Mana Lebih Tinggi, Shiddiqin atau Syuhada?

3
510

BincangSyariah.com – Tiga dari empat Khulafaur Rasyidin kita yang agung, seperti yang sering kita temui dalam beberapa literatur Islam, wafat sebagai para syuhada di mata Allah. Sedangkan salah satunya mencapai tingkatan paling agung dari puncak ke-shiddiq-an yakni Abu Bakar ra. Tingkatan ini, menurut jumhur ulama menempati tingkat tertinggi pada batas terakhir dan tidak bisa dilampaui lagi sebab setelahnya adalah tingkat kenabian yang sejak diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir, telah ditutup bagi seluruh umat manusia setelahnya.

Banyak kisah mengenai betapa mulianya sahabat Abu Bakar ra. Sebagaimana dikutip Imam Baihaqi dalam kitabnya yang berjudul Syu’ab al-Iman, Umar Ibn Khattab ra pernah berkata:

لَوْ وُزِنَ إِيْمَانُ أَبِيْ بَكْرٍ بِإِيْمَانِ أَهْلِ اْلأَرْضِ لَرَجَّحَ بِهِمْ

“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat, maka akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” 

Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menyebutkan bahwa Rasulullah seringkali memuji kemuliaan hati Abu Bakar as. Salah satunya beliau pernah mengatakan “Tiada aku mengajak seorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, keraguan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan, kecuali Abu Bakar. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa keraguan sedikitpun.”

Abu Bakar ra adalah pembenar terbesar bagi peristiwa terbesar. Dikisahkan, Ketika Rasul saw mengabarkan para Musyrikin Mekkah tentang peristiwa Isra’ Mi’raj, sekelompok mereka segera mendatangi Abu Bakar ra dan memberitahunya bahwa Muhammad saw berkata begini dan begitu. Mendengar hal itu, Abu Bakar ra menjawab “Kalian berdusta”. Mereka membantah “Demi Tuhan, dia memang telah mengatakan itu” Abu Bakar ra pun berkata “Kalau dia memang berkata demikian, benarlah apa yang telah dikatakannya”

Baca Juga :  Pelaku Dosa Besar dalam Mazhab Teologi Islam

Peristiwa ini yang melatarbelakangi disematkannya gelar as-Shiddiq di belakang namanya. Dalam tingkatan shiddiq, ia mencapai batas terakhir. Para sahabat dan kaum muslimin lainnya menempati posisi sesuai dengan tingkatan iman masing-masing di belakang Abu Bakar ra, dan ini hanya dapat terwujud jika kita mampu melewati ‘ilmu al-yaqin (keyakinan berdasarkan pengetahuan) menuju ‘ayn al-yaqin (keyakinan berdasarkan penglihatan) kemudian haqq al-yaqin (keyakinan sejati dengan merasakan secara langsung).

Khalifah sisanya, diberi kenikmatan oleh Allah swt sebagai seorang syahid seperti yang selalu mereka pinta dalam setiap doa dan sujud mereka. Khalifah Umar Ibn Khattab ra, sosok yang begitu kuat dan tangguh memperjuangkan panji-panji Islam, ternyata seringkali menangis sebab takut keinginan tersebut tidak tercapai dalam hidupnya. Al-Khattab, sebagaimana diceritakan dalam kitab Dzahiratu An-Nifaq karya Abdurrahman Hanbakah al-Maidani, selalu meminta mati syahid kepada Allah swt.

Allah swt mengabulkan dan memberinya ke-syahid-an dengan tingkatan yang tertinggi. Ia wafat sebagai syahid di tangan seorang Munafik Majusi dari Iran bernama Abu Lu’luah Fairuz. Kejadian itu berlangsung di waktu pagi hari ketika Umar sedang berdiri di mihrabnya sebagai imam shalat dan Abu Lu’luah berdiri di shaf pertama. Ketika hendak sujud, Abu Lu’luah menikam tepat di dadanya dengan pisau besar melengkung bermata dua yang disebut dengan Khanjar.

Sujud adalah titik terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Pada kondisi ini, manusia menuju puncak tertinggi dalam menghamba, dan dengan satu hunjaman pisau Khanjar Abu Lu’luah, sampailah Umar ra pada puncak kesyahidan yang dimimpi-mimpikan oleh seluruh umat mukmin di dunia. Allah swt berfirman, “Dan bersujudlah serta mendekatlah!” Umar ra telah bersujud kemudian ia mendekati batas akhir yang bisa dijangkau oleh manusia selain Nabi. Hal inilah yang mungkin diisyaratkan Nabi saw ketika beliau bersabda, “Seandainya sesudahku ada nabi lagi, tentu dia adalah Umar ibn Khattab.”

Di bawah tingkatan syahid Umar Ibn Khattab ra ada banyak tingkatan syahid yang lebih rendah terus sampai pada yang paling rendah. Orang-orang yang gugur sebagai syahid dalam perang Badar, perang Uhud, orang yang tenggelam, dan orang-orang yang meninggal dalam perjuangan melawan kezaliman Yahudi, mereka semua menempati tingkatan syahid masing-masing.

Baca Juga :  Nabi Membolehkan Iri kepada Dua Orang Ini

Hanya saja, tingkatan ini hanyalah untuk mereka yang mengorbankan diri dalam meninggikan kalimat Allah Swt. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa orang yang bekerja siang dan malam untuk meninggikan agama dan berdoa kepada Allah dengan ikhlas agar diberi mati syahid, akan memperoleh tingkatan syahid meskipun meninggal dunia dalam keadaan terlentang di atas kasurnya.

Pada akhirnya, keutamaan dan kelebihan antara Shiddiqin dan Syuhada ada pada setiap puncak keduanya. Pada puncak keshiddiqan terdapat Abu Bakar ra, sedangkan pada puncak kesyahidan ada Umar ra. Semoga kita semua termasuk golongan keduanya di mata Allah swt. Amin…

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here