Makna Thaghut yang Benar

5
4470

BincangSyariah.Com- Di kalangan gerakan teroris, thagut merupakan stempel agama yang laris manis digunakan  untuk mencap setiap sistem yang non-islami. Sedangkan setiap individu yang berada di bawah naungan non-Islami dicapnya sebagai anshar thagut ‘pembela thagut’. Dengan demikian, setiap muslim yang menjadi polisi dicap sebagai anshar thagut.

Setiap muslim yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan disebut anshar thagut. Setiap muslim yang menjadi presiden, menteri dan jabatan-jabatan dalam pemerintahan sebutannya, bagi mereka, ialah anshar thagut.

Konsekuensinya, mereka selalu mengarahkan aksi-aksi pemboman dan penyerangan kepada pemerintah dan bawahannya yang mereka cap sebagai thagut dan antek-anteknya. Sebaliknya, mereka sendiri sebagai kelompok sosial yang berada di luar sistem non-islam menamai diri mereka dengan penuh percaya diri sebagai anshar tauhid, ‘pembela tauhid’.

Menariknya, bagi mereka, di dunia ini hanya ada dua klasifikasi, anshar tauhid versus anshar thagut. Relasi antara kedua kelompok ini didasarkan kepada relasi perang-memerangi. Anshar tauhid diwajibkan untuk berada dalam posisi yang terus-menerus memerangi segenap sistem thagut dan antek-anteknya.

Sebut saja perang melawan mereka sebagai perang abadi. Hal ini sebagaimana yang mereka pahami secara sembrono dari QS. An-Nisa: 76 sebagai berikut:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang demi jalan Allah sementara orang-orang kafir berperang demi jalan thagut. Karena itu, perangilah pemimpin-pemimpin setan. Sesungguhnya tipu daya setan itu sangatlah lemah

Ayat ini dipahami mereka sebagai peperangan terus menerus antara Anshar Tauhid dan Anshar Thagut. Penggunaan kata kerja kala kini (mudhari) dipahami mereka sebagai aksi yang terus menerus dilakukan. Jadi ayat yang mengandung makna informatif (jumlah khabariyyah) ini dipahami sebagai ayat yang mengandung makna imperatif (jumlah insya’iyyah), yakni perintah untuk memerangi secara abadi sistem thagut dan antek-anteknya.

Baca Juga :  Berkah Keping Dinar Yang Disedekahkan Oleh Ali bin Abi Thalib

Jadi melalui keterangan di atas, dapat dikerangkakan bahwa konsep inti yang menggerakan   radikalisasi agama terletak pada konsep thagut. Dari konsep inti ini, lahirlah konsep-konsep turunan seperti tauhid, syirik, nifak, mukmin-musyrik, zindiq, fasik, jihad abadi dan lain-lain dengan pengertiannya yang tidak biasa.

Tanpa adanya konsep thagut sebagai pusat pemikiran radikal mereka, tauhid, syrik, nifak, kufur, zindiq, fasik dan lain-lain tidak akan ada maknanya. Jadi dalam thagut, terkandung medan makna yang menghubungkannya dengan konsep-konsep lainnya. Karena itu, untuk menghancurkan radikalisasi agama, pertama-tama yang harus kita lakukan ialah mendekonstruksi terlebih dahulu makna thagut.

Dari sekian makna thagut yang mengundang multi-tafsir, jaringan teroris hanya memakemkan satu makna, yakni, setiap sistem pemerintahan yang tidak islami. Pengertian yang politis ini dipegang secara teguh  dan menjadi paradigma tersendiri yang dengannya mereka dapat memberikan definisi situasi atas dunia di sekeliling mereka.

Karena itu, ketika pengertian ini dikontekstualisasikan di negara Indonesia, pemerintahan yang tidak islami, bagi mereka, ialah NKRI yang didasarkan kepada Pancasila dan UUD 45. Dengan kata-kata lain, Pancasila dan UUD 45 yang mendasari berdirinya NKRI ialah thagut.

Konsekuensinya, bagi jaringan teroris, orang-orang yang ber-tahakum dengan Pancasila dan UUD 45 dianggap sebagai Anshar Thagut. Sebaliknya, mereka yang melawan Pancasila dan UUD 45 mengklaim diri sebagai Anshar Tauhid. Dalam al-Quran, kata mereka, Anshar Tauhid diwajibkan untuk memerangi Anshar Thagut dengan segenap klasifikasinya: murtad, kafir, musyrik, zindiq dan lain-lain.

Konsep turunan ini kemudian menjadi cara pandang yang kaku untuk melihat dan mengidentifikasi mana kawan yang mukmin yang harus dilindungi dan mana lawan yang musyrik yang harus diperangi.

Selain itu, logika yang menggerakan cara pandang seperti itu terletak kepada konsep perang. Artinya, jika seseorang, kelompok, masyarakat atau negara telah teridentifikasi menganut sistem non-islami alias thagut, mereka akan dengan mudah mencapnya sebagai musyrik jika memang mereka non-muslim, atau mukmin-musyrik jika mereka mu’min namun masih mengadopsi sebagian sistem non-islami, atau zindiq jika mereka masih mengadopsi demokrasi dan lain-lain.

Baca Juga :  Hindari Sikap Marah Dan Menjadi Pemarah

Basis identifikasi ini kemudian digunakan untuk melegitimasi aksi pembunuhan, pembakaran, pemboman dan penjarahan orang-orang yang dianggap musyrik, murtad, kafir dan lain-lain oleh jaringan yang mengklaim sebagai Anshar Tauhid ini.

Karena itu, konsep keagamaan yang terdapat dalam kata thagut dengan sendirinya berubah menjadi basis identifikasi lawan dan kawan: kawan mereka yang anti-thagut dan lawan mereka yang antek thagut. Lewat pembedaan seperti ini, paham mereka tidak lagi  bersifat murni agama yang lillahi ta’alatapi lebih kepada gerakan politik yang mengatasnamakan agama.

Manifesto politiknya ialah ayat-ayat perang yang siap saji dan siap pakai tanpa perlu pikir panjang mendalami konteks dan maksud ayat. Gerakan politik jaringan ini terletak kepada fungsi untuk memecah belah dan membeda-bedakan antara siapa kita-siapa mereka. Sementara itu politik beda dengan agama. Agama bersifat meneduhkan dan menenangkan, menyatukan, melebur dan meredam berbagai unsur-unsur kebencian dan permusahan antara sesama manusia.

5 KOMENTAR

  1. Aku Berharap Ummat Islam Segera Bersatu Dalam Satu Jama’ah Al Khilafah

    بسم الله الرحمن الرحيم

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    SERUAN UNTUK BERSATU DALAM SATU JAMA’AH (KHILAFAH)

    Al Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban da’wah Islam ke segenap penjuru dunia. Kata lain dari Khilafah adalah Imamah. Imamah dan Khilafah mempunyai arti yang sama.

    Banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa dua kata itu memiliki makna yang sama. Bahkan tidak ada satu nash pun, baik dalam Al Qur`an maupun Al Hadits, yang menyebutkan kedua istilah itu dengan makna yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Kaum muslimin boleh menggunakan salah satu dari keduanya, apakah istilah Khilafah ataupun Imamah.

    Sebab yang menjadi pegangan adalah makna yang ditunjukkan oleh kedua istilah itu. Menegakkan Khilafah hukumnya fardlu (wajib) bagi seluruh kaum muslimin. Melaksanakan kewajiban ini —sebagaimana melaksanakan kewajiban lain yang telah dibebankan Allah kepada kaum muslimin— adalah suatu keharusan yang menuntut pelaksanaan tanpa tawar menawar lagi dan tidak pula ada kompromi.

    Melalaikannya adalah salah satu perbuatan maksiat yang terbesar dan Allah akan mengazab para pelakunya dengan azab yang sangat pedih. Dalil-dalil mengenai kewajiban menegakkan Khilafah bagi seluruh kaum muslimin adalah Al Qur`an, As Sunnah, dan Ijma’ Shahabat.

    Dalam Al Qur`an, Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menegakkan hukum di antara kaum muslimin dengan hukum yang telah diturunkan-Nya. Dan perintah itu datang dalam bentuk yang pasti (jazim). Allah SWT berfirman :

    فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ عَمَّا جَائَكَ مِنَ الْحَقِّ

    “Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al Maa`idah: 48).

    وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنَزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ

    “(Dan) hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (Al Maa`idah: 49). Khithab (firman) Allah SWT yang ditujukan kepada Rasul-Nya juga merupakan seruan untuk umatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa khithab itu dikhususkan untuk beliau. Dalam hal ini tidak ditemukan dalil yang mengkhususkannya kepada Nabi, sehingga menjadi seruan yang juga ditujukan kepada kaum muslimin untuk menegakkan hukum. Tidak ada arti lain dalam mengangkat Khalifah kecuali menegakkan hukum dan pemerintahan. Allah SWT juga memerintahkan agar kaum muslimin mentaati Ulil Amri, yaitu penguasa. Perintah ini juga termasuk di antara dalil yang menunjukkan kewajiban adanya penguasa atas kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu sekalian.” (An Nisaa`: 59). Tentu saja Allah SWT tidak memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati seseorang yang tidak berwujud. Allah juga tidak mewajibkan mereka untuk mentaati seseorang yang keberadaannya berhukum mandub. Maka menjadi jelas bahwa mewujudkan ulil amri adalah suatu perkara yang wajib.

    Tatkala Allah memberi perintah untuk mentaati ulil amri, berarti Allah memerintahkan pula untuk mewujudkannya. Adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajiban menegakkan hukum syara’, sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri menyebabkan terabaikannya hukum syara’. Jadi mewujudkan ulil amri itu adalah wajib, karena kalau tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram, yaitu mengabaikan hukum syara’.

    Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ yang berkata: Umar radliyallahu ‘anhu telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

    “Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya ia akan berjumpa dengan Allah di Hari Kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai’at, maka matinya adalah mati jahiliyyah”. Nabi SAW mewajibkan adanya bai’at pada leher setiap muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Padahal bai’at hanya dapat diberikan kepada Khalifah, bukan kepada yang lain.

    Rasulullah telah mewajibkan atas setiap muslim agar di lehernya selalu ada bai’at kepada seorang Khalifah, namun tidak mewajibkan setiap muslim untuk melakukan bai’at kepada Khalifah secara langsung. Yang wajib adalah adanya bai’at pada leher setiap muslim, yaitu adanya seorang Khalifah yang dengan keberadaannya menyebabkan terwujudnya bai’at pada leher setiap muslim.

    Jadi keberadaan Khalifah itulah yang akan memenuhi tuntutan hukum adanya bai’at di atas leher setiap muslim, baik dia berbai’at secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, hadits di atas lebih tepat dijadikan dalil kewajiban mengangkat seorang Khalifah daripada dalil kewajiban berbai’at.

    Sebab, dalam hadits tersebut yang dicela oleh Rasulullah SAW adalah keadaan tiadanya bai’at pada leher setiap muslim hingga ia mati, bukan karena dia tidak melaksanakan bai’at. Imam Muslim telah meriwayatkan dari Al A’raj dari Abi Hurairah dari Nabi SAW bersabda:

    إِنَّمَا الإمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

    “Sesungguhnya seorang Imam adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abi Hazim yang berkata:

    قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِيْنَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَتَكُونُ خُلَفَاءٌ فَتَكْثُرُ، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا ؟ قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ، وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

    “Aku telah mengikuti majelis Abi Hurairah selama lima tahun, pernah aku mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yang bersabda: ‘Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah’. Para shahabat bertanya: ‘Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?’ Beliau menjawab: ‘Penuhilah bai’at bagi yang pertama dan bagi yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggung-jawaban mereka tentang rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka’”. Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

    “Siapa saja yang membenci sesuatu dari amirnya (pemimpinnya) hendaknya ia tetap bersabar. Sebab, siapa saja yang keluar dari penguasa sejengkal saja kemudian mati dalam keadaan demikian, maka matinya adalah mati jahiliyyah”. Hadits-hadits ini di antaranya merupakan pemberitahuan (ikhbar) dari Rasulullah SAW bahwa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum muslimin, dan bahwa seorang Khalifah adalah laksana perisai.

    Pernyataan Rasulullah SAW bahwa seorang Imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya fungsi-fungsi dari keberadaan seorang Imam, dan ini merupakan suatu tuntutan. Sebab, setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya, apabila mengandung celaan (adz dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan, atau merupakan larangan; dan apabila mengandung pujian (al mad-hu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan.

    Dan kalau pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau jika ditinggalkan mengakibatkan terabaikannya hukum syara’, maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu berarti bersifat pasti. Dalam hadits-hadits ini juga disebutkan bahwa yang memimpin dan mengatur kaum muslimin adalah para Khalifah. Ini menunjukkan adanya tuntutan untuk mendirikan khilafah.

    Salah satu hadits tersebut ada yang menjelaskan keharaman kaum muslimin keluar dari penguasa. Semua ini menegaskan bahwa mendirikan pemerintahan bagi kaum muslimin statusnya adalah wajib.

    Selain itu, Rasululah SAW juga memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang-orang yang merebut kekuasaan mereka.

    Perintah Rasulullah ini berarti perintah untuk mengangkat seorang Khalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan cara memerangi orang-orang yang merebut kekuasaannya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

    وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيَطِعْهُ إِنِّ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَآءَ آخَرُ يُنَازِعَهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرَ

    “Siapa saja yang telah membai’at seorang Imam (Khalifah), lalu ia memberikan kepadanya genggaman tangan dan buah hatinya, hendaknya ia mentaatinya sesanggup-sanggupnya.

    Apabila ada orang lain hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher orang itu”. Jadi perintah mentaati Imam berarti pula perintah mewujudkan sistem khilafahnya, sedang perintah memerangi orang yang merebut kekuasaannya merupakan isyarat (qarinah) yang menegaskan secara pasti akan keharusan melestarikan adanya Imam yang tunggal.

    Adapun dalil Ijma’ Shahabat menunjukkan bahwa para shahabat ridlwanullahi ‘alaihim, telah bersepakat mengenai keharusan mengangkat seorang Khalifah sebagai pengganti Rasulullah SAW setelah beliau wafat.

    Mereka juga bersepakat mengangkat Khalifah sebagai pengganti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Ijma’ Shahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan Khalifah, nampak jelas dalam kejadian bahwa mereka menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW dan mendahulukan pengangkatan seorang Khalifah pengganti beliau. Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu keharusan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah untuk melakukan kesibukan lain sebelum jenazah dikebumikan. Namun, para shahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW ternyata sebagian di antaranya justru lebih mendahulukan upaya-upaya untuk mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah.

    Sedangkan sebagian shahabat lain mendiamkan kesibukan mengangkat Khalifah tersebut, dan ikut pula bersama-sama menunda kewajiban menguburkan jenazah Nabi SAW sampai dua malam, padahal mereka mampu mengingkari hal ini dan mampu mengebumikan jenazah Nabi secepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan (ijma’) mereka untuk segera melaksanakan kewajiban mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tak mungkin terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorang Khalifah adalah lebih wajib daripada menguburkan jenazah.

    Demikian pula bahwa seluruh shahabat selama hidup mereka telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah. Walaupun sering muncul perbedaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadi Khalifah, namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenai wajibnya mengangkat seorang Khalifah, baik ketika wafatnya Rasulullah SAW maupun ketika pergantian masing-masing Khalifah yang empat.

    Oleh karena itu Ijma’ Shahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah. Selain itu, menegakkan agama dan melaksanakan hukum syara’ pada seluruh aspek kehidupan dunia maupun akhirat adalah kewajiban yang dibebankan atas seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang qath’iyuts tsubut (pasti sumbernya) dan qath’iyud dalalah (pasti maknanya).

    Kewajiban tersebut tidak mungkin bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan adanya seorang penguasa. Kaidah syara’ menyatakan:

    مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِب

    “Apabila suatu kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya adalah wajib.” Ditinjau dari kaidah ini, mengangkat seorang Khalifah hukumnya wajib pula. Dalil-dalil ini semuanya menegaskan wajibnya mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan bagi kaum muslimin; dan juga menegaskan wajibnya mengangkat seorang Khalifah untuk memegang wewenang pemerintahan dan kekuasaan. Kewajiban mengangkat Khalifah tersebut adalah demi melaksanakan hukum-hukum syara’, bukan demi mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan itu sendiri. Perhatikanlah sabda Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalan ‘Auf bin Malik:

    خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَارَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالْسَيْفِ، فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ، “

    Sebaik-baik Imam (Khalifah) kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk Imam kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian”. Ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka itu?’ Beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam) di tengah-tengah kamu sekalian.”

    Hadits ini menegaskan akan adanya Imam-Imam yang baik dan Imam-Imam yang jahat, selain menegaskan keharaman memerangi mereka dengan senjata selama mereka masih menegakkan agama. Karena ungkapan “menegakkan shalat” merupakan kinayah (kiasan) untuk mendirikan agama dan sistem pemerintahan. Dengan demikian jelaslah bahwa kewajiban kaum muslimin untuk mengangkat seorang Khalifah —demi menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah— merupakan suatu perkara yang tidak ada lagi syubhat (kesamaran) pada dalil-dalilnya. Selain itu, mewujudkan kekuasaan adalah wajib ditinjau dari segi bahwa ia diharuskan oleh suatu kewajiban yang difardlukan Allah SWT atas kaum muslimin, yakni terlaksananya hukum Islam dan terpeliharanya kesatuan kaum muslimin. Hanya saja kewajiban ini termasuk fardlu kifayah. Artinya, apabila sebagian kaum muslimin telah melaksanakannya sehingga kewajiban tadi terpenuhi, maka gugurlah tuntutan pelaksanaan kewajiban itu bagi yang lain. Namun bila sebagian dari mereka belum mampu melaksanakan kewajiban itu, walaupun mereka telah melaksanakan upaya-upaya yang bertujuan mengangkat seorang Khalifah, maka status kewajiban tersebut tetap ada dan tidak gugur atas seluruh kaum muslimin, selama mereka belum mempunyai Khalifah. Berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang Khalifah bagi kaum muslimin adalah satu perbuatan maksiat yang paling besar. Karena, hal itu berarti berdiam diri terhadap salah satu kewajiban yang amat penting dalam Islam, dimana tegaknya hukum-hukum Islam —bahkan eksistensi Islam dalam realitas kehidupan— bertumpu padanya. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin berdosa besar apabila berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang Khalifah. Kalau ternyata seluruh kaum muslimin bersepakat untuk tidak mengangkat seorang Khalifah, maka dosa itu akan ditanggung oleh setiap muslim di seantero penjuru bumi. Namun apabila sebagian kaum muslimin melaksanakan kewajiban itu sedangkan sebagian yang lain tidak melaksanakannya, maka dosa itu akan gugur bagi mereka yang telah berusaha mengangkat Khalifah, sekalipun kewajiban itu tetap dibebankan atas mereka sampai berhasil diangkatnya seorang Khalifah. Sebab, menyibukkan diri untuk melaksanakan suatu kewajiban akan menggugurkan dosa atas ketidak-mampuannya melaksanakan kewajiban tersebut dan atau penundaannya dari waktu yang telah ditetapkan. Hal ini karena dia telah terlibat melaksanakan fardlu dan juga karena adanya suatu kondisi yang memaksanya sehingga gagal melaksanakan fardlu itu dengan sempurna. Ada pun bagi mereka yang memang tidak terlibat dalam aktivitas menegakkan Khilafah, akan tetap menanggung dosa sejak tiga hari setelah tidak adanya Khalifah. Dosa itu akan terus dipikulnya hingga hari pengangkatan Khalifah yang baru. Sebab, Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka suatu kewajiban tetapi mereka tidak mengerjakannya, bahkan tidak terlibat dalam upaya-upaya yang menyebabkan terlaksananya kewajiban tersebut. Oleh karena itu, mereka layak menanggung dosa, serta layak menerima azab Allah dan kehinaan di dunia dan di akhirat. Kelayakan mereka menanggung dosa tersebut adalah suatu perkara yang jelas dan pasti sebagaimana halnya seorang muslim yang layak menerima azab karena meninggalkan suatu kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah. Apalagi kewajiban tersebut merupakan tumpuan pelaksanaan kewajiban-kewajiban lain, tumpuan penerapan syari’at Islam secara menyeluruh, bahkan menjadi tumpuan eksistensi tegaknya Islam agar panji-panji Allah dapat berkibar di negeri-negeri Islam dan di seluruh penjuru dunia. Adapun hadits-hadits yang menyebut tentang uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat, dan bahwa seorang muslim cukup membatasi diri hanya berpegang teguh pada perkara-perkara agama yang khusus mengenai diri sendiri; tidak dapat dijadikan dalil dibolehkannya berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan tidak pula menggugurkan dosanya. Bagi orang yang meneliti hadits-hadits tersebut dengan seksama akan mengerti bahwa sebenarnya hadits-hadits itu berkaitan erat dengan persoalan berpegang teguh pada agama, bukan berkaitan dengan rukhshah (keringanan) bolehnya berdiam diri dari kewajiban mengangkat Khalifah bagi kaum muslimin. Sebagai contoh Imam Bukhari meriwayatkan dari Bisr bin Ubaidillah Al Hadlrami bahwa dia mendengar Abu Idris Al Khaulani mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata:

    كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ الله
    ِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَني، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدِيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ، قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ: فَمَا تَأمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذلِكَ ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ، قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

    “Dahulu, biasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan itu menimpaku. Maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami dahulu berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’. Aku bertanya, ‘Apakah setelah keburukan itu nanti ada kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, tetapi di dalamnya ada asap.’ Aku bertanya, ‘Apakah asap itu?’ Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka ingkarilah.’ Aku bertanya, ‘Apakah setelah kebaikan tersebut nanti ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, yaitu munculnya da’i-da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Siapa saja yang menyambut ajakan mereka, niscaya akan mereka lemparkan ke dalam neraka itu.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah ciri-ciri mereka kepada kami.’ Beliau menjawab, ‘Mereka itu mempunyai kulit seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya, ‘Apakah yang engkau perintahkan kepadaku, jika hal itu menimpaku?’ Beliau bersabda, ‘Ikatkanlah dirimu kepada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.’ Aku bertanya, ‘Kalau tidak ada jama’ah dan tidak ada imam?’ Beliau menjawab, ‘Tinggalkanlah semua firqah yang ada, walau sampai engkau menggigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan demikian.’” Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa Rasulullah memerintahkan seorang muslim agar menetapi jama’ah kaum muslimin dan Imam (Khalifah) mereka, serta meninggalkan da’i-da’i yang mengajak ke pintu neraka jahannam. Kemudian seseorang bertanya apa yang harus dikerjakan dalam keadaan tidak ada jama’ah dan Imam sehubungan dengan menculnya da’i-da’i yang mengajak ke pintu jahannam.

    Pada situasi dan kondisi demikian, Rasulullah memerintahkan orang itu agar menjauhi semua firqah yang ada, dan bukan menjauhi kaum muslimin serta tidak pula memerintahkan berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang imam.

    Perintah beliau tegas, “Maka jauhilah semua firqah yang ada” . Dan beliau sangat menekankan perintah ini, sampai-sampai beliau menegaskan walaupun dalam rangka menjauhi firqah-firqah tersebut, seseorang terpaksa menggigit akar pohon sampai mati. Makna hadits ini ialah “pegang teguhlah agamamu dan jauhilah da’i-da’i yang menyesatkan dan mengajak ke pintu jahannam”.

    Hadits ini tidak mengandung sedikit pun alasan untuk meninggalkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah dan tidak pula mengandung sedikit pun rukhshah dalam pelaksanaannya. Perintah dalam hadits di atas terbatas pada perintah memegang teguh agama Islam dan menjauhi para da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Jadi setiap muslim akan tetap menanggung dosa apabila tidak berupaya mengangkat Khalifah.

    Sebab dalam hal ini dia diperintahkan untuk menjauhi semua firqah yang sesat demi menyelamatkan agamanya dari para da’i yang menyesatkan, walaupun harus menggigit akar pohon; dan bukan diperintahkan agar menjauhi jama’ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan kewajiban mengangkat seorang Imam bagi kaum muslimin.

    Contoh yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Sa’id Al Khudri RA yang berkata:
    Rasulullah SAW bersabda:

    يُوْشِك أَنْ يَكُوْنَ خَيْرُ مَال الْمُسْلِمِ غَنَم يُتْبَعُ بِهَا شَعْفَ الْجَبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ الْفِتَنِ “

    Hampir-hampir terjadi sebaik-baik harta seorang muslim ialah kambing yang selalu dia ikuti di puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, demi menjaga agamanya dari banyak fitnah”. Hadits ini tidak berarti boleh mengasingkan diri dari jama’ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan mengangkat Khalifah bagi kaum muslimin. Seluruh kandungan hadits ini adalah penjelasan tentang sebaik-baik harta seorang muslim di masa fitnah dan sebaik-baik tindakan yang dilakukan dalam melarikan diri dari fitnah.

    Jadi hadits ini bukan sebagai anjuran menjauhi dan ber-uzlah dari kaum muslimin. Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka tidak ada lagi alasan bagi seorang muslim di permukaan bumi ini untuk berdiam diri dari kewajiban yang telah dibebankan Allah kepada mereka untuk menegakkan agama.

    Kewajiban ini tidak lain adalah mengangkat seorang Khalifah bagi kaum muslimin tatkala di seluruh dunia tidak ada Khilafah; ketika tidak ada orang yang menegakkan hukum-hukum Allah untuk memelihara segala sesuatu yang harus dijaga kehormatannya; ketika tidak ada orang yang menegakkan hukum-hukum agama dan menyatukan kaum muslimin di bawah bendera La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Tidak ada dalam Islam sedikit pun keringanan untuk berdiam diri dari kewajiban ini hingga Khilafah benar-benar berhasil ditegakkan….
    Tafsir AlBaghowi Al Baqarah ayat 30

    Oktober 20, 2019

    Aku Berharap Dan Berdo’a Ummat Islam Segera Bersatu Dalam Satu Jama’ah Al Khilafah Bersama Kholifah Nya

    ( وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ )

    البقرة (30)

    قوله تعالى ( وإذ قال ربك ) أي وقال ربك وإذ زائدة وقيل معناه واذكر إذ قال ربك وكذلك كل ما ورد في القرآن

    Firman Allah SWT:( (إذ قال ربك=   dan ingatlah ketika Robb-mu): yakni dan berkatalah robb-mu “Wa Idz Zaidah”… Dikatakan bahwa MAKNA NY adalah  Kata Perintah “ingatlah” Maka AYAT AYAT Yg Seperti demikian, MAKNANYA SAMA SEBAGAIMANA YANG DISEBUTKAN DALAM AL QUR’AN

     من هذا النحو فهذا سبيله وإذ وإذا حرفا توقيت إلا أن إذ للماضي وإذا للمستقبل وقد يوضع أحدهما موضع الآخر قال المبرد : إذا جاء ( إذ ) مع المستقبل كان معناه ماضيا كقوله تعالى ” وإذ يمكر بك الذين ” ( 30 – الأنفال ) يريد وإذ مكروا وإذا جاء ( إذا ) مع الماضي كان معناه مستقبلا

    ADAPUN CONTOH AYAT AYAT SERUPA MAKNANYA DENGAN INI ADALAH SEBAGAI BERIKUT…
    وإذ / وإذا =
    Adalah Katabantu(Huruf) Yang Menerangkan Akan Waktu (Tauqiet)

    Hanya saja Kata “Idz” mengandung Makna Waktu {Lampau/Telah Lalu}

    Adapun (Idza) Untuk Menerangkan Bentuk Kerja Yg {Mustaqbal/Kerja Yg Akan terjadi}
    Dan Terkadang Salahsatu  Dari Kedua Huruf Ini Memiliki Makna Lain

    CONTOH: SEBAGAIMANA YG DI KATAKAN OLEH AL MUBRID:
    إذا جاء
    “Idz ” Mustaqbal  Dengan Maksud Madhi Sebagai mana firman Allah SWT :

    (وإذ يمكر بك الذين)
    {Dan Ingatlah KETIKA Orang Orang Hendak Berbuat makar terhadap Engkau}

    Al Anfal:30_____ Makna yang diinginkan adalah
    يريد وإذ مكروا وإذا جاء

    Ingatlah Bahwa Mereka Akan Berbuat makar, Dan Apabila Telah Datang.

    Disini Kata
    (إذا)
    Bentu Madhi Dengan Makna Mustaqbal.

    كقوله‌‌‌ : فإذا جاءت الطامة ” ( 34 – النازعات ) ”
    Seperti firman Allah Dalam surat An_Nazi’at:34
    فإذا جاءت الطامة الكبرى
    Maka apabila Malapetaka BESAR TELAH DAATANG
     إذا جاء نصر الله ” ( 1 – النصر )
    APABILA TELAH DATANG PERTOLONGAN ALLAH
    أي يجيء
    = YAKNI AKAN DATANG

     ( للملائكة ) جمع ملك وأصله مألك من المألكة والألوكة والألوك وهي الرسالة فقلبت فقيل ملأك ثم حذفت الهمزة طلبا للخفة لكثرة استعماله ونقلت حركتها إلى اللام فقيل ملك .

    (Kepada Para Malaikat)
    Bentuk Jamak Dari Malakun” ملكٌ”

    Yg Bentuk Aslinya kata Itu “Ma-alakun Dari Yg Sebelumnya Adalah Al Mala-alakatu Dan Al aluukatu Dan Al Aluuka Yaitu Ar Risaalah Yg Kemudian Di Ubah , Dikatakan Menjadi Mala-aka , Kemudian Di hilangkan Huruf Hamzah: Dengan tujuan UNTUK MERINGANKAN PENGUCAPAN NYA , KARENA SEBAB TERLALU SERING DI GUNAKAN,DAN kemudian di Nukil harokatnya kepada Huruf LAM..

    Maka Jadilah Malakun(مَلَكٌ).

     وأراد بهم الملائكة الذين كانوا في الأرض

    Dan Mereka Para malaikat Itu Bermaksud , Atau Menginginkan Orang Orang Yang Dahulu Ada di bumi

    وذلك أن الله تعالى خلق السماء والأرض وخلق الملائكة والجن فأسكن الملائكة السماء وأسكن الجن الأرض فغبروا فعبدوا دهرا طويلا في الأرض ثم ظهر فيهم الحسد والبغي فأفسدوا وقتلوا

    Dan demikian bahwasanya Allah ta’ala telah menciptakan langit dan bumi dan menciptakan para malaikat dan Jin yang kemudian menempatkan mereka para malaikat itu di langit dan menempatkan jin di bumi maka merekapun untuk beribadah sepanjang waktu di bumi kemudian terlihat jelas di antara mereka kedengkian dan kesombongan lalu mereka berbuat kerusakan dan saling membunuh.

    فبعث الله إليهم جندا من الملائكة

    Maka Allah pun mengutus para tentara dari para malaikat.

    يقال لهم الجن وهم خزان الجنان

    Dikatakan kepada mereka para jin, sedang mereka dalam keadaan bersedih dan bahkan gila

     اشتق لهم من الجنة رأسهم إبليس

    Maka iblis itu adalah jin Yg Di Keluarkan Dari Surga

     وكان رئيسهم ومرشدهم وأكثرهم علما فهبطوا إلى الأرض فطردوا الجن إلى شعوب الجبال

    Dan Adalah iblis itu Yg Memimpin dan mengepalai mereka Sebsb iblis lah yg paling berpengetahuan kala itu Dan ialah yg menjadi sebab jin jin itu di buang Di Lembah lembah Gunung .
    ____________________________________

     ( وبطون الأودية )

    Dan Di Tempat kan Di Perut perut Lembah.

     وجزائر البحور

    Dan Di Tempat kan Di Dasar Laut

    وسكنوا الأرض

    Dan Ada Pula Yang Di Beri Tempat Tinggal Di Atas Bumi

     وخفف الله عنهم العبادة

    Dan Kemudian Allah Ringan kan Bagi Mereka (Para Jin Jin Itu) Untuk Beribadah Kepada-Nya

     فأعطى الله إبليس ملك الأرض وملك السماء الدنيا وخزانة الجنة وكان يعبد الله تارة في الأرض وتارة في السماء وتارة في الجنة فدخله العجب

    Lalu Allah SWT memberikan bagi Iblis ,Satu Malaikat Dari Bumi,satu malaikat di Langit Dunia (Langit Pertama Dunia),Dan MALAIKAT Penjaga Surga, Dan Adalah Ia Tetap Taat Beribadah KEPADA ALLAH YANG SESEKALI BERIBADAH DI BUMI, SESEKALI BERIBADAH DI LANGIT ,DAN SESEKALI BERIBADAH DI SURGA SAMPAI SIFAT Sombong Merasuki Dirinya.

    ففي نفسه ما أعطاني الله هذا الملك إلا لأني أكرم الملائكة عليه فقال الله تعالى له ولجنده : ( إني جاعل ) خالق . ( في الأرض خليفة ) أي بدلا منكم ورافعكم إلي فكرهوا ذلك لأنهم كانوا أهون الملائكة عبادة

    Ia Berbisik Pada Dirinya, Tidak lah Allah Memberikan Kepada Ku Kekuasaan Ini, Melainkan Aku Lebih Mulia Daripada Para Malaikat. Maka Allah Berfirman Kepada nya (Azazil) Dan Seluruh Tentara Nya(SESUNGGUHNYA AKU INGIN MENJADI KAN) =خالقٌ: Menciptakan

    (Di Bumi Seorang KHOLIFAH) Maksudnya: Menciptakan Suatu Makhluk Yg Akan Menjadi Pengganti Kalian ,Dan Mengangkat Kedudukan Kalian Terhadap Ku,Maka Merekapun Merasa Takut Akan Demikian Itu , Sebab Para Malaikat Itu Merasa Lebih Baik Dalam Beribadah Kepada-Nya.

    ___________________________________

    والمراد بالخليفة هاهنا آدم سماه خليفة لأنه خلف الجن أي جاء بعدهم وقيل لأنه يخلفه غيره والصحيح أنه خليفة الله في أرضه لإقامة أحكامه وتنفيذ وصاياه ( قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ) بالمعاصي . ( ويسفك الدماء ) بغير حق أي كما فعل بنو الجان فقاسوا الشاهد على الغائب وإلا فهم ما كانوا يعلمون الغيب ( ونحن نسبح بحمدك ) قال الحسن : نقول سبحان الله وبحمده وهو صلاة الخلق وصلاة البهائم وغيرهما ( سوى الآدميين وعليها يرزقون .

    Yang Di yang dimaksud dengan Khalifah dalam ayat ini adalah Adam alaihissalam Iya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutnya sebagai khalifah karena ia menggantikan posisi jin yakni Iya Adam alaihissalam datang setelahnya dan dikatakan pula bahwa Iya Adam alaihissalam menggantikan posisi yang lainnya (dalam mengemban amanah Allah SWT, yaitu memakmurkan bumi) dan yang lebih benar adalah dari maksud ayat ini ini bahwa sesungguhnya nya Ia (Adam Alaihissalam) adalah pengganti Allah Subhanahu Wa Ta’ala di muka bumi untuk menegakkan hukumnya dan menjalankan wasiat-wasiat -Nya.
    (Mereka Para Malaikat  berkata: akankah engkau akan menjadikan Orang Yang Akan Berbuat kerusakan  di dalamnya)=Dengan Kemaksiatan

    (dan menumpahkan darah)=menumpahkan darah bukan dengan jalan yang dibenarkan sebagaimana yang telah dilakukan oleh keturunan jin maka merekapun membuat persaksian tentang sesuatu yang tidak Mereka ketahui dan mereka sama sekali tidak akan mengetahui apapun dari yang ghaib itu(sedangkan kami selalu bertasbih dan memuji keagungan-mu)=Al Hasan berkata: yang dimaksud dengan bertasbih dan memuji disini ialah: “Ungkapan” Subhanallah Wabihamdih,Ini Adalah tata cara ibadah Jagad Raya Dan Hewan Hewan di muka bumi selain Adam Dan Seluruh Keturunan nya. Yang dengan bentuk peribadahan itulah mereka diberi Rizki.

    أخبرنا إسماعيل بن عبد القاهر أنا عبد الغافر بن محمد أنا محمد بن عيسى أنا إبراهيم بن محمد بن سفيان أنا مسلم بن الحجاج أنا زهير بن حرب أنا حبان بن هلال أنا وهيب أنا سعيد الجريري عن أبي
     عبد الله الجسري

    Telah mengabarkan kepadaku Ismail bin Abdul Qodir, saya Abdul ghofir bin Muhammad, saya Muhammad bin Isa saya Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, Saya muslim Bin al-hajjaj saya Zuhair bin Harb, saya hiban bin hilal saya Wahhaib, saya said Al jariri dari Abi Abdillah Al Jusriy

     عن عبادة بن الصامت عن أبي ذر أن رسول الله
    صلى الله عليه وسلم سئل أي الكلام أفضل قال ما اصطفى الله لملائكته أو لعباده سبحان الله وبحمده وقيل ونحن نصلي بأمرك

    Dari ubadah Bin shamit dari Abu Dzar bahwasannya Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya berkenaan dengan ucapan yang paling utama maka Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam menjawab Adapun ucapan yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang diperuntukkan untuk para malaikatnya dan hambanya untuk senantiasa diucapkan ialah Subhanallah wabihamdih dan dikatakan pula kami senantiasa bersholawat berdasarkan perintahmu.

    ، قال ابن عباس : كل ما في القرآن من التسبيح فالمراد منه الصلاة ( ونقدس لك ) أي نثني عليك بالقدس والطهارة وقيل ونطهر أنفسنا لطاعتك وقيل وننزهك

    Ibnu Abbas berkata segala apapun yang ada di dalam al-quran adalah termasuk tasbih, maka yang dimaksud dengan salat di sini adalah

    (Dan Kami Selalu Mensucikan Nama-Mu) Yakni: Kami Menyanjung Engkau Dengan Kesucian Dan Kebersihan,Dan Dikatakan Pula MAKNANYA Adalah,Kami Mensucikan Dirikami Dengan Cara Mentaati Engkau,Dan Dikatakan Pula Maksud nya Adalah Membersihkan Engkau (Dari Segala Bentuk Perserikatan)

    . واللام صلة وقيل لم يكن هذا من الملائكة على طريق الاعتراض والعجب بالعمل بل على سبيل التعجب وطلب وجه الحكمة فيه

    Dan (Lam Shilah”Penghubung antara Satu Kata Kepada Kata Yg Lainnya) di dalam Ayat Ini, MAKNANYA Dikatakan Bahwa ;”Kata Tersebut Bukan Terkait Ucapan Para Malaikat Itu, Berdasarkan Terkait Pengutaraan Pendapat Mereka Dan kesombongan Atas Amal Yg Telah Mereka Lakukan,Akan Tetapi Kalimat Itu Adalah Merupakan Bentuk Rasa Takjubnya Para Malaikat Itu,Dan Dengan nya (Pencipta-an Kholifah Adam) Mereka Berharap Mendapat Titik Terang Dan Suatu Hikmah Di Dalam Pencipta-an Kholifah

     قال ) الله)

    (Berkata) Allah SWT

    ( إني أعلم ما لا تعلمون ) المصلحة فيه ،( وقيل إني أعلم أن في ذريته من يطيعني ويعبدني من الأنبياء والأولياء والعلماء وقيل إني أعلم أن فيكم من يعصيني وهو إبليس وقيل إني أعلم أنهم يذنبون
    وأناأغفر لهم

    (Inni A’alamu Maa Laa Ta’lamuun) {Sesungguhnya Aku Lebih Mengetahui Apa Yang Tidak Kamu Ketahui} Tentang Kemashlahatan Terkait Pencipta-an Kholifah Adam, (Dan Dikatakan, Sesungguhnya Aku} Maksudnya Lebih Mengetahui Siapa Saja Yg Akan Mentaati ,Dan menyembah Ku Dari Dari Keturunan nya,Dari Para Nabi Dan Para Wali,Dan Para Ulama, Dan Dikatakan Pula BahwaSesungguhnya aku lebih mengetahui siapa yang Bermaksiat Dialah Iblis Dan di Katakan Pula Aku Lebih Mengetahui Siapa Yang Melakukan Dosa antara diantara Hamba Hamba Ku,Dan Akupun Mengampuni Bagi Mereka 

    قرأ أهل الحجاز والبصرة إني أعلم بفتح الياء وكذلك كل ياء إضافة استقبلها ألف مفتوحة إلا في مواضع معدودة ويفتحون في بعض المواضع عند الألف المضمومة والمكسورة ( وعند غير الألف ) وبين القراء في تفصيله اختلاف..

    تفسير البغوى ،سورة البقرة:٣٠

    Ahlu Hijaz Dan Bashroh Membaca  إني أعلم Dengan Meng-Fathah-Kan “YA” ,Dan Demikian Juga Pada Setiap “YA IDHOFAH”  YANG MENERIMA ALIF YG BERHAROKAT FATHAH , KECUALI PADA TEMPAT YANG JUMLAH NYA CUKUP BANYAK,DAN MEMBERIKAN PELUANG MAKNA DI BERBAGAI TEMPAT DAN KONDISI SUATU KALIMAT, YANG TERHUBUNG DENGAN ALIF ,DHOMMAH ATAU.PUN KASROH(Dan “Ya” yang Terletak pada Selain Huruf Alif). adapun

    Keterangan nya Menurut Ahli Qiro’ah  Dalam Menjelaskan nya Berbeda beda Atau Dengan Kata Lain Masih Ada Yg Berbeda Pendapat Tentang Hal itu.

    بسم الله الرحمن الرحيم
    السلام عليكم و رحمة الله وبركاته يٰأيها الذين أمنوا ويٰأيهاالمسلمون.

    Ini Adalah Tafsir Surat An Nisa’Ayat 65
    __________________________

    Surat An-Nisa Ayat 65

    فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    Arab-Latin: Fa lā wa rabbika lā yu`minụna ḥattā yuḥakkimụka fīmā syajara bainahum ṡumma lā yajidụ fī anfusihim ḥarajam mimmā qaḍaita wa yusallimụ taslīmā

    Terjemah Arti: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

    Maka Ingatlah Bahwa Sebelum Rasulullah shalallahu Alaihi Wa Sallam Wafat Beliau Telah Memberikan Informasi (Khobar) Bahwa Setelah Beliau Tidak Ada Lagi Nabi Yang Ada Sepeninggal Ku Nanti Adalah Kholafah 2 Yg Terus Menerus Berkesinambungan Dalam Memimpin Kalian (Kaum Muslimin Secara Khusus) Sebagai Mana Hadits Di Bawah Ini.

    عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

    Dari Abu Hazim dia berkata, “Saya pernah duduk (menjadi murid) Abu Hurairah selama lima tahun, saya pernah mendengar dia menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap Nabi meninggal maka akan digantikan oleh Nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh, tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan Atas Keislaman Kalian) yang mereka akan banyak Jumlahnya (Penulis:Dan Saling Berselisih ).” Para sahabat bertanya, “Apa yang anda perintahkan untuk kami jika itu terjadi?” beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, kemudian yang sesudah itu. Dan penuhilah hak mereka, kerana Allah akan meminta pertanggung jawaban mereka tentang pemerintahan mereka.” (Shahih Muslim, No. 3429; Shahih Bukhari, No. 3196; Musnad Ahmad, No.7619; dan Ibnu Majah No. 2862)

    Terkait Surat An Nisa’ Ayat 65 Di Atas Allah SWT Menegaskan Bahwa “Mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan”

    Kemudian Jika Kita Kaitkan Ayat Ini Dengan Hadits Yg Artinya
    “Dan sungguh, tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan Atas Kaum Muslimin)

    Sedangkan Sistem Yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam Sinyalir Adalah Khilafah, Hadits Nya Berikut Di Bawah Ini

    عَنْ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

    Dari Hudzaifah, Rasulullah bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung sekendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang Otoriter berlangsung sekendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi SAW) diam. (Musnad Ahmad, No. 18406)

    Dan Terkait Dengan Hadits Ini Banyak Ulama Dan Para Cendekiawan Muslim Saat Ini Mengartikan Bahwa Hadits Ini Adalah Secara Khusus Untuk Imam Mahdi.

    Pertanyaan nya Bagaimana Antum Membuktikan Bahwa Hadits Ini Dikhususkan Untuk Imam Mahdi???

    Sehingga Kalian Dengan Mudah Membatalkan Seseorang Yg Kami Angkat Sebagai Khalifah Contoh Nya Sekarang Adalah KHOLIFAH Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baroja’ Al Quraisy!!!

    Ketahuilah Wahai Kaum Muslimin KAMILAH 11.000 (KAUM MUSLIMIN)
    YG MENGANGKAT Beliau Ustadz Abdul Qadir Hasan Baroja’ Sebagai Khalifah Pemimpin Atas Keislaman Kami.

    Sedangkan Jika Ada Yang Kalian Anggap Ada Yang Lebih Baik Dari SaudaraKu KHOLIFAH Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baroja’ Guna Menggantikan Posisi Dan Kedudukan Beliau Di Mata Kami.

    Kami Rasa Beliau Pun Tidak Akan Merasa Keberatan Untuk Menyatakan Sami’na Wa Atho’na Kepada Seseorang Yg Kalian Anggap Lebih Baik Dan Lebih MAMPU Untuk Mengganti kan Beliau.

    Pertanyaan nya Saya Siapa Sekarang Ini Yg Lebih Berani Dan Lebih Benar Metode Perjuangan nya,dan Lebih Rahmatan Lil -‘Alamiin Daripada Beliau.

    Beliau Tidak Mudah Membatalkan Iman Seseorang, Tidak Mudah Mengkafirkan Setiap Muslim Yang Bahkan Mengatakan Bahwa Beliau Orang Yg Bodoh, Mengatakan Bahwa Beliau Adalah Orang Yang Haus Akan Kekuasaan.

    Terlepas Dari Pada Itu Semua Beliau Tetap Istiqomah Dalam Mendakwah Kan Sistem Islam Yg Haq Sistem Khilafah, Bahkan Beliau Tidak Pernah Terlihat Berputus Asa Dalam Menyeru Manusia ,Kaum Muslimin Untuk Bersatu padu Dalam Ruang Lingkup Dan Lingkaran Islam.

    Ketahuilah Wahai Kaum Muslimin Sudah Terlalu Lama Kalian Menganggap Ringan Akan Perkara Ini
    (Iqomatuddin Dengan Berjamaah Dan Tidak Berpecah Belah Dengan Sistem Ini),Sudah Terlalu Lama Kalian Pasrah Pada Keadaan Kalian Yg Di Porak Parandakan,Di Bom Bardir,Dibakar Hidup Hidup, Diperkosa,Di Hinakan,Di Bunuh Bayi Kalian Yg Masih Dalam Kandungan Ibunya,Di Fitnah Dan Di Adu domba Bagaikan Hewan Peliharaan Bagi orang yang senang mengadu HEWAN.

    Kaum Muslimin Bersatu lah, Mari Kita Amalkan FIRMAN ALLAH DENGAN SEGERA.
    SUNGGUH ALLAH TELAH BERFIRMAN:”TIDAK LAH BERIMAN MEREKA”.

    “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, (Penulis:”PERIHAL KEPEMIMPINAN KALIAN)kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

    MARI KITA WUJUDKAN KHOBAR RASULULLAH , SETELAH KU TIDAK ADA LAGI NABI,YG ADA ADALAH KHOLIFAH!!!

    WAHAI KAUM MUSLIMIN SESUNGGUHNYA SETIAP DIRI KITA ADALAH KHOLIFAH.
    قوله: (هو الذي جعلكم خلائف في الارض) اي رعاة مسؤولين عن رعاياكم ،من أنفسكم وأزواجكم وأولادكم وخدمكم،فكل إنسان خليفة في الارض وهو راع ، وكل راع مسؤول عن رعايته. : قوله 🙁 جمع خليفة) كذا في بعض النسخ بالتاء، وفي بعض النسخ بلا تاء، والاولى أولى ،لأن خليفا جمعه خلفاء، أما خليفة فجمعه خلائف. أنظرْ ؛ حاسية الصاوي علي تفسير الجلالين مذيلا بلبابِ النقول في أسباب النزول للسيوطي : سورةفاطر/تفسير الآيات٣٩-٤١ورق: ٣٨٨

    MAKA TIDAK MUNGKIN KITA DIPIMPIN OLEH SEORANG YG MENENTANG DAN MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH DAN SUNNAH RASUL-NYA.
    Lain halnya dengan seorang Khalifah Yg Menumpuk Harta Untuk Dirinya Sendiri Dan Dzolim Dalam Menentukan Hukum Atas Pelanggaran Yg Di Lakukan Ummat.
    Maka Kita Tetap Istiqomah Dan Wajib Taat Kepada Seorang Kholifah Selama Kita Selaku Ummat Di Bawah Kewangan nya KITA TIDAK BOLEH MEMBELOT SEDIKIT PUN JIKA KITA DI PERINTAH UNTUK BERMAKSIAT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA!!!

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اسْتُخْلِفَ خَلِيفَةٌ إِلاّّ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ

    Dari Abu Said al Hudri, dari nabi SAW. “Tidaklah seorang khalifah diangkat melainkan ia mempunyai dua teman setia. Teman setia yang menyuruh dengan kebaikan dan teman setia yang menyuruh dengan keburukan dan menganjurkannya. Orang yang terpelihara adalah ia yang dipelihara Allah.” [7] (Shahih Bukhari, No. 6611. Sunan Tirmidzi, No. 2474)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here