Malaikat al-Hafazhah dalam Alquran

3
6957

Salah satu kosakata dalam bahasa Arab yang memiliki arti malaikat adalah al-Hafazhah. Selain dari kata malaikat (tunggal: al-Malak) itu sendiri. Ayat yang menyebutkan tentang malaikat al-hafazhah adalah surah al-An’am [6]: 61,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ 

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

            Melalui ayat ini, sepintas kita dapat memahami bahwa di setiap diri manusia ada malaikat-malaikat yang tugasnya menjaganya. Ini berangkat dari makna kebahasaan dari kata hafazhah sendiri yang berarti penjaga-penjaga (tunggal: haafizh/haafizhah). Tapi, apa yang dimaksud penjaga tersebut ? Apakah berarti malaikat tersebut dapat menjaga manusia dari kesalahan ?

Kata al-Hafazhah dalam Alquran

Kehadiran malaikat hafazhah ini sebenarnya tidak terlepas dari firman Allah Swt. sendiri yang menyatakan bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan pendengaran, penglihatan, dan perasaan yang ada di hadapan Tuhan. Karena apa yang berada dalam diri manusia seluruhnya ini akan dipertanggungjawabkan, Allah Swt. juga melekatkan malaikat-malaikat-Nya untuk mengawasi segala yang dilakukan setiap hamba di muka bumi.

Terkait makna hafazhah ini, ada yang lain yang mengisyaratkan makna yang sama. Yaitu, manusia memiliki malaikat yang senantiasa mencatat apa yang baik dan buruk yang dilakukan. Dalilnya adalah surah Ar-Ra’d [13]: 10-11,

 سوآءٌ منكم مَن أسرَّ القول ومَن جهر به ومَن هو مستخف بالليل وسارب بالنهار . له معقِّبات مِن بين يديه ومِن خلفه يحفظونه من أمر الله

 “Sama saja engkau merahasiakan ucapanmu atau menyuarakannya, atau yang bersuara lirih di malam hari dan berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Ia memiliki (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, yang berada di depan maupun di belakang. Mereka (malaikat-malaikat) itu menjaganya karena perintah Allah Swt.  

 Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibn Katsir, ayat ini menjadi salah satu penjelasan dari makna hafazhah yang berarti malaikat penjaga itu di surah al-An’am [6] : 61. Jelasnya, hafazhah adalah diantara malaikat yang menjaga manusia. Selain menjaga manusia, ada juga malaikat yang mencatat amal baik dan buruk (ini yang dikenal dengan malaikat Raqib dan ‘Atid).

Baca Juga :  Kisah Lauk Ikan Abdullah bin Umar yang Diminta oleh Pengemis

Penggunaan kata mu’aqqibaat , masih menurut Ibn Katsir dimaknai sebagai berikut, « bagi setiap hamba ada sekian banyak malaikat yang bergantian silih berganti mengawasinya, di waktu siang dan malam. Ada juga malaikat yang menjaganya dari peristiwa buruk yang menimpanya. Ada juga yang bergiliran mencatat amalan-amalanya yang baik dan buruk. Ada juga yang menjaganya di sisi depan maupun belakang ». Makna ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah Ra., dan diriwayatkan secara bersamaan oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut muttafaqun ‘alaih),

يَتَعَاقَبُونَ فِيكم مَلائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وملائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيجْتَمِعُونَ في صَلاةِ الصُّبْحِ وصلاةِ العصْرِ، ثُمَّ يعْرُجُ الَّذِينَ باتُوا فِيكم، فيسْأَلُهُمُ اللَّه وهُو أَعْلمُ بهِمْ: كَيفَ تَرَكتمْ عِبادِي؟ فَيقُولُونَ: تَركنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتيناهُمْ وهُمْ يُصلُّون

Para malaikat silih berganti bersama kalian di waktu malam, dan ada juga malaikat di waktu siang. Mereka juga berkumpul di waktu subuh dan di waktu ashar. Kemudian, sekelompok malaikat yang menjaga kalian naik (bertemu Allah). Allah lalu menanyai mereka dan Allah Maha Mengetahui tentang mereka. « Mengapa kalian tinggalkan para hamba-Ku ? » Para malaikat menjawab : « Kami tinggalkan dan mereka dalam keadaan shalat. Kami lalu kembali mereka masih dalam keadaan shalat (juga). »

Kesimpulan 

Dari beberapa uraian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa di setiap diri manusia Allah Swt. mengutus malaikat yang mengawasi kita. Seperti dalam riwayat lain di Shahih al-Bukhari, bahwa malaikat tersebut menghindar sesaat dari kita saat kita berhubungan intim atau di kamar mandi (al-khalaa’). Penjelasan serupa juga dapat ditemukan diantaranya dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah karya Ibn Hajar al-Haitami.

Menurut penulis, menarik terkait dengan penafsiran yang dilakukan Ibn Katsir terhadap ayat ini. Beliau menyitir juga riwayat Imam Ahmad bahwa di setiap diri manusia ada yang disebut sebagai qarin. Bedanya, qarin yang juga ada pada Nabi Saw. itu sudah masuk Islam dan tidak memerintah kecuali kepada kebaikan. Penjelasan tentang qarin akan ditempatkan di tulisan sendiri.

Baca Juga :  Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Jum’at

Intinya adalah, keberadaan malaikat yang menjaga diri manusia tersebut tidak sama sekali menunjukkan bahwa manusia tidak terlepas dari dosa. Malaikat tersebut juga tidak akan menghalangi jika Allah Swt. menakdirkan sesuatu kepada hamba tersebut. Wallahu A’lam.

Klik MALAIKAT atau Muhamad Masrur Irsyadi untuk menemukan tulisan-tulisan yang lain.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here