Manfaat Shalat Tarawih untuk Kesehatan

1
1196

BincangSyariah.com – Semua kitab tarikh dan hadist bersepakat bahwa pada zaman Rasulullah Saw nama shalat tarawih belumlah dikenal seperti sekarag ini. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, shalat untuk menghidupkan malam-malam bulan ramadhan adalah qiyamu ramadhan. Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang berdiri (shalat) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni dosanya yang terdahulu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kamus Al-Maany dijelaskan bahwa kata tarawih merupakan bentuk jamak (plural) dari kata tarwiihah dimana makna asalnya adalah duduk. Lalu kata tarawih diistilahkan untuk duduk beristirahat setelah mengerjakan empat rakaat qiyami ramadhan. Hal itu bermula, ketika untuk pertama kalinya para sahabat berkumpul, pada masa Kholifah Umar Bin Al-Khottob r.a, untuk melaksanakan shalat tarawih, mereka berdiri, rukuk, dan sujud dengan sangat lama sekali sehingga mereka diberi kesempatan untuk beristirahat setiap selesai empat rakaat.

Shalat tarawih merupakan amalan yang dipilih oleh Rasulullah Saw untuk menghidupkan malam-malam bulan ramadhan. Meskipun statusnya sunnah, tetapi ia sangat istimewa karena tidak dapat dikerjakan di selain bulan ramadhan. Tentulah keistimewaan itu dibarengi dengan keutamaan-keutamaan, seperti diampuninya dosa-dosa sebagaimana hadist diatas apabila dikerjakan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah.

Selain pengampunan dosa, ada manfaat lain yang akan didapatkan oleh orang-orang yang mengerjakan shalat tarawih yaitu manfaat bagi kesehatan. Tentu saja tarawih yang memiliki dampak positit terhadap kesehatan apabila dikerjakan secara benar sebagaimana dahulu para sahabat mengerjakannya. Mereka mengerjakan shalat tarawih dengan berdiri dan sujud yang sangat lama sampai-sampai satu rakaat saja berlangsung sangat lama dan karenanya mereka beristirahat setiap selesai empat rakaat.

Baca Juga :  Selama Tarawih Mengkhatamkan Al-Qur’an, Apa Hukumnya?

Menurut Imam Abi Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad Bin Hambal dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Bahkan di masa Kholifah Umar Bin Abdul Aziz r.a shalat tarawih sempat dikerjakan sebanyak 36 rakaat. Artinya dengan 20 rakaat shalat tarawih setiap malam, kita telah bersujud sebanyak 40 kali. Jika shalat tarawih dikerjakan selama 30 hari penuh maka ada 1.200 kali sujud dilakukan.

Menurut dr. Dhiyauddin Hamid, kepala bagian penyebaran gizi dan makanan pada pusat teknologi sinar di Mesir sebagaimana dikutip dalam buku At-Tadawi bil istighfar, du’a, shalat, al-qur’an, shaum, shadaqoh karya Syaikh Hasan Ahmad Al-Hammam, jika manusia terkena cahaya yang berlebihan dan lebih banyak menghabiskan hidupnya di tengah-tengah pengaruh gelombang elektromagnetik, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap sel-sel tubuh dan kekuatannya. Oleh karena itu, sujud membebaskannya dari pengaruh berlebihan yang bisa mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit.

Gelombang elektromagnetik yang diperoleh tubuh ini menyebabkan terjadinya gangguan pada jaringan inti sel dan merusak kinerjanya. Sehingga membuat manusia terkena penyakit seperti sakit kepala, kejang-kejang pada otot, radang tenggorokan, penat, depresi, pelupa, dan disfungsi otak.

Ketika jumlah gelombang semakin bertambah tanpa ada upaya menguranginya maka hal itu dapat mengakibatkan kanker dan kelainan pada janin. Oleh karena itu, seseorang harus terbebas dari gelombang-gelombang itu serta membuangnya keluar dari tubuh tanpa menggunakan obat-obatan dan bahan-bahan penenang untuk menghindari efek sampingnya.

Solusinya adalah dengan bersujud kepada Allah Swt. Proses pembuangan gelombang elektromagnetik itu dimulai ketika seseorang bersujud diatas tujuh anggota tubuh, yaitu kening, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki. Adapun yang menarik dari kajian dr. Dhiyauddin Hamid adalah supaya proses pembuangan muatan elektormagnetik ini berjalan lancar maka orang yang bersujud harus menghadap ke arah Makkah Al-Mukarramah (Kiblat).

Baca Juga :  Hukum Menjarah dalam Islam

Selain itu, kajian yang dilakukan oleh dr. Abdullah Muhammad Nasrat, seorang pakar pembedahan umum dari Mesir, mengungkap fakta bahwa aliran darah ke otak ketika sujud akan bertambah lancar dengan adanya gerakan memiringkan kepala ke bawah. Begitupula menunduknya badan ketika sujud dapat memperlancar aliran darah dari seluruh tubuh menuju organ bagian dalam dan otak.

Di samping itu, kadar karbon dioksida dalam darah akan semakin bertambah ketika kepala condong ke bawah saat bersujud. Hal itu sebagai akibat dari tekanan usus terhadap paru-paru. Naiknya kadar karbon dioksida dalam darah ini dapat membantu memperlancar aliran darah menuju otak.

Secara spesifik, sebuah lembaga riset di Maroko yang meneliti tentang puasa, menyebutkan betapa pentingnya kesungguhan untuk melaksanakan shalat tarawih, karena sangat bermanfaat untuk membakar kalori panas tubuh ketika berbuka. Yaitu, rata-rata 10 kalori setiap kali melakukan satu rakaat yang akan bermanfaat dalam membantu menurunkan tekanan darah.

Dr. Said Syalabi, pakar pencernaan di pusat riset nasional Mesir memaparkan bahwa penambahan pada kalori dalam tubuh dapat diturunkan dalam bentuk lemak yang dinamakan dengan glukogen pada dinding pembuluh darah. Sehingga ia akan kehilangan kemampuan untuk melebar dan mengecil yang akan membantu naiknya tekanan darah. Wallohu a’lam bisshowab

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Di Indonesia, terdapat sebagian masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam. Sebagian lagi ada yang melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah delapan rakaat dengan empat kali salam. Dalam shalat tarawih, apakah wajib niat setiap melakukan takbiratul ihram, atau cukup hanya pada takbiratul ihram pertama? (Baca: Manfaat Shalat Tarawih untuk Kesehatan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here