Makna Syukur Menurut Imam al-Qusyairi

1
235

BincangSyariah.Com – Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tidak bisa dilepaskan dari perasaan gelisah, atau kemurungan dalam hidupnya. Setiap orang yang menerima musibah dan cobaan dalam hidup terkadang merasa dirinya gagal dalam seluruh aspek kehidupan. Entah itu berhubungan dengan karir, ekonomi ataupun berkaitan dengan yang bersifat material lainnya.

Penulis sendiri beberapa kali mendengar kisah beberapa orang teman yang bisa dikatakan sempat merasakan frustasi dan terus mengalami kegagalan dari apa yang diinginkannya. Lantas dia bertanya, apa sebenarnya yang selama ini membuat saya gagal. Bagi saya ini pertanyaan yang cukup tidak bisa dijawab dengan sebuah nasihat/advices. Karena bisa jadi kita tidak tahu apa yang sebenarnnya dialami dirinya.

Barangkali di sini, penulis bisa mengutip beberapa perkataan Imam al-Qusyairi di dalam kitabnya ar-Risalah al-Qusyairiyah. Di salah satu bab tentang syukur, al-Qusyairi menerangkan bahwa sifat dan rasya syukur merupakan salah satu adab dan etika seorang hamba kepada Tuhan-nya. Di dalam al-Quran dan beberapa penceramah sering mengutip tentang anjuran bersyukur. Jika kamu bersyukur, niscaya akan aku tambahkan kepadamu (nikmat-nikmat-Ku). (QS. Ibrahim:7).

Dalam menjelaskan makna syukur tersebut, Imam al-Qusyairi mengutip sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Atha Ra. Pada satu ketika Atha’ mendatangi Aisya Ra yang kebetulan waktu itu bersama dengan Ubaid bin Umair.

Lalu Atha meminta pendapat kepada keduanya:

“Beritahukanlah kepadaku hal apa yang paling menakjubkan yang kalian berdua lihat dari Rasulullah Saw?”, tanya Atha.

Mendengar pertanyaan itu, Aisyah Ra menangis dan kemudian berkata, “hal apa yang tidak luar biasa pada diri Rasulullah Saw? “bahwa pada satu malam Rasulullah Saw mendatangi lalu duduk dihamparan kasur, di dalam riwayat lain disebutkan berada di dalam penutup selimutku sehingga menyentuh kulitku. Lalu ia berkata:

“Ya putri Abu Bakar, sudikah kau biar aku sejenak beribadah kepada Tuhanku.”

Lantas aku berkata, “wahai Nabi, sungguh aku itu lebih senang untuk berdekatan bersamamu.”

Akhirnya Nabi melanjutkan solatnya, kemudian ruku lalu menangis, kemudian sujud lalu kembali menangis. Kejadian seperti ini berlangsung hingga Bilal Adzan Solat Subuh. Di tengah keadaan seperti itu, lantas Aisya Ra bertanya kepada Nabi. “Apa yang mebuat anda menangis ya Rasulullah.. Bukankah kamu telah dijamin bahwa segala dosamu akan diampuni baik yang telah lampau maupun yang akan datang’.

Lalu, Nabi Muhammad Saw menjawab: “Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur”, tegas Nabi.

Dari kisah di atas, Imam al-Qusyairi memakni hakikat Syukur-sebagaimana ia mengutip gurunya-, adalah mengakui adanya nikmat Tuhan yang dianugerahkan sebagai bentuk ketundukan. Dan dari sini Allah Swt disifati dengan sifat Syakur, Yang Maha memberikan nikmat syukur kepada Hamba-Nya, atau memberikan ganjaran kepada Hamba yang bersyukur.

Lebih jauh, ternyata nikmat syukur ini tidak hanya diimplementasikan dengan ucapan. Karena selain ucapan seyogyanya seseorang juga mengakui di dalam hatinya atas segala nikmat Tuhan kepadanya. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Al-Qusyairi menyampaikan dua pemaknaan terhadap ayat di atas. Makna pertama sesuai dengan apa yang diterangkan al-Thabari yaitu barat dan timur dalam kondisi dua musim. Yang berarti dijalankannya matahari dengan keteraturan yang presisi menjadi kenikmatan tak terhingga bagi seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Kedua, kata al-Qusyairi, dapat dimaknai dengan cahaya dan kegelapan hati, tempat terbit dan terbenamnya hati. Keduanya terus berjalan dalam hati setiap manusia. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here