Makna Kesempurnaan Puasa Menurut Imam al-Ghazali

0
1110

BincangSyariah.Com- Puasa merupakan suatu kewajiban yang secara langsung dititahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman yang termuat dalam Q.S Al Baqarah [2]: 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa puasa sendiri adalah menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan intim suami istri di siang hari Bulan Ramadhan. Tetapi menurut Imam Al Ghazali  bahwa puasa tidak cukup hanya dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri saja. Lebih daripada itu, orang yang berpuasa juga harus memperhatikan kesempurnaan puasanya. Jika tidak sempurna pusanya maka akan dikhawatirkan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa hanyalah lapar dan haus saja. Kekhawatiran beliau ini bersandarkan kepada hadist Nabi yang diriwatakan Imam Ahmad dam kitab Musnad Ahmad yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيِامِهِ إِلَّا الجُوْعَ

 “Dari Abi Hurairah ia berkata, telah bersabda Rasulullah SA: Banyak dari orang yang berpuasa, tiadalah yang didapatkan dari puasanya itu kecuali kelaparan.”  (H.R Ahmad).

Hadis yang semakna juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam  kitab Shahih ibnu Khuzaimah yang diriwayatkan juga dari Abu Hurairah RA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : رُبَّ صَائِمٍ حَظَّهُ مِنْ صِيِامِهِ الجُوْعَ وَ العَطْشَ

“Dari Abi Hurairah, dia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi bahagian yang dia dapatkan dari puasanya tersebut hanyalah lapar dan haus saja” (H.R Ibnu Khuzaimah)

Baca Juga :  Pandangan Prof. Quraish Shihab tentang Khataman Al-Qur'an

Dalam hadis diatas telah dijelaskan bahwa memang banyak orang yang berpuasa tetapi yang mereka dapatkan dari puasa tersebut hanyalah lapar dan haus saja. Oleh karena itu Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tidaklah cukup bagi orang yang berpuasa hanya menahan dirinya dari makan, minum, dan jima’ semata, tetapi juga harus memperhatikan hal-hal yang bisa merusak kesempurnaan puasa.

Lantas, bagaimanakah makna kesempurnaan puasa menurut Imam al-Ghazali? Dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kesempurnaan puasa yang akan didapat oleh orang yang berpuasa selain menahan diri mereka dari makan. minum, dan jima’ adalah juga dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah SWT. Seperti memelihara pandangan, memelihara telinga, memelihara lidah, memelihara tangan dan kaki, serta memelihara perut dari perkara perkara yang dimurkai oleh Alla SWT. Kemudian dalam kitab Imam Al Ghazali lainnya yang berjudul Ihya’ Ulumuddin, Imam Al Ghazali mengajarkan kita cara-cara memelihara anggota tubuh dari perkara-perkarayang bisa mendatangkan murka Allah:

  1. Menjaga mata/pandangan. Adapun cara menjaga mata menurut Imam Al Ghazali adalah dengan cara menundukkan pandangan terhadap perkara yang tercela dan yang dimurkai oleh Allah. Begitu juga menahan pandangan yang bisa menyibukkan hati sehingga melalaikan dari berzikir kepada Allah SWT.
  2. Menjaga Lisan/Lidah. Cara menjaganya menurut Iman Al Ghazali adalah dengan menahan lidah dari dusta, Ghibah, adu domba, ucapan kotor, perkataan yang tak berguna, perseteruan, dan berbantah-bantan. Imam Al Ghazali mengatakan “sebaiknya adalah dengan memperbanyak diam, zikir dan membaca Al Qur’an”
  3. Pendengaran. Cara menjaganya adalah dengan menahan dari perkara-perkara yang dicela ketika diengarkan. Adapun perkara yang tercela untuk didengarkan menurut Imam al Ghazali adalah perkara yang tercela/dilarang untuk diucapkan. Maka perkara yang tercela ketika diucapkan, maka tercela juga untuk didengarkan.
  4. Menahan anggota lain seperti tangan, kaki dari perkara yang diharamkan. Begitu juga dengan perut, harus menjaganya dari makanan yang Syubuhat ketika berbuka.
  5. Tidak berlebih-lebihan ketika berbuka sekalipun makanan yang dimakan tersebut adalah makanan yang halal. Kata Imam Al Ghazali “memenuhi perut dengan makanan adalah perkara yang sangat dibenci oleh Allah sekalipun dari makanan yang halal.”
Baca Juga :  Hikmah Pagi: Malu Mendatangkan Kebaikan

Dalam hal ini, jelaslah menurut Imam al-Ghazali bahwa orang yang berpuasa tidak hanya menahan diri mereka dari makan, minum, dan hubungan biologis suami istri semata. Tetapi mereka juga harus menahan anggota tubuh mereka lainnya dari perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah SWT sehingga dalam menjalankan puasa, yang didapat bukanlah haus dan lapar semata, melainkan balasan dari Allah sendiri yang nilainya tidak ada yang megetahuinya. Sebagaimana Hadist yang Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim yang diriwayatkan dari Abi Hurairah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Dari Abi Hurairah, ia berkata, telah bersada Rasulullah SAW: tiap amalan anak adam akan dilipat gandakan sepuluh kebaikan semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat. Berfirman Allah Ta’la kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang yang akan membalasnya” (H.R Muslim)

Oleh karena itu marilah kita menjalankan ibadah puasa kita dengan sesempurna mungkin, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa sebagaimana yang dicantumkan oleh Allah dalam Q.S Al Baqarah [2]: 183. Wa Allahu Subhanhu Wa Ta’ala A’lam..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here