Maksud Ibnu Qayyim Soal Allah Tersusun dari Bagian-bagian

0
1229

BincangSyariah.Com – Syaikh Ibnu Qayyim adalah satu murid terbaik dari Syaikh Ibnu Taymiyah. Karena itu, tatkala Syaikh Ibnu Taymiyah mengeluarkan beberapa pendapat yang kontroversial dalam hal akidah mau pun fikih, maka Ibnu Qayyim juga mendapat kritik yang sama, bahkan pernah dipenjara bersama. Salah satu akidah menyimpang mereka adalah kecenderungannya yang kuat pada akidah tajsim (Tersusun dari Bagian-bagian) dan ini sudah sering saya bahas.

Tetapi, ada pernyataan Syaikh Ibnu Qayyim yang menarik yang bisa disetujui seluruh Ahlussunnah karena merupakan pernyataan yang benar tentang sifat jisim. Bila pendaku salafi sekarang biasanya berbelit-belit dan selalu tak jelas kalimatnya ketika membahas soal jisim atau anggota badan dan bagian-bagian Tuhan sebagaimana akidah mujassimah, maka mereka harus meniru pernyataan Syaikh Ibnu Qayyim yang di bawah ini. Ia membahas dua makna kata jisim dan kemudian dengan tegas menyatakan pendapatnya soal makna itu.

فإن قال أردت الجسم معناه في لغة العرب وهو البدن الكثيف الذي لا يسمى في اللغة جسم سواه … فهذا المعنى منفي عن الله عقلا وسمعا

Apabila ia berkata: Aku menetapkan jisim yang maknanya dalam bahasa arab adalah badan yag tebal, yang sesuatu selain itu tak disebut sebagai jisim secara bahasa … maka makna ini dinafikan dari Allah secara akal dan nash.”

وإن أردتم به المركب من المادة والصورة أو المركب من الجواهر الفردة فهذا منفي عن الله قطعا

“Apabila yang kamu maksud dengan kata jisim adalah yang tersusun dari materi dan bentuk atau sesuatu yang tersusun dari hal-hal paling kecil, maka makna ini dinafikan dari Allah secara pasti.” (as-Shawa’iq al-Mursalah)

Baca Juga :  Selain Air Mani, Keluar Cairan Ini Bisa Menyebabkan Mandi Janabah?

Jadi, bila jisim diartikan sebagai badan yang tebal/besar, maka makna ini dinafikan dari Allah. Demikian juga ketika kata jisim diartikan sebagai sesuatu yang tersusun dari materi dan bentuk atau tersusun dari unsur-unsur sub atomik, maka ini juga dinafikan secara pasti.

Benar sekali pernyataan Ibnu Qayyim itu sebagaimana ajaran Asy’ariyah dari dahulu kala hingga kini juga menafikan semua makna ini. Ketika Asy’ariyah menyatakan Allah bukan jisim, maksudnya adalah Dzat Allah bukan badan yang mempunyai tebal (volume), bukan bentuk dan bukan pula susunan partikel sub atomik.

Pernyataan tersebut simpel, padat, berisi dan mudah dipahami tanpa berbelit-belit ke arah tak jelas. Seharusnya pendaku salafi modern mengikuti langkah Ibnu Qayyim di atas ketika membahas jisim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here