Manhaj Ulama Asy’ariyyah dalam Menyusun Ilmu Kalam

1
1198

BincangSyariah.Com – Ibnu Khaldun dalam bab yang menjelaskan tentang ilmu kalam mengemukakan dengan sangat menarik mengenai adanya pergeseran paradigma antara mutaqaddimin dan mutaakhirin dalam membuat rasionalisasi bagi kebenaran argumen-argumen kalam.

Pergeseran ini, sejauh yang teramati, sebenarnya diakibatkan oleh akses yang mudah dalam mempelajari logika Aristoteles dari abad ke empat sampai ke abad-abad berikutnya.

Menurut beberapa pakar sejarah, karya-karya Aristoteles, terutama tentang logika, baru kelar diterjemahkan secara lengkap di abad keempat Hijriyyah. Artinya sebelum abad keempat ini, logika Aristoteles masih tercecer di sana-sini dan belum membentuk sebuah keutuhan ilmu pengetahuan.

Karena itu, pemikiran-pemikiran kalam di tangan Abu Bakar al-Baqilani dan kelak kemudian dilanjutkan oleh Imam al-Juwaini dari kalangan Asyariyyah masih murni dan belum tercampur konsep-konsep filsafat.

Imam al-Juwaini memiliki dua karya penting tentang ilmu kalam sebelum terjadi pergeseran paradigm dari mutaqaddimin ke mutaakhirin. Karya tersebut berjudul as-Syamil yang kemudian diringkas materi pembahasannya secara padat dalam kitabnya yang lain yang berjudul al-Irsyad.

Pasca al-Juwaini ini, terutama di tangan al-Ghazali, ilmu kalam mendapatkan basis baru dari logika Aristoteles. Hal demikian seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang terkenal, al-Muqaddimah:

ثم انتشر من بعد ذلك علم المنطق في الملة، وقرأه الناس وفرقوا بينه وبين العلوم الفلسفية، بأنه قانون ومعيار للأدلة فقط، يسبر به الأدلة منها كما يسبر من سواها، ثم نظروا في تلك القواعد والمقدمات في فن الكلام للأقدمين، فخالفوا الكثير منها بالبراهين التي أدتهم إلى ذلك، وربما أن كثيرا منها مقتبس من كلام الفلاسفة في الطبيعيات والإلهيات، فلما سبروها بمعيار المنطق ردهم إلى ذلك فيها، ولم يعتقدوا بطلان المدلول من بطلان دليله كما صار إليه القاضي، فصارت هذه الطريقة في مصطلحهم مباينة للطريقة الأولى، وتسمى طريقة المتأخرين…

“Setelah itu, tersebarlah logika Aristoteles di kalangan umat Islam. ilmu ini pelajari secara seksama dan bahkan dibedakan dengan ilmu filsafat. Logika di masa ini hanya dijadikan sebagai seperangkat sarana atau kaidah-kaidah berpikir yang digunakan untuk menguji kebenaran pengetahuan. Setelah mempelajari logika, ulama saat itu melihat dan meneliti kembali basis-basis rasional atau sebut saja fondasionalisas epistemic yang ditulis oleh para ulama mutaqaddimin tentang ilmu kalam. Dengan adanya berbagai macam bukti-bukti baru melalui logika, ulama mutaakhirin banyak yang berbeda pandangan dengan ulama mutaqaddimin. Kemungkinan perbedaan paradigma ini muncul akibat derasnya kutipan-kutipan dari kaum filosof dalam bidang fisika dan metafisika. Kendati derasnya kutipan dari para filosof, para ahli kalam mutaakhirin dan dengan menggunakan logika Aristoteles mengkritik keras pandangan-pandangan mereka. Namun ulama kalam saat itu juga tidak lagi percaya dengan prinsip kesalahan bukti akan berakibat pada kekeliruan objek yang dibuktikan, sebuah prinsip yang dulunya dipegang oleh al-Baqilani. Metode ini pada tahap selanjutnya berbeda dengan metode pertama. Metode yang terakhir ini disebut juga sebagai metode mutaakhirin dalam kalam.”

Kutipan ini menyajikan kepada kita mengenai adanya pergeseran paradigma atau sebut saja lebih mudahnya perubahan metode dari metode mutaqaddimin menjadi metode mutaakhirin. Perubahan metode tersebut diakibatkan oleh adanya pengadopsian logika Aristoteles sebagai metode baru untuk membangun argument kalam. Lalu siapakah ulama yang pertama kali menahbiskan metode baru dan meninggalkan metode lama dalam ilmu kalam?

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa:

وأول من كتب في طريقة الكلام على هذا المنحى الغزالي –رحمه الله- وتبعه الإمام ابن الخطيب وجماعة قفوا أثرهم واعتمدوا تقليدهم.

“orang yang pertama kali menggunakan metode baru ini ialah Imam al-Ghazali yang kemudian diikuti oleh Imam Fakhrudin ar-Razy dan beberapa ulama Asyariyyah yang mengikuti jejak mereka.”

Jika memang ada perbedaan paradigma antara mutaqaddimin dan mutaakhirin dalam ilmu kalam, lantas pertanyaan yang mungkin bisa diajukan kepada Ibnu Khaldun ialah apa cirri khas yang membedakan antara mutaakhirin dengan mutaqaddimin dan apa implikasinya dari dijadikanya logika Aristoteles sebagai acuan dalam mekanisme penalaran?

Ibnu Khaldun masih dalam kitab al-Muqaddimah mengatakan:

ثم توغل المتأخرون من بعدهم في مخالطة كتب الفلسفة والتبس عليهم شأن الموضوع في العلمين فحسبوه فيهما واحدا، من اشتباه المسائل فيهما.

“…setelah al-Ghazali dan ar-Razy, ulama muta’akhirun banyak menenggelamkan diri dalam buku-buku filsafat. Akibat dari sikap ini, bercampur aduklah objek yang menjadi fokus kajian ilmu kalam dan ilmu filsafat. Ulama mutaakhirin mengklaim bahwa objek kedua ilmu berikut dengan persoalan-persoalannya dianggap tiada bedanya

Dari penjelasan Ibnu Khaldun ini, kita menemukan adanya percampurbauran konsep-konsep filsafat dengan konsep-konsep ilmu kalam yang semuanya berangkat pandangan yang menyamakan wilayah kajian keduanya. Terkait hal ini, Ibnu Khaldun menegaskan lebih jauh dalam kitab al-Muqaddimah:

ولقد اختلطت الطريقتان عند هؤلاء المتأخرين والتبست مسائل الكلام بمسائل الفلسة بحيث لا يتميز أحد الفنين عن الآخر.

“Filsafat dan kalam di tangan ulama mut’akhirin bercampur baur. Akibatnya, persoalan-persoalan ilmu kalam bercampur aduk dengan persoalan-persoalan filsafat sampai-sampai kedua ilmu ini tidak bisa dibedakan.”

Cukup jelaslah di sini pandangan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang menegaskan adanya garis pemisah antara paradigma mutaqaddimin seperti yang diwakili al-Baqilani dan al-Juwaini dan paradigma mutaakhirin seperti yang diwakili oleh al-Ghazali dan Fakhruddin ar-Razi. Garis pemisah ini mulai muncul dari sejak diadopsinya logika Aristoteles sebagai metode baru dalam ilmu kalam Asyariyyah.

Dalam kesempatan lain, kita akan mencoba membandingkan beberapa karya dalam ilmu kalam yang merefleksikan kedua paradigma tersebut dan kita tilik perbedaannya secara lebih dekat untuk membuktikan kebenaran analisis yang dikemukakan Ibnu Khaldun. Insya Allah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here