Maksud Tidak Boleh Jual Beli Saat Adzan Shalat Jumat

0
25

BincangSyariah.com – Saya bersama dengan beberapa teman di pondok pesantren, menggelisahkan perkara tidak boleh jual beli saat adzan shalat jumat. Problemnya, menurut kami, seringkali pandangan itu ditelan mentah-mentah secara harfiah dengan menganggap orang yang membeli sesuatu saat kumandang adzan jumat dianggap mutlak berdosa. Padahal, persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Kami mencoba mengurai lebih jauh dari sudut pandang aneka mazhab fikih, ushul al-fiqh, memahami konteks turunnya ayat (asbab an-nuzul), sampai memahami apa hikmah at-tasyri’ dari ayat tersebut.

Awalnya adalah kebingungan salah seorang sahabat kami yang menyoal; ‘apakah keharaman jual beli saat adzan shalat Jumat itu berlaku umum tanpa pengecualian sama sekali, atau bagaimana?. Kalau memang ada pengecualian, bagaimana kajian hukumnya?’ Tanyanya heran. Jelasnya, pertanyaan semacam ini, bagi yang alim tidaklah rumit, tapi bagi kami lumayan menguras pikiran.

Kalau melihat hukumnya, sebagaimana dalam kitab-kitab fikih, adalah haram jual beli saat adzan shalat jumat. Ini berdasarkan yang disepakati oleh ulama. Yang menjadi perdebatan adalah, kapan keharaman itu berlaku? apakah dimulai saat kumandang azan shalat jumat pertama atau kedua? Menurut sebagian ulama, keharaman jual beli itu bermula sejak azan pertama dikumandangkan. Sebagian lainnya mengatakan, keharaman tersebut sejak azan kedua, yaitu saat khatib sudah di atas mimbar.

Sampai di sini, kita dapat tangkap, bahwa jual-beli dalam konteks ini haram, walaupun haramnya karena faktor eksternal (li ghairihi), bukan semata akadnya (li dzat al-aqdi).

Lalu, apa hikmah di balik keharaman itu?. Ahmad ar-Raisuni dalam bukunya al-Fikr al-Maqhashidi: Qawa’iduhu wa Fawaiduhu (h. 76) menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar tidak menjadi penghalang pelaksanaan salat Jumat tersebut. Sekurang-kurangnya tidak membuat orang terlambat dan tergopoh-gopoh untuk ke masjid.

Baca Juga :  Imam Menunggu Orang agar Bisa Ikut Berjamaah, Ada Sembilan Syaratnya

Lantas, kalau memang hikmahnya demikian, bagaimana kalau jual beli itu tidak menjadi penghalang atau membuat orang tergopoh-gopoh ke masjid? seperti bertransaksi di masjid, dengan mengasumsikan bahwa penjualan itu dikoordinir oleh pengurus masjid dan hasilnya untuk kemaslahatan masjid tersebut, semisal menjual tasbih atau minyak wangi yang telah difasilitasi dengan rapi. Transaksi macam tersebut, belum tentu membuat orang lalai sama sekali dan kehilangan shalat Jumat.

Kalau melihat dalil dan teori ushul fiqh, justru peluang untuk dibolehkan. Dalam Al-Quran, larangan jual beli saat adzan shalat jumat, ditegaskan dalam surah al-Jum’ah [62]: 9 yang berbunyi,

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلىٰ ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوْا البَيْعَ ذٰلِكُمْ خُيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan salat di hari Jumat maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui”.

Penegasan larangannya terdapat pada redaksi wa dzaru al-bai’ (tinggalkanlah jual-beli). Dalam kajian ushul fiqh, kata al-bai’, termasuk lafal ãm (lafal yang bermakna umum). Artinya mencakup seluruh macam jual-beli. Berarti, seluruh macam jual-beli, bagaimanapun formatnya, haram dilakukan di waktu itu.

Namun, dalam satu kaidah ushul fiqh, disebutkan:

مَا مِن عَامٍّ إِلَّا وَقَدْ خُصَّ

“Setiap lafal umum pasti ada pengecualiannya”.

Kaidah ini sedang menyatakan bahwa lafal al-bai’ yang bermakna umum itu, memiliki pengecualian-pengecualian. Dan tentunya, dalam urusan mengecualikan sesuatu, haruslah memiliki dasar atau alasan mengapa ia dikecualikan, yang dalam teori ushul fiqh dekenal dengan mukhassish, yaitu dalil atau dasar yang menjadi alasan sesuatu itu dikecualikan.

Di antara mukhassish tersebut, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdul Wahab Khallaf dalam bukunya ‘Ilm Ushul al-Fiqh (h. 164) adalah hikmah at-tasyri’ (hikmah di balik pensyariatan hukum). Singkatnya, hikmah at-tasyri’ bisa menjadi dalil pengecualian suatu hukum.

Baca Juga :  Apakah Tertidur Saat Duduk Membatalkan Wudhu?

Kalau mengingat hikmah diharamkannya jual-beli dalam pembahasan ini, sebagaimana yang disampaikan ar-Raisuni, tentu bisa mengecualikan keumuman lafal al-bai’ pada ayat di atas.

Oleh karena itu, jika pertanyaannya; “yang mana jual beli saat adzan shalat jumat?” berdasarkan teori ini, tentu jawabannya, ada. Yaitu transaksi jual beli yang tidak sampai melalaikan seseorang untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Dan siasat terbaik agar tidak terjerumus dalam kelalaian itu adalah dengan bertransaksi di dalam masjid, sebagaimana ilustrasi di atas.

Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut; setiap jual beli bagaimanapun formatnya saat adzan shalat jumat, maka hukumnya haram. Pasalnya, karena berpotensi kuat melalaikan siapa saja dari melaksanakan ibadah salat Jumat. Kecuali, jika transaksi jual beli yang kemungkinan besar tidak akan melalaikan pihak yang berakad.

Yang penting dicatat, haruslah berhati-hati dalam menentukan hikmah at-tasyri’ yang akan menjadi mukhassish atau dalil pengecualian keumuman satu lafal, baik dalam Al-Quran maupun hadis. Kalau tidak, dampaknya akan fatal. Karena tidak hanya akan salah dalam produk hukum, tapi juga dalam proses ijtihad. Wallahu A’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here