Manusia Yang Lupa Tugasnya, Berpikir!

0
864

BincangSyariah.Com – “…dan Kami telah mewahyukan Pengingat (az-Zikr) agar kamu dapat menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan (dari Langit) kepada mereka, dan agar mereka memikirkan.” QS 16:44

Ada sebuah aktivitas yang selama ini teramat sangat dilupakan manusia. Entah karena larut dalam kesibukan atau karena enggan untuk melakukannya. Tetapi, di sela waktu mereka terkadang aktivitas itu memenuhi kepala dan relung jiwa. Meskipun yang ada dalam aktivitas itu tak jauh dari urusan perutnya saja.

Di bawah naungan langit kelabu dan udara polutan kota besar, manusia berjalan menempuh pengembaraannya. Teramat sering mereka bercengkrama, makan-makan, minum-minum, sambil sesekali membuang bungkus makan dan minumnya begitu saja di emperan toko. Kucing-kucing liar berlarian menghampiri mereka yang tengah duduk berpangku semangkuk soto ayam dan tak secuil daging pun mendarat di mulut si kucing.

Manusia-manusia itu barang kali tidak tahu. Bahwa tidak hanya kucing yang rela ‘berebut’ sisa makan mereka. Meski sudah terbalut debu dan kotoran di tempat sampah. Rupanya sisa makanan itu banyak dikumpulkan orang-orang di bawah jembatan penyeberangan. Mereka mengolah sisa-sisa makanan itu juga bahkan menjual kembali kepada mereka yang ingin makan kenyang dengan kocek sedikit.

Aktivitas itu, yakni aktivitas berpikir, yang selama ini banyak dilupakan manusia. ‘Aku mikir, kok.’ ‘Banyak pikiran, kali.’ ‘Semuanya udah kupikirin, kok.’ Manusia sering bicara begitu. Padahal nyatanya, seringkali mereka bicara lebih dulu, bertindak lebih dulu, semuanya tanpa berpikir lebih dulu.

Begitu banyak pekerjaan manusia yang terbengkalai sejak sumpahnya sebagai khalifah dipegang Tuhan. Apa yang telah dilakukan justru kebalikan dari semestinya; manusia senantiasa berbuat kerusakan. (Kriteria Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah)

Baca Juga :  Para Pesepakbola yang Berlebaran di Negeri Beruang Merah

Tidak jarang, manusia yang lemah berpikir (cenderung abai pada sekitarnya) lebih mengikuti nafsu lawwamah. Umat Islam kini cenderung larut dalam hedonisme dan konsumerisme (baca: Gaya Hidup Masyarakat Muslim Kekinian) daripada berperan sesuai fundamentalnya sebagai manusia.

Minim Kesadaran Berpikir Filsafati, Masalah Fundamental Bangsa Indonesia

Kesalahan fatal dari pendidikan di negara kita adalah menghafal. Pembaca yang Budiman, coba perhatikan taman kanak-kanak di sekitar rumah Anda. Khususnya Taman Kanak-kanak yang katanya berbasis Islam. Dengarkan aktivitas para guru dan siswanya. Dengarkan bagaimana doa-doa dan ayat-ayat yang panjang dilafalkan. Sejak kecil, anak-anak Indonesia telah dicekoki dengan metode menghafal pelajaran agama. Menghafal panjangnya doa, panjangnya ayat. Tapi, bagaimana dengan praktiknya?

Saya tidak mengatakan bahwa level menghafal adalah suatu hal yang sia-sia. Namun dasar dari membentuk manusia yang peka terhadap kemanusiaan adalah dengan memberi contoh. Bukan hafalan.

Itulah mengapa di sekolah-sekolah di Jerman, anak-anak mereka distimulasi dengan pertanyaan-pertanyaan. Dibebaskan untuk berpikir dan mencari tahu permasalahan di sekitar mereka untuk kemudian didiskusikan. Jika ada pendapat bahwa anak-anak masih belum mapan dalam berpikir dan berfilsafat, saya pikir mereka kurang tepat. Kalau memang anak-anak adalah manusia yang lemah berpikir filsafati, kenapa terkadang pertanyaan mereka kerap membuat orang dewasa bingung untuk menjawab?

Berdasarkan tulisan Reza A.A. Wattimena, “Pendidikan Filsafat Untuk Anak?” dijelaskan bahwa Katharina Zeitler, seorang peneliti dalam Proyek Filsafat untuk Anak di Jerman memaparkan dua hal yang mendukung anak berfilsafat yakni kemampuan mengajukan pendapat dan berpikir kritis. Dia juga menjelaskan lebih jauh bahwa anak secara naluriah memiliki sikap ingin tahu yang besar di mana sikap ini jika tidak diasah akan kemudian menjadi manusia abai yang pelupa dan malas berpikir seperti yang saya paparkan di awal tulisan.

Baca Juga :  Kenapa Rasulullah Menangis saat QS Ali Imran Ayat 190 Diturunkan di Malam Hari?

Cara berpikir filsafati juga terbukti telah dilakukan oleh pemuka agama Islam dan filosof muslim dunia. Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas berpikir, khususnya berpikir filsafati dalam hal ini adalah keniscayaan dalam Islam, suatu hal yang semestinya sudah diterapkan sejak dini kepada anak-anak agar kelak menjadi manusia yang peka dirinya, peka lingkungannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here