunci kebaikan, menumbuhkan dan menebarkan kebaikan kepada siapa pun dan di mana pun.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here