Maksud Hadis Silaturahim Dapat Perpanjang Umur

0
511

BincangSyariah.Com – Kematian adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang tau kapan ajal akan menjemputnya. Sehingga, jika telah tiba ajalnya, maka mereka tidak ada yang sanggup menangguhkannya. Sebagaimana firman Allah Swt

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya meskipun sesaat dan tidak dapat pula memajukannya. (QS. Al-A’raf: 34).

Berdasarkan firman Allah tersebut, mengindikasikan bahwa umur manusia ada batasnya. Namun, terdapat hadis riwayat Umamah bahwa umur manusia itu dapat bertambah dengan cara bersilaturahi. Teks hadis tersebut adalah

صنائع المعروف تقي مصارع السوء وصدقة السر تطفئ غضب الرب وصلة الرحم تزيد في العمر

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda:” Perbuatan-perbuatan baik dapat menghindarkan penyebab-penyebab kesialan, sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat meredam kemurkaan Tuhan dam silaturahim dapat menambah umur. (HR. Al Thabrani). Lalu bagaimana mungkin silaturahim bisa menambah umur yang tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan?

Menurut imam Ibnu Qutaibah di dalam kitab Ta’wilu Mukhtalaf Al hadis penambahan umur di dalam hadis tersebut dapat dipahami dengan dua makna:

Pertama, penambahan umur tersebut artinya diberikan kehidupan yang berkah, kelapangan rizki dan kesehatan badan. Ada ungkapan yang mengatakan “Kefakiran adalah kematian yang paling besar.” Dalam sebuah riwayat juga disebutkan “Sesungguhnya Allah Swt. memberitahukan kepada Nabi Musa as. bahwa Dia telah membunuh musuhnya. Beberapa saat setelah itu, Nabi Musa as. melihat musuhnya itu sedang menganyam. Nabi Musa as protes kepada Allah, “Wahai Tuhanku, Engkau telah berjanji kepadaku akan membunuhnya.” Allah Swt menjawab: “ Aku telah membunuhnya, dengan membuatnya menjadi fakir.” Dalam sebuah syair dikatakan

Baca Juga :  Kritik Integritas dan Kredibilitas Sahabat Nabi

ليس من مات فاستراح بميت # إنما الميت ميت الأحياء

Orang yang mati bukanlah orang yang mati kemudian bisa istirahat sebagai mayyit# Akan tetapi orang yang mati itu adalah orang yang mati dalam hidup.

Jadi maksud kematian adalah kefakiran. Jika kefakiran bisa dikatakan sebagai kematian yang mengurangi kehidupan, maka kekayaan pun bisa dikatakan sebagai kehidupan yang memanjangkan umur.

Kedua, makna lain dari penambahan umur dalam hadis tersebut adalah bahwa Allah Swt telah menetapkan batas usia hambaNya selama 100 tahun. Kemudian Dia menjadikan postur, susunan, dan struktur tubuh yang hanya bisa bertahan hidup selama 80 tahun saja. Namun, dengan bersilaturahim, Allah Swt. menambah susunan dan struktur tubuhnya serta melengkapi segala kekurangan sehingga ia bisa hidup 20 tahun lagi dari kapasitas fisik sebelumnya hingga ia bisa genap berumur 100 tahun.

Demikianlah penjelasan dari hadis silaturahim dapat menambahkan umur. Hadis tersebut sangatlah tidak bertentangan dengan ayat suci Alquran yang mengatakan bahwa umur manusia ada batasnya.

Tetapi, menurut imam Ibnu Qutaibah, maksud hadis tersebut dapat dipahami dengan dua makna. Baik secara tersirat  yakni berarti umurnya bertambah berkah, rizkinya lapang dan sehat badannya. Karena memang jika orang yang bersilaturahim, pastinya akan menambah relasi dengan orang banyak yang membuat hati lebih bahagia dengan menikmati hidup, serta dapat menambah relasi hubungan kerja dan lain sebagainya.

Sedangkan makna yang kedua adalah makna tersurat, yakni Allah memang akan menambahkan kualitas struktur tubuh dan fisiknya sehingga ia bisa bertahan hidup sesuai dengan jatah umurnya, sebagaimana penjelasan di atas. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here